Saya Akan Mengajari Anak Saya Menyapu Lebih Jauh

ilustrasi

Oleh : Herry Tjahjono

Entah kenapa tiba-tiba muncul sebuah kilas balik dalam benak saya. Demikian jelas, sebuah kejadian ketika suatu saat saya ke Malang untuk menengok ibu saya.

Saya menginap di rumah ibu saya, sebuah tempat di mana saya dulu sempat menghabiskan waktu saya bersama ayah, ibu dan adik-adik saya. Rumah ini lumayan, meski bukan rumah mewah – tapi setidaknya relatif lebih baik dari rumah kami di sebuah gang sempit sebelumnya.

Kami mulai tinggal di rumah itu tahun 1988, dan pada tahun 1989 ayah saya meninggal karena kecelakaan. Jadi sungguh singkat saya dan ayah saya tinggal di “rumah baru” itu. Dan satu kali ketika saya bangun tidur, menghirup udara pagi – saya sempat bertemu dengan beberapa tetangga rumah yang sudah sepuh, berumur. Mereka sedang mengobrol dengan ibu saya di depan rumah.

Kami mengobrol yang ringan-ringan. Tapi di tengah obrolan ringan itu, seorang ibu nyeletuk sesuatu yang “khusus” dan membuat saya terkesiap.
“Kulo niku mboten saged lali kale pak Adi “ katanya tiba-tiba. (Pak Adi itu nama almarhum ayah saya). Arti kalimat dalam bahasa Jawa itu :
“Saya itu tidak bisa lupa dengan pak Adi.”
“Kenapa bu ? “ tanya saya spontan, sembari menahan rindu yang tiba-tiba menyeruak pada ayah saya.
“Lha nggih, pak Adi niku lek nyapu injing kale sonten, saking pojok ndalan nganti pojok ndalan sing mriku. Ora mung nyapu dalan ngarep omahe dewe."
(Lha iya, pak Adi itu kalau menyapu jalan di pagi atau sore hari, mulai dari ujung jalan sampai ujung jalan lainnya. Tak hanya menyapu jalanan depan rumahnya saja).

Kali ini sebuah adegan menyergap benak saya begitu saja. Ya benar, dulu ayah saya setiap pagi sebelum berangkat kerja dan sore sepulang kerja selalu menyapu halaman rumah dan jalanan depan rumah. Namun dia punya kebiasaan “unik”. Dia tak hanya menyapu jalanan di depan rumah kami saja, dia akan menyapu dari ujung jalan sampai ujung jalan lainnya. Jadi dia menyapu jalanan depan rumah beberapa rumah tetangga sekaligus.

Nampaknya perilaku ayah saya itu tak pernah lenyap dari ingatan para tetangga kami yang sudah sepuh.
“Lha nggih mas Herry…pak Adi niku Cinten paling sae sing kulo nate tepang.”
(Lha iya mas Herry..pak Adi itu orang Cina paling baik yang pernah saya kenal).

Kali ini saya tercekat oleh rasa haru dan bangga. Saya masih ingat adegan demi adegan setiap hari ayah saya menyapu jalanan. Setiap kali saya “tegur” : Apakah harus seperti itu ? Apakah tidak membuatnya kelelahan ? Ayah saya hanya tersenyum. Dia hanya menjawab pelan :
“Menyapulah lebih jauh. Jangan menghitung kebaikanmu."

Sekarang saya sadar, warisan terbesar ayah saya bukanlah harta berlimpah – sebab sampai dia meninggal – kami masih harus membanting tulang untuk menopang keluarga, termasuk membiayai keempat adik saya yang masih kuliah dan sekolah.

Warisan ayah saya adalah sebuah kesadaran, atau nilai pada diri saya sampai sekarang : betapa menjadi "a man of value" jauh lebih berharga dari sekadar menjadi "a man of success".

Saya jadi merasakan betapa benarnya yang pernah dikatakan Albert Einstein : Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value. Ya, menjadi orang sukses mungkin berguna bagi diri sendiri dan keluarga. Tapi menjadi a man of value, akan bermakna bukan hanya bagi diri sendiri dan keluarga – tapi juga tetangga, RT, RW, masyarakat dan bahkan bangsa.

Apa yang dilakukan ayah saya itu mungkin hal kecil, bukan ukuran sukses jaman modern – melainkan ukuran nilai (kehidupan), ukuran makna (kehidupan). Muaranya, bagaimana kita menjadi manusia bermakna bagi orang lain dan kehidupan.
Itulah warisan terbesar ayah saya, mengajarkan sebuah kehidupan berdasarkan nilai, dan menjadi a man of value. Menjadi a man of value, membuatnya diingat oleh tetangga – bahkan ketika ia sudah lama meninggal.

Dia tentu tak bermaksud untuk diingat, dia hanya menjalankan nilai kehidupan yang diugeminya. Dengan menjalankan nilai hidupnya itu - dia menjadi orang yang baik, bahkan mungkin orang yang mulia. Sedangkan menjadi a man of success tidak menjamin seseorang menjadi orang yang baik, orang yang mulia.

Dengan menjadi a man of value, ayah saya menaklukkan status “minoritas ganda’nya. Label Cina dan Kristiani yang – sadar atau tidak – didiskriminasikan (bahkan sampai hari ini) menjadi sirna, larut oleh kebaikan dan kemuliaannya.

Para ibu tetangga sepuh itu bahkan menghormatinya. Hampir semua tetangga kami – termasuk di gang rumah kami yang lama – datang melayat mengantarkan jenazah ayah saya. Nyaris semuanya dengan isak tangis, dengan hormat, dengan rasa sayang melepasnya. Ayah saya bukan orang kaya, bukan orang terkenal, bukan pahlawan. Dia lelaki biasa, namun menjalani hidupnya penuh makna berdasarkan nilai-nilai kehidupan yang mulia.

Menyapulah lebih jauh….! Suara ayah saya begitu saja kembali mengiang di telinga saya.

“Saya akan belajar untuk menyapu lebih jauh dalam kehidupan saya. Saya akan mengajari anak-anak saya menyapu lebih jauh hidupnya. Terima kasih pa..” saya bergumam dalam hati.

Sumber : Status Facebook -herry tjahjono-

Saturday, June 6, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: