Sang Puppeteer

ilustrasi

Oleh : Uster B Kadrisson

Sudah bosan membaca status yang banyak bertebaran di laman FB tentang ketidak becusan wan Abud. Saya juga udah males untuk menulis komentar tentang dia yang memang kerjaannya sangat butut. Apa saja kelakuan pribadi dan kebijakan yang dilakukannya terasa jarang ada yang benar dan kebanyakan malah tidak patut. Dan herannya masih banyak kaum penyembah selangkangan yang menyanjung-nyanjung doi mati-matian demi untuk membela sang jembut.

Berbagai macam rupa sindiran yang telah dilontarkan terhadapnya seolah-olah lewat begitu saja dan tidak mempan. Bahkan ayahanda Jokowi berkali-kali sudah di dalam beberapa pertemuan terbuka melemparkan berbagai pernyataan. Dengan cuma cengengesan, tapi berulang-ulang bermacam kesalahan kembali dilakukan. Dan dia cuek saja melenggang tanpa perduli seolah-olah ada kartu truf yang dia sembunyikan atau orang besar yang menjadi bekingan.

Sebenarnya tidak perlu banyak menebak ke sana kemari tentang siapa sebenarnya yang berada di belakang layar. Sejak penunjukkan doi untuk maju ke kancah pilpres melawan Kokoh BTP, sudah diakui kalau semua itu merupakan kerjaan sang aktor yang sudah tidak lagi anyar. Si Pak Tua JK yang saat itu menjabat menjadi wapres sudah terang-terangan mengakui kalau itu adalah inisiatifnya sendiri dengan tujuan untuk menjaga kenyamanan pasar. Demi mengamankan sumber keuangan keluarganya hingga sampai sekarang sepertinya dia juga masih berada dalam bayang-bayang atas segala macam tindakan si Gabenar.

Ketika terjadi kampanye pilkada DKI yang sangat brutal yang menghalalkan segala cara yang berlangsung di mesjid-mesjid, si pak Tua hanya diam saja. Dia yang menjabat sebagai pimpinan Dewan Masjid sebenarnya mempunyai wewenang dan kuasa untuk mencegah, tapi malah memalingkan wajah. Dia yang membiarkan kehancuran dimulai, dengan merestui para penebar berita dusta melalui pengeras-pengeras suara Toa di menara-menara. Kini ketika ribuan orang kehilangan harta benda dan juga nyawa akibat banjir karena si boneka tidak bisa bekerja, apakah si pak Tua mau untuk menanggung dosa?

Perombakan Monas untuk menggelar balap mobil Tamiya menurut kabar juga tidak luput dari campur tangan bisnis anak-anaknya dan keluarga. DPRD DKI tampak tidak berkutik, cuma bisa melongo sambil menonton segala macam kerusakan yang terjadi di depan mata. Tidak punya taring untuk menggigit, bahkan sepertinya sudah ompong bagaikan orang yang tua renta sebelum waktunya. Ratusan pohon ditebang dijadikan furniture serta jalanan berbatuan yang dibongkar dan dilapisi dengan aspal, 'oh, kita kecolongan' demikian mereka cuma bisa berkata.

Saya sudah berjalan-jalan ke berbagai kota-kota indah di dunia dan melihat bagaimana mereka menjaga dan merawat warisan. Di Lisbon, batu-batu koral yang tersusun dengan rapi yang sudah berusia ratusan tahun masih bagus menghiasi semua jalanan. Saat di Roma, berjalan-jalan di antara gang sempit di sela-sela bangunan yang dihiasi oleh landasan bebatuan. Sehingga melihat tingkah koplak sang pemimpin yang seenaknya merusak tata kota, sungguh sesuatu yang tidak tertahankan.

Terus terang saya kasihan dan iba melihat ayahanda Jokowi yang sepertinya pontang panting bekerja sendirian. Pembantu-pembantu yang semula diangkat untuk bertujuan meringankan pekerjaan malah tampaknya sekarang menjadi beban. Walaupun dari awal memulai pekerjaan mereka sudah diberi peringatan tentang visi misi yang harus sejalan. Tapi tampaknya mereka lebih suka berimprovisasi dan bermain sendiri dengan melakukan sesuatu yang bukan seharusnya dikerjakan.

Sepertinya untuk menegur si Pak Tua secara langsung, jelas sekali kalau ayahanda Jokowi akan segan dan sungkan. Beliau yang selalu hormat kepada sesepuh bangsa bagaikan anak yang menutup mata melihat perangai orangtua yang walaupun sudah seperti setan. Bukannya berharap akan terjadi sesuatu yang buruk, tapi herannya si Pak Tua tidak juga lengser dari kehidupan. Dari sini kita bisa melihat dan menilai bagaimana kualitas kepribadian seseorang untuk bisa disebut sebagai seorang negarawan.

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Wednesday, February 26, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: