Save Muka Boyolali

Ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Waktu donor darah tempohari, diberi tahu oleh petugas, 'Sebentar lagi paling banyak setahun 2 kali, lho Pak !' Saya tanya kenapa ?

Kata dia kalau usia 60 tahun keatas sumsum atau tulang belakang sudah kurang produktif lagi hasilkan darah baru. Kira2 begitu yang saya tangkap.

Tercenung sejenak. Wah ! Berarti nanti cuma bisa 6 bulan sekali donor darahnya. Tidak bisa lagi 3 bulan sekali, 4 kali setahun seperti sekarang . . . 

Itu pertama. Kedua, berarti saya sudah di vonis 'mendekati' tua. Berdiri depan kaca. Mosok sih ? Tak gosok-gosok cerminnya . . .

Hari Minggu kemarin nengok kebun. Di Jonggol Bogor, Jawa Barat. Ndak seberapa luas. Di beberapa titik sudah setahun saya tanami duren Bawor. Selain yang juga sudah ditumbuhi pohon asal seperti rambutan, pete, jengkol, jambu kristal, juga durian lokal desa itu, ada area masih kosong.

Saya perlukan, hari itu, khusus untuk survey lokasi buat kuburan. Kuburan ? Ya, makam ! Buat siapa ? Buat keluarga. Terutama untuk saya dan Nyonya. Meski Nyonya secara 'statistik' masih jauh. Duluan saya. Matinya 

Wong selisih hampir 12 tahun. Masih kinyis2 dia. Tapi siapa tahu ya ? 

Di Jakarta makam susah jika tidak punya anggota keluarga yg sudah lebih dulu di makam-kan di lokasi itu. Kalau sudah ada tinggal 'tumpangkan' saja.

Rencana mau 'beli' di San Diego Hill (Namanya keren ya ?). Lalu teringat, bukannya sudah punya tanah sendiri. Dan di sana, Jonggol, memang umum jika ada yang meninggal di makamkan di tanahnya sendiri.

Di sana ada telah beberapa makam tua yang pagar pembatasnya nempel dengan kebun kami.

Sudah ketemu titik lokasi yang tepat. Sekarang tinggal disain bangunan dan landscape-nya. Nyonya minta diberi bangunan, agak besar dan terbuka, mirip 'pendopo'.

Dikelilingii taman dan beberapa tanaman buah 'kesayangan'. Biar kesannya ndak seram. Kalau nanti anak-cucu, atau siapa saja, yang 'nyambangi', capek berdoa, bisa 'dlosoran' di pendopo itu . . . 

Pohon buah kesayangan saya itu 'Juwêt', Nyonya yang wong Semarang nyebutnya 'Jamblang', dan 'Sawo Kecik'. Masalahnya Juwet itu katanya sarang 'Gondoruwo'. Belum2 sudah siapkan tempat kos 'teman' . .

Juga nanti ndak lupa 'Bunga Melati'. Romantis ya ? 'Blimbing Wuluh', blimbing sayur, harus ada juga. Biar terkesan adem dan ayem.

Siapa tahu bisa jadi tujuan 'Wisata Rohani' . . ?

Kalau sudah 'merasa' tua, memang sebaiknya dijaga dengan hati2, ucapan dan tindakan. Terutama yang berhubungan dengan orang.

Sebagai asli Arek Suroboyo, kalau kesandung pasti misuh 'Jancuk !' Reflek. Tapi karena sudah merasa tua, saya tambahi, 'Innalillahi . . .' dan atau 'Astaghfirullah . . . ' 

Tapi kalau berhubungan dengan lain orang saya sangat berhati-hati. 'Cak-cuk' cuma pada orang sekitar yg 'ngerti' saya. Dengan 'orang luar' sudah 'ndak lagi'. Takut 

Seperti nulis2 di FB ini, pasti saya cek dan recek ber-ulang kali. Kalau dari google belum cukup saya cari dari sumber 'tangan pertama' atau dari buku2 koleksi saya.

Jadi resikonya paling orang marah karena ndak suka, beda pandangan, beda aliran, beda pilihan. Biasa itu. Tapi ndak bisa dan ndak sampai mem-'perkara'kan saya. Wong 'speak by data' kok.

Tulisan hal-ikhwal 'usia tua' ini berkaitan dengan rame-nya berita 'yang punya wajah Boyolalen', merasa tersinggung atas ucapan pak Prabowo. Capres nomer 02. Yang berusia 67 tahun. Kalau ndak salah. Artinya sudah ndak muda lagi !

Kok bisa ? 'Keprucut' begitu . . . 

Namun kalau lihat 'riwayat'nya memang mungkin 'harus" begitu. Ingat Indonesia 'ilang' 2030. Penduduk 'miskin' Indonesia 99 persen, konperensi pers kasus RS, dll . . . Kebiasaan 

Wong Boyolali, sebagian, yang marah pasti karena beda 'kubu'nya. Yang satu kubu ya pasti mbela. Itu biasa juga.

Kubu yang marah juga karena biasanya kalau 'temannya' kepleset omongan langsung di'polisi'kan. Kalau perlu di'pleset2'kan. Bahkan kasus pak Ahok pun, sampai sekarang mereka pikir juga di-pleset2kan. Ini saatnya balas dendam ! 

Kabar terakhir pak Prabowo memang di'polisi'kan. Bener ndak kita tunggu saja.

Namun sebaiknya, nurut saya, ndak usah polisi2an lah. Kasihan polisi-nya juga. Bingung. Ndak diproses salah, katanya ndak peduli warga.

Diproses sepertinya lucu juga. Mosok Capres diperiksa 'cuma' karena menghina Wong Boyolali. Bukan 'mengecilkan' wong Boyolali.

Tapi nanti polisi dituduh berpihak. Kalau oleh pengadilan diputus salah, dihukum lama, lebih lucu lagi. Mosok Jokowi nglawan 'Bumbung kosong'. Koyok Pilihan Lurah saja. Sangat amat tidak lucu . . . .

Jadi biarlah Bapak Polisi sejenak bisa bernafas lega. Enam hari seminggu saja. Sabtu sampai Kemis. Karena tiap hari Jum'at mesti njaga demo yang berjilid-jilid. Ini baru jilid ke-Dua . . .

Lha ?! Pak Prabowo ?!

Ah, itu masalah kecil. Serahkan saja pada 'tuhan'nya. Salah atau benar. Hanya ujian atau azab. Terserah 'tuhan' saja.

Kalau masih ragu atau bingung, tanya saja mBah Amin pemilik partai 'tuhan'. Beliau mungkin punya jawaban 'bisikan' dari 'tuhan'nya. Saking dekatnya !

Tapi jangan tanya wakil ketua DPR yang 'itu'. Yang di'itu'in oleh KPK. Percuma. Jawabannya sok philosophy. Malah tanya balik ke kita, 'Ini Rekayasa tuhan atau Rekayasa manusia ?'

Kalau ditanya lagi 'Itu artinya apa, Pak ?' Paling dijawab lagi, 'Terjemahkan sendiri . . . .' Tambah bingung kita . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Monday, November 5, 2018 - 12:15
Kategori Rubrik: