Sapi-Sapi Terus Berdusta (Sebuah Cerpen)

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Gerimis mengguyur tanah Sumatera Barat. Dalam kegelapan yang lembab itu seorang laki-laki berdiri di atas panggung. Diiringi bunyi guntur, suaranya bergetar, "Kita akan 'proses' perempuan pengobat bernama Fiera dan perempuan yang menyalakan lilin itu. Kita akan tunjukkan cara-cara kekerasan Pendekar Kumpulan Sapi!"

Takbir serentak menggema di tanah lapang yang becek itu. Orang-orang yang memenuhi tempat itu, dada mereka penuh amarah. Di sela-sela takbir mereka memaki, mencela, menyumpahi perempuan pengobat dan pendekar perempuan dari seberang, yang menyalakan lilin di tengah kegelapan Sumatera Barat tempo hari.

 

 

IrPra, pimpinan Pendekar Kumpulan Sapi (PKS) Sumatera Barat kembali berkata, "Jangan biarkan mereka mendapat simpati. Jangan sampai orang-orang Sumatera Barat berpikir kritis. Kita telah menguasai media pengabar, surau-surau, tempat pendidikan, kegelapan di tanah ini harus abadi!"

"Bagaimana dengan dunia luar?" Si gendut menyela. Suaranya terdengar cemas. "Orang-orang mulai membicarakan kita. Yang buruk-buruk tentang kita. Mereka bilang kita tertinggal, munafik, intoleran, primordialis, dan banyak lagi."

"Apa perdulinya dengan dunia luar!" IrPra muntab. Suaranya menggelegar memenuhi lapangan. "Kita telah menggenggam tanah Sumatera Barat. Orang-orang yang biasanya memuliakan perempuan, hari ini telah tega menghardik dan mengusir perempuan pengobat itu dari tanah kelahirannya. Mereka memakinya dengan kata-kata kotor dan hina. Mereka mengancam keluarganya. Ini berkat kecerdasan kita. Inilah cara-cara Pendekar Kumpulan Sapi memelintir agama!"

Kembali takbir menggema, kali ini lebih riuh dan lama.

Sejenak setelah suara riuh itu mereda, perempuan jangkung berkata, "Kabarnya perempuan pengobat itu telah pindah ke pulau Jawa. Mereka diantar Bansera (Barisan Serdadu Rakyat). Banyak orang menawarkan rumah tinggal dan bantuan lain kepadanya. Termasuk mereka yang agamanya berbeda. Mereka memperlakukan perempuan pengobat dan anak-anaknya itu dengan manusiawi".

IrPra mendengus. Ia tampak sedang mencari jalan keluar. Jangan sampai Sumatera Barat yang sudah berada dalam cengkeraman para sapi, bangkit dan tersadar. Jangan sampai kelompok banyak yang selama ini tertipu kegelapan melakukan perlawanan. Itu akan jadi musibah bagi Pendekar Kumpulan Sapi. "Kita akan siarkan kedustaan lebih nyaring lagi. Akan kita giring setiap kepala di Sumatera Barat dalam propaganda kedustaan maha besar itu. Kita buat mereka percaya rekayasa kita. Kita jual agama lebih murah lagi. Sehingga meskipun orang luar mencoba menyadarkan, tak akan ada gunanya.

IrPra tertawa keras. Orang-orang serentak mengikuti polah-tingkahnya, si gendut, perempuan jangkung, si juling, si bungkuk, si kurus bohemian, si botak, si peang, yang lain. Mereka tak lupa menyanjung dan memuji IrPra setinggi langit, sangat khas cara-cara orang yang tak bisa berpikir.

Di balik dinding tersembunyi, seorang bocah kecil menyimak baik-baik siasat busuk itu. Bocah bernama Elka itu bertugas mengabarkan rencana jahat IrPra dan Pendekar Kumpulan Sapi pada sekelompok orang Sumbar yang diam-diam melakukan perlawanan. Orang-orang Sumbar yang mencintai cahaya dan membenci kegelapan. Mereka yang teraniaya di tanah kelahiran mereka sendiri. Persis seperti perempuan pengobat bernama Fiera yang kini mengungsi ke pulau Jawa karena mendapat intimidasi itu.

Sementara itu sapi-sapi terus berdusta. Bertumpuk-tumpuk kedustaan hingga menjulang setinggi gunung. Kedustaan yang dibumbui agama. Kedustaan yang bahkan menyingkirkan adat dan kebiasaan memuliakan perempuan di tanah Sumatera Barat. Atas nama kegelapan, dosa dan nista tak lagi dianggap penting. Sumatera Barat harus gelap segelap-gelapnya.

(Sumber: facebook Kajitow Elkayeni)

Wednesday, May 31, 2017 - 10:00
Kategori Rubrik: