Satu Nasihat, Tiga Tafsir

Oleh: De Fatah

 

Sang guru di detik terakhir hidupnya berpesan" Kejarlah akhirat maka dunia akan mengikutimu"

Sahabat pertama langsung menangis tersedu-sedu, esoknya dia meninggalkan semua rutinitasnya. Dia ikut dalam rombongan jema'ah, berdakwah dari masjid ke masjid, mengingatkan keutamaan akhirat.

Istrinya, anak dan pekerjaan ditinggalkannya. Selama ditingggalkan, keluarganya dbekali uang seadanya. Istrinya nyambi berdagang apa saja. Kadang meminta bantuan kepada saudara-saudaranya. Dari hari ke hari hidup mereka tidak ada kepastian. Hidup dari belas kasihan.

 

 

Sesekali sahabat pertama pulang, dia senang masih berjumpa dengan istri dan anaknya, dia makin yakin bahwa Tuhan menjaga keluarganya. Makin menguatkan tekadnya untuk pergi berdakwah lagi sepanjang tahun. Tinggalah sang istri. Kabar terakhir sang sahabat menikah lagi, alasannya karena anjuran agama.

Lain lagi tafsir sahabat kedua, dia langsung ke medan pertempuran. Dia berangkat ke perbatasan Malaysia Thailand ikut berperang disana, kadang ke Filipina.

Terakhir tahun 2001 saya ada kontak, dia berada di Afganistan. Setelah itu tidak terdengar lagi beritanya sampai sekarang. Istrinya banting tulang, terakhir meninggalkan kerudungnya, hidup dalam dunia malam.

Saya malah sebaliknya, mengejar dunia adalah keutamaan bagi saya. Karena isi kitab suci menceritakan tentang kehidupan dunia. Jikapun ada yang menceritakan tentang akhirat, itu semua sebagai reward dari kehidupan kita dunia.

Karena itu dunia ini penting. Dunia ini kendaraan menuju akhirat. Dunia ini terminal terakhir kita. Jadi mengapa harus ditinggalkan? Sholat, zakat, puasa, haji, sedekah, semua kita lakukan didunia.

Berkecukupan di dunia adalah wajib, supaya bisa menghidupi keluarga secara layak, agar tidak menjadi beban masyarakat atau pemerintah.

Bisa berbagi, membantu dan saling menghormati sesama manusia itu esensi dari ajaran agama.

Begitulah, satu nasehat bisa diartikan bermacam-macam tafsir, yang diimani sebagai kebenaran. Siapa yang salah? Tidak ada salah benar di cerita ini. Nanti di akhirat kita bisa tanya langsung ke Tuhan.

Yang pasti tafsir menurut saya, tidak membuat keluarga saya hancur lebur. Bisa berbagi, mermbantu dan saling menghormati sesama manusia, maka itulah surga menurut saya. Surga menurut kitab suci itu urusannya nanti, itu urusan Tuhan.

 

(Sumber: Facebook De Fatah)

Friday, August 11, 2017 - 02:30
Kategori Rubrik: