Saudaramu dalam Kemanusiaan

Oleh: Denny Siregar

 

Ketika dialog lintas agama di Sukabumi ada satu pernyataan menarik dari seseorang.

Intinya, dia mengeluh dengam perlakuan aparat saat ingin menyelenggarakan pesta keagamaan mereka. Mereka merasa sebagai kaum minoritas yang selalu ditekan, dimanfaatkan dan dijadikan sumber uang, terutama ketika mereka ingin mengadakan perayaan hari khusus keagamaan.

Saya teringat foto2 yang diunggah dan di share banyak orang saat perayaan hari Paskah di Flores, dimana perayaan itu - meski itu diadakan oleh umat Kristiani - tetapi diselenggarakan bersama dengan umat muslim, yang kemarin terlihat dr NU. Perayaan keagamaan itu sontak terlihat sebagai sebuah pawai budaya tanpa melihat sekat agama. Semua berbaur, saling menjaga dan menyelenggarakan dengan riang.

Saya kemudian mengusulkan kepada seseorang tadi, bagaimana kalau kalian bekerjasama dengan NU dalam menyelenggarakan perayaan keagamaan. Jangan menganggap bahwa ini perayaan keagamaan bagi kalian saja, tetapi juga pawai budaya yang bisa di nikmati semua orang.

Permasalahn terbesar kita dalam bermasyarakat adalah ketidak-mampuan berbaur dengan elemen lainnya. Kita cemderung mengkotakkan diri, bersembunyi dalam sekat "untuk kalangan sendiri". Padahal, konsep ini menyenangkan musuh yang ingin menunggangi situasi untuk membenturkan kotak-kotak itu. Entah mereka yang mengaku minoritas maupun mayoritas sebenarnya mempunyai peran kesalahan yang sama ketika akhirnya terjadi benturan.

Seandainya, yang merasa minoritas sowan kepada yang mayoritas apakah salahnya ? Jangan merasa menang dan kalah dalam situasi ini, karena mungkin saja yang mayoritas bukan tidak perduli, tetapi banyak hal yg sedang mereka tangani. Dengan seringnya sowan, menjaga silaturahmi antar komunitas dan bekerjasama dalam banyak hal, maka tanpa disadari anda adalah pejuang yang menjaga keutuhan NKRI.

Ajaklah mereka menyelenggarakan perayaan bersama, libatkan mereka dalam banyak hal, saling berkunjunglah ke rumah ibadah masing2 bukan untuk mengajak orang masuk agama, tetapi sebagai seorang tetangga yang memgerti situasi tetangganya. Bahkan ketika anda ingin membagikan sedekah kepada masyarakat sekitar, ajaklah agama lain bergabung tanpa ada bendera komunitas, sehingga melemahkan tudingan Kristenisasi, Budhaisasi, Hindunisasi ataupun Islamisasi. Sebagai minoritas, datanglah duluan menyapa tetangga yg sudah lama ada di sana.

Dan ketika pluralisme itu menjadi sebuah budaya keakraban yang digalang terus menerus, lalu apa yg mau dibenturkan ? Bagaimana bisa membenturkan 5 jari yang terkepal ? Yang ada malah mereka tertonjok ketika mencoba memisahkan..

Semoga pesan saya itu menjadi bahan pemikiran teman2 disana. Sudah tidak penting lagi dialog antar agama. Yang penting adalah berjalan bersama2..

Contohlah sesendok gula. Ia begitu rendah hatinya ketika hanya dijadikan pemanis dalam secangkir kopi. Meski ditambahkan dalam jumlah lebih banyak ia tetap tidak menuntut untuk disebut secangkir gula, karena maknanya bisa jauh berbeda.

Dan ketika kerendahan hati bertemu dengan kerendahan hati, maka seruputlah kenikmatan aromanya....

"Mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.... " Imam Ali as.

(Sumber: dennysiregar.com)

Tuesday, May 17, 2016 - 21:45
Kategori Rubrik: