Saudara dalam Kemanusiaan

Oleh: Birgaldo Sinaga
|

Apa arti kematian? Jalan menuju kehidupan abadi. Tanpa kematian tiada jalan menuju kehidupan kekal. Kehidupan kekal itu bermuara pada dua tempat, surga dan neraka. Teologi kehidupan dan kematian ini menurut iman agama samawi berujung pada tempat surga dan neraka yang disediakan bagi manusia yang saleh dan jahat. Yahudi, Nasrani dan Muslim memiliki kesamaan iman akan faham surga dan neraka.

Setiap kehidupan bermula dari kehendakNYA. Setiap kematian berakhir juga karena kehendakNYA. Kehidupan dan kematian adalah kehendakNYA. Tiada seorangpun manusia di kolong langit ini bisa menentukan lahir dari rahim siapa dan di mana dilahirkan.

 

Tiada seorangpun orang tahu kapan mati dan bagaimana caranya mati. Hanya Allah Yang Maha Kuasa yang mengetahuinya. Itu sebabnya hidup ini misteri. Jalan hidup dan jalan mati setiap orang tidak ada yang tahu. Karena pemilik kehidupan dan kematian bukan manusia , tapi DIA yang Maha Pencipta.

Dari seluruh ciptaanNYA hanya manusia yang mulia. Kemuliaan manusia ini karena Allah menciptakan manusia segambar dan serupa denganNYA. Image Allah sendiri. Roh Allah sendiri yang dihembuskan dalam tubuh manusia yang diciptakanNya. Roh keadilan, kebenaran, kebaikan, kasih sayang, kesabaran, kearifan dan kebijaksanaan, kebajikan, welas asih, kesabaran, ketenangan dlsb.

Manusia sebagai makhluk yang mulia akan mengasihi sesamanya manusia. Manusia yang mulia akan menghormati dan menyayangi sesamanya manusia. Mengasihi sesama manusia tanpa syarat bukti bahwa manusia adalah makhluk mulia. Berbeda dengan binatang. Berbeda dengan hewan. Binatang akan saling memakan.

Setiap kematian seorang manusia sejatinya adalah jalannya menempuh hidup baru menuju keabadian. Kita melepasnya dengan memberikan penghormatan terakhir. Penghormatan tanda kita sebagai sesama manusia yang sadar diri akan menempuh jalan takdir yang sama.

Kematian tidak memandang agama apa yang kau yakini. Juga tidak peduli kau berasal dari suku apa, ras, golongan, status, jabatan. Namun, sejatinya kematian bagi orang beriman sesuatu yang biasa saja. Kematian dan kehidupan dua hal yang sejak mula ada sejak dunia ini dicipta. Keduanya bagian dari perjalanan takdir Ilahi.

Beberapa hari lalu saya hendak menjenguk seorang teman yang terkena kanker di bilangan Bekasi. Dari rumah di daerah bilangan Cengkareng saya naik ojek menuju stasiun busway. Saya naik busway.

Saat duduk di atas boncengan, mata saya melihat sesosok tubuh renta tergeletak di trotoar jalan. Jalanan kompleks perumahan itu lengang. Matahari sedang angkuh sekali. Panasnya menyengat hingga menembus ke daging.

Saya melihat ada sesosok lelaki renta tergeletak di atas trotoar jalan. Diam tak bergerak. Mulutnya menganga. Wajahnya menantang matahari. Di sampingnya terletak sebuah karung goni plastik putih. Ada sebuah pengait besi di atas goni itu. Di atas perutnya ada uang kertas kumal senilai lima belas ribu. Mungkin seseorang lewat, lalu iba dan memberi sumbangan dengan menaruh uang itu di atas perutnya.

"Bang kita balik bang. Ada orang sepertinya pingsan atau meninggal di situ", ujarku sambil menepuk pundak Bang Ojek yang membawaku. Kami memutar balik. Mendekati sosok tubuh yang tergeletak itu.

Saya turun. Berjalan mendekati sosok Kakek Tua itu. Wajah hitamnya nampak pucat. Rambutnya memutih meski ditutupinya pakai topi. Aku menepuk pundaknya. Tidak ada respon. Aku pegang nadinya. Syukurlah masih ada denyut. Nadinya lemah. Nafasnya satu satu.

"Uhhh..", lirihnya pelan. Ia merespon saat ku tekan perutnya. Matanya masih menutup. "Bang bantu bopong ke sana ya", ajakku. Saya memanggil Bang Ojek untuk bantu membopong Kakek Tua itu ke bawah pohon.

Saya mendudukkan Kakek Tua renta itu bersandar pada sebatang pohon di atas trotoar itu. Matanya masih tertutup. Tidak ada suara keluar dari mulutnya selain erangan lirih. Pucat sekali. Sepertinya Kakek Tua renta ini belum makan. Kehausan. Lalu pingsan jatuh di trotoar itu. Panas terik tidak membuat Kakek Tua renta itu gelisah meski ia memakai jaket.

Saat bersandar, tubuhnya jatuh lunglai. Ia tidak mampu menahan beban tubuhnya. Nafasnya masih lemah. Saya memapahnya pelan tidur di atas trotoar di bawah pohon rindang itu. "Bang belikan nasi bungkus dan minuman ya. Cepat ya", pintaku ke Bang Ojek sambil memberi uang.

Saya membangunkannya kembali. Mengangkat punggungnya bersandar di balik batang pohon. "Ayo Pak minum ya", sambil saya arahkan mulut botol Aqua ke bibirnya. Kakek Tua itu merespon. Ia membuka mulutnya. Ia meminum. Beberapa teguk saja. Lalu matanya terbuka. Ia melihatku. Saya bertanya siapa namanya. Tapi masih nampak lemah sekali. Ia diam saja. Kedua bola matanya menatap sayu. Saya menuangkan air lagi ke mulutnya. Kali ini ia menengguk banyak.

Saya menyuapin nasi. Tangan Kakek Tua itu belum sanggup diangkatnya. Hitam berdebu. Kakek Tua renta itu membuka mulutnya. Ia menerima suapan nasi lauk telur dan tahu gulai. Giginya tidak lengkap lagi. Ompong. Ia mengunyah pelan. Lalu minum.

Orang orang melihat kami. Mereka turun, mungkin ingin tahu apa yang terjadi. Saya terus menyuapin Kakek Tua renta itu. Mukanya mulai berkeringat. Perlahan Ia mulai bertenaga. Ia mulai mampu mengangkat tangannya. "Ari..Ari..", jawabnya lirih saat saya tanya namanya. Usianya di atas 75 tahun. Orang orang yang turun merubungi kami mengenal Kakek Tua renta itu pemulung tua yang sering keliling kompleks.

Seorang ibu muda sepertinya kenal Kakek Tua itu. Mereka berbahasa daerah. Tapi Kakek Tua itu banyak diam. Saya terus menyuapinnya. Mungkin karena terlalu lapar tidak banyak nasi ditelannya. Hampir satu jam. Tampak wajahnya mulai bersinar. Tidak pucat lagi. Ia sudah mampu duduk tegak. Ia meminum satu setengah botol air meneral. Sebutir telur rebus dan dua potong tahu gulai.

Saya meminta Bang Ojek yang mengantar saya untuk mengantar Kakek Ari saja. Ia tinggal di tempat pemulung mangkal di lapangan Rawalele. Tapi badannya belum sanggup dibonceng. Masih miring lemah. Ibu muda itu rela menemani Kakek Ari. Mereka jadi bonceng tiga. Kakek Ari duduk di tengah. Ibu muda itu di belakang. Kekek Ari diapit agar tidak jatuh saat di bonceng.

Goni berisi plastik hasil pulungannya ditaruh di tengah sadel motor. Saya menitipkan uang secukupnya buat Kakek Ari. Tapi itu bukan uang saya. Saya minta maaf sebelumnya ke teman-teman yang membeli donasi buku saya. Itu uang buku donasi kalian yang semalam saya tarik dari ATM. Uang teman-teman pendukung Ahok yang saya sumbangkan ke pemulung tua itu. Terimakasih ya.

Seorang ibu berwajah oriental Chinese yang ikut merubungi kami ikut menyalamkan uang ke Kakek Ari. Ia juga memberikan minyak angin kepada saya untuk digosokkan ke leher Kakek Ari. Akhirnya kami berpisah.

Saat menyuapin Kakek Ari, seorang netizen menandai saya. "Pak Birgaldo ya?", tanyanya terkejut. Saya mengangguk kaget sambil menyuapin Pak Ari. Ujungnya Pak Roni yang menjadi follower saya di fesbuk itu mengantar saya ke stasiun busway.

Hari ini, aku membaca di beranda fesbukku dipenuhi berita seorang nenek yang wafat ditolak disholati di mushala dekat rumahnya. Pasalnya si nenek adalah pendukung Ahok. Mataku berkaca kaca membaca berita itu. Bagaimana mungkin kita begitu angkuh dan sombong menistakan mayat sesama kita manusia hanya karena berbeda pilihan gubernur?

Saya terdiam. Mengapa kita yang hanya seonggok debu hina begitu pongah dengan kebenaran iman kita yang merasa diri suci dan benar sendiri hingga untuk mengucapkan doa mengantar jenazah nenek tua ke liang lahat saja kita jijik dan najis?
Ya Tuhan Yang Maha Pengampun, ampunilah kami yang begitu jahat dan keji telah menistakan seorang nenek tua ciptaanMU yang paling mulia ini. Manusia ciptaanMU.

Lamat-lamat, saya mendengar suara dan wajah Kakek Ari yang tak saya kenal siapa dia, agamanya apa, sukunya apa, pilihan politiknya apa sedang duduk dalam gubuknya yang reot mensyukuri kehidupan.

Ia yang tua renta bertarung hidup dengan bekerja dengan peluhnya. Tidak mencuri. Tidak merampok. Tidak korupsi. Tidak mengemis. Ia hanya tahu jika ingin masuk ke rumah Surga harus melakukan kebaikan bagi sesama dan menjauhi larangannya. Sama seperti nenek tua Hindun yang hidup sangat sederhana.

Sayangnya, para koruptor busuk yang merampas uang milik Kakek Tua Ari dan nenek Hindun malah saat dalam penjara dan mati ditangisi keadaannya. Disholati jenazahnya oleh orang rame. Sekalipun saat hidup para koruptor ini menjadi drakula bagi sesamanya. Menghisap darah sesamanya.

Ampuni kami ya Tuhan... Bagi saya, iman saya mengajarkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Sama seperti tulisan yang pernah kubaca di status bro Denny Siregar “DIA YANG BUKAN SAUDARAMU DALAM IMAN, ADALAH SAUDARA DALAM KEMANUSIAAN” (Imam Ali bin Abi Thalib).

Salam kasih persaudaraan
Birgaldo Sinaga

(Sumber: Facebook Birgaldo S/https://seword.com/politik/saudara-dalam-kemanusiaan/)

Saturday, March 11, 2017 - 14:30
Kategori Rubrik: