Saya Majikannya Presiden?

Oleh: Sahat Siagian

 

Ya. Tapi hanya untuk 5 menit di bilik suara. Kita memilih siapa yang kelak memimpin negeri ini buat 5 tahun berikutnya. 

Setelah pemilu, setelah pemenang ditetapkan, setelah presiden untuk masa jabatan berikutnya dilantik, dialah boss kita. 

 

Pemilu adalah sebuah proses untuk memilih siapa yang jadi pemimpin. Itu sebentuk pernyataan singkat dan benderang, yang berbunyi: saya memilih saudara untuk memimpin saya selama 5 tahun ke depan. 

Karena kita memilih untuk dipimpin, maka status sebagai majikan tanggal selepas keluar dari bilik suara. Selanjutnya kita tunjukkan kesediaan untuk dipimpin. 

Maka, saat dipanggil ke istana atau tempat lain untuk menghadap presiden, kita harus datang. Yang memanggil adalah pemimpin, kita adalah yang dipimpin. Itu hakekat bernegara-republik.

Itu rupanya yang bikin saya dilanda sakit perut hebat saat mendengar seseorang berceloteh genit bahwa ia adalah majikan presiden sehingga tak pernah mau dipanggil datang ke istana. 

Kemungkinannya cuma 3: dia mabuk, atau sakit ingatan, atau guoblog gak ketulungan. Tak heran kalau Dulcolax pun tak mempan. Saya mencret berkepanjangan. 

Meski Anda tidak memilih Jokowi dalam pemilu, Anda layak menuruti perintahnya setelah dia dilantik. Boleh saja Anda tidak datang, tapi itu bukan karena Anda adalah majikannya. 

Bolehkah rakyat memberhentikan seorang presiden? Tidak boleh, selama sang presiden tidak tersangkut perkara pidana atau melanggar hukum tata negara, yang vonisnya sudah ditetapkan secara mengikat oleh pengadilan. 

Bolehkah polisi menghalau para pendemo yang memaksa masuk ke istana untuk menggulingkan presiden? Bukan hanya boleh, polisi bahkan harus mengusir mereka. Jika mengacau, ketentuan tembak di tempat pun bisa digunakan.

Permohonan saya kepada Tito Karnavian: jadikanlah ini negara tertib hukum. Usir mereka, yang demo tapi ndobos. Halau mereka yang memaksa gereja atau pura ditutup. Libas mereka yang memaksa rumah makan tak berjualan selama waktu puasa. 

Comot mereka yang bercuap-cuap provokatif. Saatnya bertindak tegas.

 

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Wednesday, May 8, 2019 - 00:00
Kategori Rubrik: