Saya Alumni 212

ilustrasi

Oleh : Moch Syarif Hidayatullah

Saya tak pernah menyembunyikan fakta bahwa saya alumni 212. Foto dan status saya yang berhubungan dengan itu pun seingat saya tak ada yang saya hapus.

Saya juga terima-terima saja kalau diledek sebagai alumni Monas Univesity. Karena memang saya pernah menjadi bagian itu dan sampai hari ini pun saya bangga ikut serta dalam kegiatan itu.

Bahwa saya saat itu dengan sadar mengikuti kegiatan itu, itu fakta. Insya Allah saya tak terlalu bodoh untuk melakukan itu tanpa alasan. Saya punya alasan dan argumen sesuai konteks saat itu. Setidaknya berdasarkan ijtihad yang saya pilih saat itu.

Namun, ketika kemudian saya meyakini ada aktor politik dan tiba-tiba saya juga membaca gelagat ada orang-orang yang memanfaatkan gerakan itu untuk kepentingan pribadi dan golongannya, maka sejak saat itu saya memilih tak mau lagi ikut-ikut kegiatan sejenis itu, termasuk reuni-reuni setelahnya.

Nah, ketika saya akhirnya memutuskan untuk tidak lagi terlibat dalam kegiatan seperti itu, tentu insya Allah saya tak terlalu bodoh untuk hanya sekadar ikut-ikutan atau saya memutuskannya dengan asal-asalan tanpa argumen yang matang.

Saya pasti sudah melakukan penelusuran, tabayyun, dan mencari informasi sungguh-sungguh mengenai hal itu. Dan, ijtihad saya pun berubah setelahnya.

Dalam hati saya berpikir, kalau Imam Syafi’i saja punya qaul qadim dan qaul jadid, maka saya pun harusnya punya hak yang sama.

Nah, bagi Anda yang menganggap perubahan sikap itu sebagai ketidakkonsistenan, silakan belajar pada Imam Syafi’i agar Anda tak gegabah menjadi hakim bagi orang lain, tanpa paham persoalannya.

Memang memahami perubahan sikap seseorang butuh kedewasaan, kematangan, wawasan, dan kebijaksanaan. Ia tak semudah mengubah kafara-yukaffiru-kufran menjadi kafara-yakfuru-kufran atau kaffara-yukaffiru-takfiran.

Sumber : Status Facebook Moch Syarif Hidayatullah, alumni 212 blok depan Sarinah Thamrin

Catatan: 
(1) Sengaja saya share tulisan ini sekarang, bukan pada musim-musim reuni, biar yang baca bisa membacanya dengan kepala dingin, tidak emosional.

Sunday, April 7, 2019 - 12:45
Kategori Rubrik: