Saya Membaca Al Qur'an Setiap Hari

ilustrasi

Oleh : Satria Dharma

Seorang teman berkata, “Saya membaca Al-Qur’an setiap hari. Saya usahakan satu juz sehari.” tambahnya.
“Apakah kamu membaca terjemahannya juga?” tanya saya.
“Tidak sempat,” jawabnya sambil tersenyum.
“Kalau begitu sebenarnya KAMU BELUM MEMBACA…” kata saya sambil tersenyum juga. “Kamu hanya MELAFALKAN Al-Qur’an. You only RECITE. You don’t READ.”

Melafalkan huruf, kata, atau pun kalimat bukanlah membaca. Membaca adalah aktifitas yang melibatkan otak. Membaca adalah aktifitas utk mendapatkan makna. Membaca tanpa memahami makna bukanlah membaca.
Menurut saya membaca ayat-ayat Al-Qur’an tanpa memahami arti atau maknanya BELUM termasuk dalam kategori MEMBACA. Itu baru masuk dalam kategori melafalkan (dan atau melagukan) Al-Qur’an. Kita menyebutnya NGAJI atau NDERES (meski mengkaji sendiri punya makna meneliti)
Tapi, tentu saja…
Melafalkan Al-Qur’an, melagukannya dengan indah, dan bahkan mendengarkan tilawah adalah perbuatan yg dianjurkan oleh Rasulullah. Ada pahala utk setiap perbuatan tsb. Meskipun demikian, Kegiatan yg berpahala tersebut BUKANLAH termasuk kegiatan MEMBACA. Itu belumlah bisa disebut sebagai IQRA.

Salah seorang tante saya almarhum, yang bernama Siti Aisyah (atau sering kami panggil dengan ‘Tante Isa’) adalah satu-satunya tante kami yang tidak bersekolah. Meski demikian beliau tidaklah buta huruf. Beliau bisa mengaji karena bisa membaca huruf hijaiyah. Tapi beliau memang tidak bisa membaca huruf latin karena tidak bersekolah. Dulu beliau pernah bersekolah entah sampai kelas berapa tapi kemudian karena ada persoalan apa akhirnya menolak untuk bersekolah. Beliau keluar dari sekolah sebelum mampu membaca. Pada waktu itu kakek dan nenek kami tidak memaksanya untuk meneruskan sekolah. Entah apa pertimbangannya. Tapi mereka tetap meminta tante Isa untuk belajar mengaji di rumah.
Karena tante Isa tidak bersekolah dan tidak belajar membaca huruf Latin maka boleh dikata beliau sebenarnya itu ‘unlearned’ alias tidak memiliki pengetahuan meski bisa mengaji. Karena beliau bisa membaca Alquran maka satu-satunya bacaan beliau adalah Alquranul Karim yang terus menerus dibacanya. Begitu khatam beliau membacanya lagi dari awal sampai khatam dan diulanginya lagi. Entah sudah berapa ratus kali beliau khatam Alquran karena rajinnya beliau mengaji. Tak ada saudaranya, apalagi keponakannya, yang mampu mengalahkan beliau dalam soal mengkhatamkan Alquran. Semoga amalannya ini akan mengantarkan beliau ke sorga. Amin!

Apakah dengan mengkhatamkan Alquran ratusan kali maka Tante Isa memahami isi Alquran? Tentu saja tidak. Apakah dengan mengkhatamkan Alquran jauh lebih banyak daripada siapa pun di keluarga kami maka beliau adalah orang yang paling paham tentang isi Alquran? Juga tidak. Beliau sebenarnya bukanlah ‘membaca’ tapi beliau sekedar ‘mengaji’ alias melafalkan huruf Alquran. Meski pun beliau mengaji Alquran ratusan kali tapi beliau tetap tidak paham apa sebenarnya makna dari ayat-ayat yang beliau baca dengan sangat rajin tersebut. Mengaji sampai ratusan kali Alquran tanpa dibarengi dengan membaca terjemahannya atau tafsirnya tetap tidak akan membuat seseorang akan mendapatkan pengetahuan. Kegiatan membaca HARUSLAH membuat seseorang berubah dari TIDAK TAHU MENJADI TAHU.

Ayat ke lima dari surat Al-Alaq yang berbunyi ‘Allamal insaana maalam ya’lam’ yang artinya ‘Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.’ Yang maknanya Tuhan akan membuat manusia menjadi tahu dari semula tidak tahu dengan kegiatan membaca tersebut. Jadi tujuan membaca itu sebenarnya adalah untuk membuat manusia berubah dari keadaan awalnya yang TIDAK TAHU MENJADI TAHU alias TO LEARN.

Saya rasa ini sudah sunnatullah. Seperti yang selalu saya katakan bahwa mengaji tanpa memahami arti dari ayat yang dibaca itu bukanlah iqra atau membaca. Dalam bahasa Inggris itu namanya ‘reciting’ dan bukan ‘reading’. Melafalkan huruf, kata, atau pun kalimat bukanlah membaca. Membaca adalah aktifitas utk mendapatkan makna. Membaca tanpa makna bukanlah membaca. Jadi, membaca ayat-ayat Al-Qur’an tanpa memahami arti atau maknanya BELUM termasuk dalam kategori MEMBACA. Itu baru masuk dalam kategori melafalkan (dan atau melagukan) Al-Qur’an.

Sampai saat ini sebagian umat Islam masih juga belum memahami betapa pentingnya mereka memahami isi dari Alquran dengan membaca terjemahan dan tafsirnya. Umat Islam umumnya hanya melafalkan dan menghapal ayat-ayat tanpa pernah merasa perlu memahami arti dan maknanya.

Bayangkan betapa ironisnya jika kita membaca sebuah buku ratusan kali selama hidup kita dan bahkan kita hapal sebagian dari isi buku tersebut tapi kita sama sekali tidak paham apa isi atau makna dari buku yang kita baca dan hapalkan tersebut…!  Dan itulah gambaran dari mayoritas umat Islam saat ini. Tante saya tentu saja tidak bisa mengelak dari kondisi yang dimilikinya karena ia tidak bisa membaca terjemahan atau tafsir dari ayat-ayat suci yang ia baca dengan tekunnya tersebut. Tapi kita yang makan sekolahan tentulah bisa melakukan upaya untuk memahami Alquran dengan lebih baik daripada tante saya tersebut. Jadi bukan sekedar nderes ‘One Day One Juz’ tapi juga berupaya untuk membaca dan memahami arti dari ayat yang kit abaca.

Kita perlu memahami perintah ‘Íqra’ dalam Al-Qurán sebagai perintah untuk membaca bukanlah sekadar melafalkan atau membunyikan ayat-ayat Al-Qur’an. Al-Qur’an itu adalah wahyu dari Allah yang memiliki sangat banyak pelajaran dan hikmah hanya jika kita memahami artinya. Al-Qur’an itu bukan sekedar bunyi atau lafadz yang kita suarakan. Al-Qur’an mengandung ilmu yang harus kita pelajari maknanya dan bukan sekedar bunyi yang kita ucapkan.

Kita saat ini mengalami kemunduran yang luar biasa justru karena meninggalkan membaca dengan pemahaman tersebut. Kita tidak lagi memahami makna ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an karena kita menganggap membaca Al-Qur’an adalah membunyikan hurufnya tanpa perlu memahami artinya, apalagi mendalami maknanya. Setiap tahun kita mengadakan lomba MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) yang sebenarnya adalah LOMBA KEMERDUAN SUARA meski yang disuarakan atau dilagukan adalah ayat-ayat Al-Qur’an. Mengapa tidak mengadakan lomba pemahaman makna Al-Qur’an?

Dalam setiap presentasi saya tentang Budaya Literasi saya selalu menampilkan lima ayat pertama dari Al-Alaq yang turun sebagai Perintah Pertama dan Utama dari Tuhan, yaitu perintah untuk membaca (Iqra’). Dalam presentasi saya tersebut selalu saya tekankan bahwa tujuan dari Iqra’ seperti yang diperintahkan oleh Tuhan kepada umat Islam adalah agar ‘MAA LAM YA’LAM’ dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak berilmu pengetahuan menjadi berilmu pengetahuan. Jadi tujuan membaca itu adalah agar kita, sebagai insan, mendapatkan pemahaman, to achieve meaning and comprehension. Jadi dalam membaca Alquran itu kita juga harus mendapatkan pemahaman tentang isi kitab suci tersebut dan bukan sekedar untuk mendapatkan ketenangan hati.

Wallahu a’lam bis showab

Sumber : Status Facebook Satria Dharma

Thursday, May 21, 2020 - 23:45
Kategori Rubrik: