Santri Gus Dur

ilustrasi

Oleh : Vinanda Febriani

Suatu ketika aku bertemu seseorang yang baru ku kenal dari sebuah acara, ia beragama Buddha. Sebut saja namanya "Arif". Arif bercerita kepadaku tentang kekagumannya terhadap Gus Dur. Ia anak millenial, sama denganku, kelahiran tahun 2000.

"Saya nggak ngerti gimana GusDur jadi Presiden, saya belum lahir waktu itu. Tapi mendengar cerita dari Bapak saya yang juga penggemar berat GusDur, wah..luar biasa banget ya. Beruntung banget Islam di Indonesia terutama NU punya sosok kayak GusDur ini" ungkapnya --kalau saya nggak salah nangkep--.

Kubilang, ya, beruntung banget Indonesia punya figur teladan seperti GusDur. Sosok lelaki --lagi-lagi kusebut-- Superhero di dunia nyata yang benar-benar mengayomi seluruh elemen bangsa, nggak cuma orang Jawa aja, nggak cuma NU saja, nggak cuma Islam aja, tapi semuanya.

"Mbak, aku kan Buddha nih. Bisa nggak aku jadi Santri GusDur?" Tanya arif --waktu itu aku ingat, matanya terpaku tajam, menatap sebuah benda (entah apa) di lantai tempat kita duduk lesehan--.

"Bisa!" Jawabku lantang.
Siapapun bisa jadi santri GusDur. GusDur nggak pernah lihat siapa orang yang sedang Ia bela. GusDur nggak pernah mbeda-mbedain manusia. Meski dia cacat, normal, kaya, miskin, apapun itu GusDur terima. Artinya, GusDur menerima siapapun yang ingin belajar kepadanya.

Jadi santri GusDur artinya kita harus terus mengamalkan, menggelorakan dan memperjuangkan segala yang pernah beliau teladankan kepada bangsa ini. Apa saja? Keadilan, ketuhanan, kemanusiaan, kesetaraan, kesederhaaan, persaudaraan, pembebasan, keksatriaan serta kearifan lokal.

Selamat berjuang para santri-santri Gus Dur baik yang bergabung di Jaringan Gusdurian maupun diluar itu.

Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita melanjutkan.

Sumber : Status Facebook Vinanda Febriani
Ciputat, 10 Desember 2019.

 

Friday, December 13, 2019 - 12:45
Kategori Rubrik: