Saudi Zaman Now

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Gara-gara harga minyak dunia turun, perempuan di Saudi bisa berbikini. Kita tidak tahu, bagaimana fatwa ulama disana menangapi rencana Kerajaan Saudi membuka pantai untuk mendatangkan wisatawan. Nah, masa sih, wisatawati itu berenang di pantai dengan memakai jubah dan cadar?

Memang dulu Saudi Arabia melarang keras interaksi perempuan dan lelaki di ruang publik. Perempuan tidak boleh menyetir mobil sendiri. Tidak boleh bepergian tanpa didampingi keluarga lelaki. Pokoknya nasib perempuan Saudi seperti di penjara.

 

 

Tapi kini harga minyak dunia turun. Saudi Arabia yang 70% pendapatannya dari menjual minyak, tiba-tiba limbung secara ekonomi. Hutang luar negerinya membengkak. Apalagi negara ini juga hobi bertualang dan perang. Biaya perang Yaman dan petualangannya di Syiria memakan dana tidak sedikit.

Kantong kerajaan jebol. Makanya mereka menawarkan saham perusahaan minyak negara, Aramco. Mereka juga melakukan reformasi ekonomi dan investasi. Salah satunya membuka diri terhadap wisatawan.

Bukan hanya itu, berbagai fasilitas sosial untuk rakyat dicabut, Harga bensin naik. Pajak diberlakukan dengan serius. Bioskop dan tempat hiburan akan mulai dibangun. Dan ajaran Wahabi yang puritan serta doyan perang itu, limbung karena kehabisan duit. Dengan kata lain reformasi ajaran Wahabi di Saudi belakangan ini bukan diawali dari perubahan pemahaman terhadap kitab suci. Tetapi disebabkan karena kantongnya bolong. Tafisr agama bisa disesuaikan dengan kondisi ekonomi.

Bahkan kini saudi mulai berbaik-baik dengan Iran yang dulu musuh bebuyutannya. Sementara kelompok-kelompok teroris yang sebelumnya dibiayai kerajaan, kini mulai dijauhi. Wajar sih, kelompok-kelompok garis keras ini memang butuh duit terus menerus.

Makanya mereka mulai menjauhi Al Qaedah, Abu Sayyaf dan Kelompok Mujahidin lainnya. Investasi panjang membiayai kelompok garis keras di seluruh dunia nyatanya tidak banyak manfaatnya bagi monarki Al Saud. Yang ada, alumni Al Qaedah asal SAudi yang pulang kampung malah membuat kekacauan di negaranya sendiri. Itulah akibat yang didapat larena memelihara Srigala lapar.

Untuk menopang rencananya melakukan pembaruan persepsi, Saudi menangkapi ulama garis keras yang dituding pendukung ekstrimis. Padahal sebelumnya ulama-ulmana seperti itulah yang dibutuhkan kerajaan untuk menopang kekuasaan yang berdiri di atas ideologi Wahabi. Kerajaan Saudi memperlakukan ulama seperti permen karet. Kalau sudah tidak dibutuhkan, akan dilepeh.

Kata Gus Mus, orang-orang yang orientasi mereka ke Saudi zaman old, perlu mempersiapkan mental menghadapi Saudi zaman now.

Yang lucu, ada orang yang mengaku ulama dari Indonesia, kini buron ke Saudi. Akibat ulahnya juga main-main di kandang kambing. Mungkin dia mengira bakal banyak mendapat fasilitas di sana, karena Saudi memang sebelumnya dikenal royal membiayai garis keras. Tapi kini Saudi sedang lara : merintih dan berdoa.

Jangan kaget jika buronan tersebut, kini cuma tinggal di kamar sekelas kos-kosan mahasiswa. Padahal anak-anak mahasiswa di Indonesia saja juga sudah tinggal di apartemen.

Mungkin di Indonesia, pengikutnya hanya sanggup melihat idolanya di Saudi itu sedang bersusah hati. Air matanyanya berlinang, Pajero Sport yang terkenang...

(www.ekokuntadhi.com)

Friday, November 3, 2017 - 00:45
Kategori Rubrik: