Santri Demo dan Politisasi Santri

Oleh : Taufiqurahman Al- Azizy

Teringat saya waktu kecil. Di sebuah dusun yang bernama Tegal Jadin, paman saya selalu mengisi pengajian kitab kuning selepas asar. Masjid penuh. Asrama santri menjadi kosong tiap sore hari. Waktu itu, kakek telah meninggal, namun semua orang di Tegal Jadin tahu dan sadar bahwa sang kakeklah yang membuka “tegal” (Istilah Jawa: Ladang) menjadi dusun, mendirikan masjid dan pondok kecil yang kemudian terkenal sebagai Pesantren Tegal Jadin.

Menurut cerita paman, kata “Jadin” dari “Jadid”, artinya “baru”. Santrinya tak banyak, berasal dari dusun-dusun dan desa sebelah. Saya menyaksikan para santri selalu mengaji di hadapan paman-paman saya, menghafal kitab-kitab, syi’ir-syi’ir, hingga makan bersama-sama di atas tampah berukuran besar yang dilapisi daun pisang.

Ketika sudah bisa mengaji al-Qur’an, saya memulai mengaji kitab kuning pada ayah saya, juga Kiai Yazid bin Juned, yang sekaligus lulusan Fakultas Adab IAIN Walisongo Semarang, pengajar bahasa Arab, dan pengikut Thariqoh Nasqsabandiyah dari jalur Prof. Dr. Kadirun Yahya. Sewaktu SMA, beberapa kali saya pernah diajak Kiai Yazid ke Jogjakarta untuk mengikuti kegiatan tarekat ini.

Desa tempat saya lahir tak ada pesantren. Dusun Tegal Jadin adalah tempat kelahiran ayah saya. Saya dan teman-teman seangkatan mengaji al-Qur’an dan kitab kuning pada ayah saya di rumah, juga pada Kiai Yazid bin Juned di rumahnya.

Yang membuat kami takjub dan senang bukan kepalang, Kiai Yazid bin Juned memiliki banyak koleksi buku, selain kitab. Buku-buku tentang logika, filsafat, kalam, dengan mudah kami dapatkan dan kami baca, di samping pula majalah-majalah berbahasa Jawa hingga komik, dan majalah hiburan.

Yang kami dapatkan dari rumah Kiai Yazid bin Juned tidak hanya pengajaran kitab-kitab kuning saja, melainkan juga bacaan-bacaan segar dan menarik demi menurutkan rasa penasaran dan pengetahuan kami. Di waktu SMA-lah kesadaran bahwa Islam itu indah dengan adanya berbagai aliran agama, saya dapatkan.

Saat kuliah, saya aktif di organisasi keislaman. Saya juga nyantri al-Qur’an di Pesantren Hidayatul Qur’an (PHQ) asuhan KH Ahsin Wijaza, M.Ag, Al-Hafiz. Kuliah, aktif berorganisasi, bersenyawa dengan kegiatan-kegiatan dalam pesantren. Pengetahuan dan kesadaran yang telah saya peroleh sejak SMA semakin berkembang.

Walau kami adalah mahasiswa, aktifis, dan santri yang berhaluan Ahlussunah Wal Jamaah ‘ala mazhab al-Asy’ariyah, kami tak pernah anti-pati mengkaji pemikiran-pemikiran lain. Saya masih ingat, misalnya, pada suatu malam di aula PHQ, kami kaji pemikiran Syi’ah dan Nikah Mut’ah.

Di waktu yang lain, kami mengaji Kitab Firqotun Najiyah. Kitab ini, pertama kali saya baca juga saat menjadi mahasiswa dari seorang ustaz yang bernama Ustaz Adib. Ustaz Adib berhaluan Wahabi, saya mengaji di rumahnya, di samping saya tetap menjadi santri PHQ.

Sebelum Syiah dan Wahabi saling menyerang dengan caranya masing-masing dan sangat ramai seiring perkembangan media sosial, kami—para santri—mengenali dan memahaminya dengan pendekatan ilmu, tanpa harus mencaci, tanpa pula saling menyakiti. Namun, itu cerita “masa lalu”.

 

Seiring perkembangan, seiring dunia yang kejadian di belahan bumi lain dalam sekejap mata bisa dilihat dan didengar, pendekatan ilmu ala santri yang kami pahami dan kami praktekkan, seperti terus berubah dengan warna yang penuh kebencian, kedengkian, caci-makian, dan saling menyakiti.

Saling merasa benar, saling menyalahkan, bersaling-silang dengan teriakan-teriakan bid’ah membid’ahkan, saling mengafirkan, saling “me-neraka-kan”, dan saling-saling yang lain. Perang ilmu mendadak berubah menjadi perang kata-kata.

Ujaran-ujaran kebajikan bertumpang-tindih dengan ujaran-ujaran kebencian. Nama Tuhan ditarik ke sana-kemari untuk saling mengejek, menghina, dan merendahkan. Teriakan takbir berhamburan bersama sumpah serapah dan maki-makian.

Hari ini, sebagai orang yang pernah belajar ilmu agama dan menjadi santri, batin saya sungguh terusik dengan berita dan pemandangan mata tentang para santri yang mengadakan long march, menempuh perjalanan kaki dari Ciamis menuju Jakarta. Saya pernah berjalan kaki puluhan kilo untuk bertemu seorang kiai demi ngalap barokah dan memohon didoakan kepada Allah; tetapi hari ini saya melihat para santri berjalan kaki ratusan kilo demi untuk berdemo!

Ya, demo. Walau dibungkus dengan nama “Aksi Super Damai Bela Islam Jilid ke-3 212”, siapa pun yang memandang aksi ini dengan kacamata nalar sehat tetap memandangnya sebagai wujud demonstrasi.

Saya aktivis, dan saya turut menggulingkan Soeharto dari tampuk kekuasaannya, sebab saya saat itu memimpin organisasi mahasiswa. Saya memahami apa yang disebut sebagai “adab” santri: Hanya santri gendeng bin sableng yang akan menolak perintah ustaz atau kiai.

Kiai menyuruh agar kita mengaji, maka kita akan mengaji. Adakah ustadz dari adik-adik santri yang sedang berjalan kaki itu diperintah oleh ustaznya atau bisakah kita merenungi bahwa mereka lakukan perjalanan panjang seperti ini sebagai wujud dari kesadaran ilmu dan pencerahan pengetahuan agama? Apakah sebegitu genting dan gawatkan Islam di Indonesia?

Apakah kita sedang berperang terhadap siapa? Apakah hanya karena ucapan seorang Ahok yang kasusnya sudah ditangani pihak yang berwenang dan seharusnya kita tinggal menunggu jalannya persidangan di pengadilan, kita merasa Islam dan kaum muslim di negeri ini sedang terancam seancam-ancamnya?

Bela Islam. Bukankah Islam akan tetap sempurna walau dunia bersekutu untuk mengejek dan menghinanya? Jika umat Islam seluruhnya dan semua ulama di negeri ini satu pendapat untuk menyatakan bahwa Ahok telah menistakan agama, tak perlu ke Jakarta bila ingin membela kemuliaan Islam yang tetap mulia.

Namun, bukankah tak ada pendapat yang sama? Bahkan para ulama, para ahli tafsir, para ahli bahasa, dan para ahli pidana sendiri memiliki pendapat yang berbeda dalam menilai apakah Ahok menista atau tidak?

Keliru. Ini kekeliruan yang amat memprihatinkan. Saya tidak sedang memandang perjalanan kaki yang amat panjang dan melelahkan itu dari sudut hak dan kemanusiaan. Sungguh, saya pun tak akan menyangsikan ghirah (semangat) yang pastilah tinggi dimiliki para santri itu demi syiar dan kemuliaan agamanya. Tetapi sadarkah bahwa perkara di Jakarta bukanlah perkara tentang Islam yang ternoda?

Jakarta tengah bertarung dengan dirinya sendiri, dan tidak sepantasnya pertarungan ini digeneralisasi sebagai pertarungan kita sebagai makhluk berakal dan berIslam seakan-akan Islam di Indonesia tengah tercabik, terluka, terhina, ternista, dan terzalimi sezalim-zalimnya.

Kita boleh mengatakan bahwa kita tak peduli dan tak menggubris dan tak ikut-ikutan tentang politik, sebab gerakan kita adalah gerakan agama demi membela agama, tetapi Anda tak bisa mengelak kenyataan bahwa memang kasus Ahok tak bisa dipisahkan dengan persoalan politik. Ada banyak kepentingan politik yang seharusnya kita sadari sebelum kita memutuskan sikap. Ada banyak kepentingan yang sedang bermain di Jakarta.

Jakarta bukan gambaran dari Islam kita! Islam di Indonesia tak bisa ditimbang dan dinilai hanya dengan satu kasus yang terjadi di Jakarta. Memuliakan Islam, dengan demikian, bisa kita lakukan di tempat kita masing-masing, dalam kehidupan keseharian kita.

Sebagai santri, memuliakan Islam berarti terus-menerus mendalami keilmuan-keilmuan Islam, memerdekakan pikiran dan jiwa dari segala belenggu dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah, Tuhan kita. Mendemonstrasikan ilmu dan pengetahuan dengan tujuan kemuliaan Islam tak bisa dibandingkan dengan ikut berdemonstrasi dalam aksi-aksi yang sarat dengan kepentingan politik seperti ini.**

Sumber : qureta.com

Thursday, December 1, 2016 - 08:15
Kategori Rubrik: