Satir Bukan Hoax

ilustrasi

Oleh : Ma Bee

Mafindo membuat klasifikasi hoax yg terlalu kaku. Ibaratnya ingin membunuh lalat menggunakan bazoka, yg jadi korban tidak hanya lalat tapi juga serangga lain yg bisa jadi berguna bagi kita. Kita ingin melawan hoax tapi malah membungkam informasi lain yg bisa jadi bermanfaat bagi kita.

Mungkin Mafindo perlu kembali ke pengertian dasar dari kata 'bohong'. Seseorang kita sebut berbohong jika ia mengatakan sesuatu yg tidak sesuai dengan kenyataan, dengan tujuan untuk menipu orang lain agar orang lain menganggap sesuatu itu benar-benar nyata. Jika tujuannya tidak untuk menipu, maka itu bukan bohong, bukan hoax. Tujuan adalah kuncinya.

Contoh, seniman yg melukis matahari berwarna hijau untuk makna tertentu, maka ia tidak berbohong. Novelis yg menulis petualangan fiktif alien dari planet Mars untuk menghibur orang lain, maka ia bukan pembohong. Pelawak yg melucu dengan cerita hayalan agar penonton tertawa, maka itu bukan hoax. Guru yg membuat peraga tata surya yg tidak sesuai skala agar muridnya lebih mudah memahami, maka itu bukan penipu. Cerita rakyat tentang pahlawan lokal untuk inspirasi bagi anak-anak, maka itu bukan bentuk kebohongan. Dan lain sebagainya. Semua contoh itu tidak bertujuan menipu orang lain dan pembuatnya tidak pernah menyatakannya sebagai kenyataan yg benar. Apakah itu salah? Apakah itu dilarang?

Jika mengikuti definisi kaku dari Mafindo, maka semua contoh di atas adalah hoax. Jika Mafindo konsisten dengan misinya melawan hoax maka Mafindo pun harus melawan itu semua, sesuai definisinya sendiri. Embel-embel akademis tidak membuat definisi Mafindo itu ilmiah. Apakah Mafindo betul-betul akan melawan semua "hoax" dalam seni, hiburan, dan pendidikan? Saya yakin tidak. Malah kontra-produktif bahkan bisa desktruktif. Apakah itu yg diinginkan Mafindo? Semoga Mafindo bisa membuat definisi yg lebih baik lagi agar sasarannya lebih tepat.

Satire dan sarkasme, memang bisa jadi sumber hoax. Tapi masalahnya lebih pada kecerdasan audiens dalam memahami konteks. Jika itu pun akan dilawan Mafindo, maka satir dan sarkasme juga dilarang? Mau jadi apa hidup kita jika semua yg tidak sesuai kenyataan (namun bukan untuk menipu) harus diberangus? Kering sekali.

Jika Mafindo tetap dgn definisi kaku tsb, apakah Mafindo juga akan melawan semua bentuk hoax (versi Mafindo)? Justru saya akan melawan Mafindo kalo begitu karena hal2 yg baik dan bermanfaat juga dibungkam oleh Mafindo. Itu pun jika Mafindo mau konsisten dengan definisi dan misinya sendiri.

Saya sudah sampaikan pengertian 'bohong' dalam komentar di atas walaupun mungkin kurang eksplisit. Jika boleh saya buat definisi hoax maka saya akan buat begini:

"Hoax (kabar bohong) adalah penyampaian informasi palsu, yaitu informasi yg tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya, menggunakan metode-metode tertentu dengan tujuan untuk menipu orang lain agar informasi palsu tersebut bisa diterima seolah-olah informasi yg benar atau sesuai kenyataan sebenarnya."

Justru definisi Mafindo itu yg terlalu melebar dan bisa digunakan jadi pasal karet dalam konteks hukum. Seperti contoh di atas, bisa saja pihak2 tertentu menuntut guru yg memberikan ilustrasi tata surya tak sesuai skala dengan alasan penyebaran hoax. Atau menuntut pelawak yg melucu dengan cerita hayalan dengan alasan penyebaran hoax. Apa mau begitu?

Pembedanya ada di niat atau tujuan. Jika tidak ada niat untuk menipu orang lain, maka itu (seharusnya) tidak dianggap sebagai hoax. Saya kurang tau apakah niat (intent) bisa diperhitungkan dalam machine learning.

Bisa saja Mafindo menghindari tindakan hukum. Tapi apa Mafindo bisa melarang orang lain menuntut pembuat hoax (sesuai definisi Mafindo) melalui hukum? Seperti contoh yg saya berikan di atas, bisa saja wali murid menuntut guru atau sekolah menyebarkan hoax (sesuai definisi Mafindo) terkait peraga tata surya yg skalanya salah.

Saya juga sejak awal sepakat melawan hoax dgn perbaikan pendidikan. Tapi dgn definisi hoax versi Mafindo yg begitu lebar dan kaku, justru kontra-produktif dan tidak mendidik. Perhatikan lagi contoh2 saya di atas. Apa semua itu juga harus dilawan?

Hoax itu dibuat oleh orang jahat, disebarkan oleh orang picik, dan dipercaya oleh orang bodoh. Orang bodoh akan selalu ada sepanjang jaman. Jangankan info yg memang hoax, info yg benar pun akan dianggap hoax oleh orang bodoh, seperti kaum bumi datar itu.

Sebenarnya, bahkan orang pintar pun tidak kebal hoax. Korban hoax bukan hanya karena faktor kecerdasan saja, tapi juga ada faktor emosional. Maka hoax, juga fitnah, tidak akan pernah hilang. Yg bisa kita lakukan adalah menguranginya hingga mendekati nol, tapi hoax tidak akan pernah mencapai nol.

Wednesday, June 26, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: