Sastra dan Pujangga

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Para pujangga itu unik sekali ketika menggoreskan pena menggambarkan suasana hatinya. Ada-ada saja perumpamaan-perumpamaan yang dijadikan rujukan, kadang keluar dari logika akal sehat. Tapi memang justru disitulah keunikannya.

Pujangga Arab misalnya, kalau melihat orang berorasi di atas mimbar akan diberi komen,"Aku melihat SINGA sedang berdiri mengaum di atas mimbar". (رأيت أسدا على المنبر). Maksudnya tentu bukan singa betulan, tetapi seakan-akan orang itu bagaikan singa.

Charil Anwar juga unik dalam puisi berjudul 'Aku'. Dia menyatakan dirinya adalah 'binatang jalang' dari kumpulannya yang terbuang. Tentu jangan ditafsirkan binatang jalang itu sebagai pezina yang menjajakan kenikmatan seksual di jalanan. Itu bahasa sastra dan karya pujangga.

Pujangga itu kalau bicara, terserah dia saja. Tidak usah dikritisi, tidak usah dihubung-hubungkan dengan sains, apalagi pakai bahasa hukum. Tidak cocok lah.

Ebiet G. Ade pun demikian. Di bait terakhir 'Berita Kepada Kawan' dia mengajak kita untuk menanyakan misteri bencana alam kepada 'rumput yang bergoyang'. Aneh bukan?

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Atau alam mulai enggan
bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada 'rumput yang bergoyang'.
Ho ho ho . . .

Rumput yang bergoyang tentu tidak bisa diajak bicara, apalagi disuruh menjawab pertanyaan kenapa bencana banyak terjadi. Hanya orang gila saja yang berkonsultasi masalah bencana alam dengan rumput-rumput yang bergoyang. Setidaknya, yang sudah agak lama tidak minum obat.

Saya malah melihat bahwa nyelenehnya bahasa sastra dan para pujangga tidak bisa dibendung, bahkan sudah masuk ke lagu anak-anak pun kita temukan.

Dalam lagu anak-anak yang bercerita balonku ada lima, banyak yang tidak masuk akal. Disebutkan bahwa aku punya lima balon, yaitu balon pertama berwarna merah, balon kedua berwarna kuning, balon ketiga berwarna kelabu, balon keempat berwarna merah muda dan balon kelima berwarna biru.

Tiba-tiba ada satu balon yang meletus, tapi tidak satupun dari kelima balon itu. Sebab yang meletus itu malah balon yang berwana hijau. Anehnya, anak itu menyebutkan bahwa balonnya tinggal empat dan sekarang dipegang erat-erat.

Jelas lagu balonku ada lima ini sangat tidak masuk akal, membingungkan, malah agak menyesatkan. Tidak masuk logika akal sehat.

Tapi itulah lagu, itulah sastra, itulah karya para pujangga. Terserah dia saja mau mengatakan apa. Tidak akan ada yang protes juga. Kalau ada yang protes, justru malah jadi bahan lucu-lucuan seperti Cak Lontong menjadikannya bahan lawakan.

Kalau kita kaitkan nuansa sastra ini dengan mukjizat Al-Quran, dalam beberapa hal memang ada benang merahnya. Misalnya ketika Allah SWT menyebutkan bahwa Dia telah menghias langit itu dengan bintang-bintang.

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. (QS. Al-Mulk : 5)

Jangan tafsirkan ayat ini dengan fakta sains, kita nanti akan bingung sendiri. Sebab menurut sains keberadaan bintang di langit itu unik sekali. Bintang itu ternyata semacam matahari juga yang punya energi nuklir yang teramat besar sekali. Hanya saja karena jaraknya jutaan tahun cahaya, di mata kita jadi kelihatan kecil sekali dan berkelap-kelip ibarat lampu-lampu hiasa yang berkedap-kedip.

Kalau Al-Quran menyebut bintang itu hiasan langit, tentu dengan cara pandang kita manusia di bumi. Setidaknya, itulah kesan indah yang kita dapat. Saat itu Al-Quran tidak sedang bicara tentang fakta astronomi apalagi fisika.

Proxima Centauri itu bintang terdekat dengan kita, jaraknya diperkirakan 4,2 juta tahun cahaya. Kalau kita melihat dengan mata telanjang, maka cahaya yang masuk ke retina mata kita adalah cahaya yang telah menempuh perjalanan panajng sejak 4,2 juta tahun yang lalu. Boleh jadi saat ini posisi Proxima Centauri sudah tidak disitu lagi, mungkin bergeser, pindah, digusur atau pulang kampung, bahkan sudah punah.

Pusing kan?

Nah, biarlah kita berpikir dengan kemapuan batas akal kita saja yang kuno dan ortodhoks. Maka lahirlah lagu kanak-kanak :

Bintang kecil di langit yang tinggi
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Ke tempat kau berada

Jangan dibaca dengan bahasa astro-fisika. Kapan sampainya ke ke bintang? Nunggu 4,7 juta tahun lagi baru sampai. Lagian mau ngapain kesana? Kalau cuma mau menari sih tidak usah sampai ke bintang segala. Disini saja menarinya, anak ku.

Tapi ini lagu anak-anak, biarkan mereka dengan imaginasinya yang sederhana.

Bahkan kita pun berimaginasi dengan bintang. Kita gambar bintang itu menjadi segi lima, lalu kita jadikan lambang ketuhanan. Perhatikan Burung Garuda yang bawa tameng, sila pertama di tengah itu ada gambar bintang segi lima.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Friday, January 17, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: