Saya Muslim dan Memaafkan Ahok

Oleh : Febri Hijroh Mukhlis

Berulang kali saya dengar jerit ketulusan seorang Ahok, dalam suara dan ekspresi keseriusan. Dalam berbagai kesempatan Ahok meminta maaf atas ucapanya yang menyinggung umat Islam. Hampir setiap momentum proses pilkada ia gunakan sebagai wujud ketulusan atas kesalahan yang telah diperbuat.

Atas kasus penistaan agama yang menimpanya, Ahok kemudian belajar banyak hal. Pertama, ia pejabat publik yang setiap kata-kata, sikapnya diperhatikan semua orang. Kedua, ia menyadari gaya ceplas-ceplosnya banyak menuai kritik. Ketiga, ia sebagai pejabat publik mesti mencontohkan kebijaksanaan, dari itu Ahok telah bercermin diri.

Melalui kasus yang ia jalani sekarang, Ahok benar-benar melakukan reformasi diri. Cara ujaran, gaya kebijakan, ia berjanji akan berubah. Pelajaran bagi dirinya bahwa publik tetap simpatik atas kerja kerasnya, namun kepublikan pribadinya mesti menjadi perhatian khusus untuk konsumsi publik.

Saya sering mendengar melalui media televisi. Dalam berbagai kesempatan kampanye, debat, ia meminta maaf dengan ketulusan dan ketundukan. Permintaan maaf Ahok ini bukan modal kampanye. Benar-benar sebuah ketulusan. Mendengar ketulusan dari kelembutan suara jelas Ahok merasa telah membuat suasana menjadi gaduh, meski tanpa ada niat sedikitpun.

Sayangnya sampai sekarang saya belum mendengar langsung jika permintaan maaf Ahok diterima. Terutama dari mereka (muslim) yang mengatasnamakan diri sebagai pengawal fatwa maupun dari pembuat fatwa.

Melalui tulisan singkat ini saya mengajak mengetuk pintu hati kita untuk mengatakan, “saya muslim, saya memaafkan Ahok”. Saya meyakini ketulusan diri seorang Ahok. Beberapa kali ia meminta maaf, belum ada penerimaan maaf untuknya.

Saya meyakini jika muslim itu pemaaf. Nabi Muhammad itu pemaaf. Kepada kaum yahudi dan nasrani Nabi bersikap ramah. Nabi dicaci, diludahi, Nabi membalasnya dengan kesantunan. Nabi dengan mudah memaafkan.

Follow Qureta Now!

Cara Nabi bersikap santun dan bijaksana demikian adalah proses dakwah yang hakikat. Bukan menghukumi, tapi saling memaafkan. Cara santun inilah yang meluluhkan hati sehingga banyak orang yang bersyahadat menjadi muslim.

Jika Nabi tidak pemaaf tidak akan Islam bisa berkembang. Jika Nabi mengkafirkan, itu sesat, sana kafir, maka hanya Nabi yang Islam. Karena misi nabi itu mengajak maka Nabi mencontohkan tatakrama santun dalam ber-Islam. Dan itulah daya tarik Islam yang mampu mencairkan batu ketundukan kepada berhala-berhala duniawi.

Bila bicara soal sunnah Nabi yang wajib diikuti, maka “memaafkan” adalah sunnah Nabi. Memaafkan adalah ajaran, pelajarannya dengan memaafkan banyak orang yang berkiblat kepada Nabi. Begitu saya kira menyikapi Ahok, maafkan Ahok, pelajaran baik akan kita petik bersama dengan buah kebaikan untuk Indonesia yang bhineka.

Memaafkan adalah tindakan yang mulia. Saya percaya umat Islam menjunjung budaya saling memaafkan. Apalagi kepada sesama. Sebagaimana kata “Islam” yang damai. Begitu pula memaafkan adalah jalan damai menuju kehidupan harmoni kebersamaan.

Al-Qur’an menegaskan bahwa salah satu tanda taqwa seseorang karena ia pemberi maaf kepada orang lain. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”  (QS. Al-Imran: 133-134)

Melalui ayat yang lain, “Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”  (QS. Al-A'raf : 199)

Bahkan memaafkan dijelaskan lebih baik dari sedekah,  “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah : 263)

Allah Sang Pemaaf, itu yang dikenal muslim seluruh dunia. Siapa yang hendak mendustakan ayat-ayat al-Qur’an, jika ternyata memaafkan adalah hal yang diutamakan. Memaafkan adalah salah satu bentuk ibadah ketulusan, yang turun langsung dari ajaran al-Qur’an sekaligus dicontohkan oleh Nabi Muhammad.

“Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Kuasa.” (QS. An-Nisa : 149)

Sebagai refleksi akhir tahun, menjelang momentum pergantian tahun. Jadikan saling memaafkan sebagai resolusi untuk kehidupan bersaudara yang baik. Apalagi bangsa Indonesia adalah bangsa dengan keragaman agama, budaya dan suku. Menjadikan persaudaraan dengan saling memaafkan adalah keniscayaan sikap.

Saya mengajak mengawali tahun 2017 dengan membuka lembaran baru. Mari saling memaafkan. Maafkan saya jika ada ujaran makna yang melecehkan. Semoga tahun 2017 kita hidup dalam titik harmoni, berupa keadilan, toleransi, dan kerukunan.

Semoga Indonesia menjadi bangsa kuat, maju, berkeadaban. Visi pancasila benar-benar terwujud dalam cita-citanya dalam berketuhanan yang berkebudayaan, membangun kemanusiaan yang adil dan beradab. Kebangsaan Indonesia. Demokrasi permusyawaratan. Dan keadilan sosial yang merata.**

Sumber : Qureta.com

Friday, January 6, 2017 - 20:15
Kategori Rubrik: