Saya Bersama dr Terawan

ilustrasi

Oleh : Andi Setiono Mangoenprasodjo

Banyak teman saya, yang saya anggap cukup intelek, mengejek dan jadi parno hanya karena cara berkomunikasi Menkes RI. Mungkin mau mereka, Terawan bergaya seperti almarhum Gogon, yang macak serius tapi sebenarnya ngehek dan kemeplak. Kemeplak, pengen dikeplak, atau butuh digampar. Lalu mau mereka ini, Menkes-nya harus segera diganti. Tanpa mikir, bahwa resuffle di masa2 seperti ini, alih2 menyelesikan masalah. Justru menambah runyam dan bagian terburuknya adalah memperburuk citra Indonesia tidak saja di dalam negeri namun jelas di mata dunia. Siapa yang bersorak: pertama tentu saja WHO, yang sesungguhnya tak lebih perpanjangan tangan Amerika itu. Lembaga ini seolah menjadi pemegang otoritas yang berhak mengatur ini-itu kondisi kedaruratan di dalam negeri suatu negara. Jangan lupa, lembaga inilah yang pertama melansir "fitnah busuk" bahwa awal mula virus Covid-19 berasal dari makanan berbahan kelelawar yang dipasarkan di Wuhan, Tiongkok. Tuduhan serius yag kemudian terbantahkan, tentu berkat kemajuan teknologi yang dengan mudah menelusri siapa penderita pertama di kota itu. Yang ternyata super-spreader-nya adalah Tim Tentara dari Amerika yang ikut dalam sebuah invitasi adu ketangkasan di bidang militer. Seburuk2 Tiongkok, mungkin ia masih bersikap Timur yang luhur itu. Tidak mau tunjuk hidung menganggap bahwa AS telah melancarkan perang terbuka dengan senjata biologis-nya. Mereka memilih mengatasi masalah dengan cara mereka sendiri dan sukses....

Di dalam negeri sendiri, nyaris setiap kepala menunjukan identitas aslinya. Sedemikian takut mati, sehingga butuh kambing hitam. Dan kambing hitam paling gampang tentu kedua figur ini: Jokowi sebagai presiden dan Dr. Terawan sebagai Menkes-nya.

Lalu kenapa saya memilih membela Dr. Terawan.

Di luar saya juga besar di lingkungan kesehatan militer, tentu saya punya alasan yang saya anggap bisa lebih mudah dipahami dan dimengerti publik yang mau bersikap sabar dan bijak. Dimana seolah dunia terbalik, bagi sebagian besar justru sikap tenang dan arif itu jadi masalah! Ketenangan sebagaimana yang ditunjukkan Dr. Terawan justru dibaca secara salah sebagai bentuk kebohongan. Blaik!

Permasalahan dasar Dr. Terawan adalah ia memiliki keyakinan bahwa Corona adalah penyakit yang bisa sembuh secara alamiah. Dan ia menganjurkan warga agar tak terdampak harus “meningkatkan imunitas” karena kalau “kuat maka virus Corona tidak akan masuk”. Namun beberapa masalah justru timbul dari sini. Bagi saya statements seperti ini sangat biasa didengar. Ayah saya walau seorang farmakolog, tapi setiap anggota keluarganya sakit. Boro-boroo ngasih obat, yang diyakininya sebagai racun itu. Kimia maupun herbal sesungguhnya sama saja. Ia hanya berujar untuk makan yang banyak, istirahat yang cukup, dan jangan banyak pikiran. Tanpa obat sama sekali. Sugesti seperti inilah yang justru lebih menyembuhkan. Karena, sebagaimana umumnya keluarga di lingkungan militer umumnya kami sudah bergaya hidup sehat. OK itu dulu, entah sekarang ketika tentara sudah semkin makmur dan berkelebihan. Di zaman dulu, hidup prihatin dan bersahaja, justru jauh lebih menyelamatkan!

Dan menurut saya di sinilah justru persoalan terbesarnya! Justru ada kesadaran dan (barangkali) kejujuran dari dalam diri mereka bahwa gaya hidup sebagian besar masyarakat sudah lama tidak sehat. Ini mencakup semua kelas yang paranoid. Tidak sekedar secara anatomis, tetapi terutama secara psikis. Terlalu besar jumlah kelas menengah, yang hidupnya sudah dipenuhi rencana2 yang melampaui usianya. Tidak sekedar satu dua, tapi mungkin belasan bahkan puluhan rencana. Menjadi kesuksesan ibu dari semua tujuan. Harus ini itu, mau begini begitu. Sesuatu yang tidak saja membuat mereka terbebani dengan banyak pekerjaan rumah, tetapi juga terutama hutang-hutang. Natura dan in-natura. Dan sialnya di kalangan bawah, gaya hidup seperti ini seolah menjadi panutan. Belum lagi (nyampe), tapi sudah jauh melampaui kapasitas.....

Gaya hidup mudah panik, gumunan, kagetan. Sesuatu yang semesetinya ranah orang desa. Tetapi justru menjadi life style kampungan orang kota. Akibatnya muncul masyarakat latah: yang hanya (selalu) menyeru dengan cara berpikir dan solusi instant. Dan dalam kasus pandemi ini: lock-down. Tanpa mau berpikir bagaimana dampaknya bila itu dilakukan. OK, sudah ada kepala daerah yang melakukannya? Tapi itu hanya sekedar menyenangkan sebagian rakyatnya, dibandingkan pertimbangan2 yang lebih jauh dan bijak. Tapi kuat seberapa lama? Kalau dipakai logika sebaliknya: kalau diberlakukan lock-down, toh juga akan banyak yang melakukan pembangkangan. tetap membuka pintu-pintu keluar masuk jalan tikus secara bebas. Kita manusia yang terlanjur hidup di alam kebebasan dan demokrasi. Lalu nanti pemerintah disalahkan lagi atas dasar HAM.

Membuktikan hipotesis dasar: watak kita memang mudah menyalahkan tanpa memberi solusi!

Tesis yang ingin saya angkat adalah pilihan atas Terawan sebagi Menkes itu pada dasarnya mengantisipasi kondisi yang terjadi pada hari2 ini. Secara pribadi dan prestasi, ia adalah dokter yang berani melawan arus. Metodenya terbukti sukses menyembuhkan banyak orang, walau dihina sebagai cara2 yang bukan medis. Ia sebagaimana juga Jokowi, terbiasa direndahkan dan dikucilkan. Tapi ia tetap tegar dan jalan terus. Di luar itu realitas bahwa pandemi ini bukan datang tiba2 begitu saja, tapi sudah dirancang di jauh hari oleh elite global (siapa pun keparatnya itu). Setelah perang dagang yang tak kunjung membaik, perang apalagi yang dinantikan? Perang militer terlalu mahal, dan tidak ada yang diuntungkan dari sini. Maka membuat pandemi adalah solusinya. Terawan adalah salah satu manusia Indonesia yang paling tahu dan memiliki data sahih: kapan pandemi ini dimulai, sebarapa lama, dan tentu saja kapan berakhirnya. Mengeyahkannya sama saja memberi kekalahan beruntun bagi bangsa ini. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga!

Kalau hari2 ini, kita seolah bersandiwara dan tidak mau tahu. mereka hanya melihat pandemi ini melulu sebagai wabah, mereka tidak mau tahu kita dalam suasana darurat masa perang. Pilihannya kalau bukan saking dongoknya, ya barangkali cuma pura-pura gak mau tahu, tipical gaya brengsek sebagai salah satu bagian dari proxy yang menanti durian runtuh, dan akan menunggu meraih untung! Dan yang ingin mengambil keuntungan dari momentum ini sangat banyak, terutama para oportunis politik maupun agama. Manusia2 laknat yang tanpa malu bersorak sorai di atas penderitaan orang lain. Dan itu jumlahnya tak terkira. Sungguh tak terkira....

Fenomena Ini memang ujian dan serius, tapi bukan berarti tanpa ujung dan solusi. Bukan hal yang sama sekali baru, walau gaya dan polanya memang bisa jadi "sangat baru". Memanfaatkan kelemahan kelas menengah dan fragile-nya teknologi informasi digital.

Kita hanya harus bersabar dan arif untuk melewatinya. Bersama kita membeli waktu, kita lewati medan perang ini....

Sumber : Status facebook Andi Setiono Mangoenprasodjo

Monday, March 30, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: