Save Petugas Medis Pematang Siantar

ilustrasi
Oleh : Karto Bugel
.
Kejadian hukum tak masuk akal kini terulang kembali. Pematang Siantar Sumatera Utara menjadi TKP atas peristiwa ini.
Empat petugas medis yang memandikan jenasah dilaporkan telah berbuat melanggar hukum.
"Apa kejahatannya?"
Memandikan mayat yang bukan muhrimnya.
Keempatnya kini telah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik dan kasus juga sudah dianggap langkap oleh Kejaksaan. Dua dari tsk itu adalah petugas forensik rumah sakit.
Adapun pasal yang digunakan polisi untuk menjerat petugas tersebut adalah Pasal 156 huruf a juncto Pasal 55 ayat 1 tentang Penistaan Agama dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.
Penetapan tersangka kepada empat petugas forensik tersebut adalah setelah penyidik polisi mendapatkan laporan dari suami Zakiah, Fauzi Munthe.
Sang suami tidak terima dengan perbuatan empat petugas tersebut karena dinilai tidak sesuai dengan syariat Islam fardu kifayah, yaitu jenazah wanita dimandikan oleh pria yang bukan muhrim.
"Serius? Bukankah penyidik kepolisian punya kewenangan menetapkan sebuah perbuatan dianggap memenuhi unsur atau tidak kan? Kenapa perkara kaya gitu harus diteruskan?"
Pak Listyo Sigit sebagai Kapolri yang baru memang seharusnya dengar. Ya, apalagi masuknya pada ranah penistaan agama. Ini ranah yang terlihat sangat seperti karet. Bisa melar sana, melar sini sesuai subyektifitas dan mood penguasa.
"Apa ga aneh, memandikan jenasah dianggap menista agama?"
Sudahlah, kita ga mungkin dapat berdebat dengan mereka yang diciptakan untuk tidak berakal. Sulit bagi kita orang normal melihat itu sebagai kasus hukum.
Kita tak mungkin dapat berdebat tentang penistaan agama, dah gitu aja.
Apa yang harus menjadi urgensi kita adalah maksud dibalik semua itu. Terjadinya instabilitas di negeri ini.
Sangat mungkin ini terkait dengan satu keping puzzel kebersamaan kita. Keping itu sengaja dibiarkan terlepas agar gambaran tentang persatuan kita tidak pernah utuh.
Keping itu adalah kunci yang sengaja selalu dibuat tak mungkin terpasang. Kita dibuat selalu dalam kondisi terpecah.
Amuk dan marah para petugas medis akan membuat penanganan pandemi Covid-19 langsung berantakan. Demo sebagai protes mereka yang berdiri paling depan pada perang melawan pandemi dan justru dihukum dengan sesuatu yang tidak masuk akal sangat berpotensi membuat kekacauan.
Apakah itu tak terlihat sebagai sebuah kesengajaan demi arah negara kalah dalam perang kita bersama melawan pandemi, itulah pentingnya pak Listyo Sigit berbicara.
Negara harus hadir melindungi para petugas medis dari serangan seperti ini. Benar, bukan mereka target, tapi dalam kasus ini, bermula dari merekalah potensi instabilitas negeri ini akan terganggu. Ingat, tenaga medis kita tidak banyak.
Jangan buat para petugas medis dibuat semakin sulit dengan sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Jangan mereka dihukum karena mereka sedang melaksanakan tugas negara.
Mereka adalah pahlawan.
Tak layak negara memperlakukan pahlawan dengan tak hormat apalagi mempidanakan mereka yang sedang menggadaikan nyawanya demi tugas besar bangsa dan negara ini.
Bukan Tentara berperang dalam pandemi ini, bukan pula Polisi berdiri pada baris paling depan dalam pertempuran jenis ini, petugas medis.
Jangan justru mereka yang sedang bertempur membela keselamatan kita, mereka justru kita khianati. Bangsa macam apakah kita bila seperti itu?
Kita semua, yang kemarin mendeklarasikan diri sebagai buzzer NKRI, seharusnya bergerak. Tak layak kita hanya diam. Naikkan tagar, buatlah narasi demi membela NKRI dari rongrongan para radikal tak cinta negara.
.
.
RAHAYU
.
Sumber : Status Facebook Karto Bugel
Wednesday, February 24, 2021 - 09:30
Kategori Rubrik: