Sang Penista Duren dan Pemuja Kentut

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Dulu ada penulis besar pernah berujar: Adillah sejak dalam kentut. Sebuah renungan yang sangat bau maknanya.

Kita memang sering dan gampang bertindak tak adil. Bahkan sejak dalam kentut. Itu faktanya. Sebetulnya sudah tahu kalau dirinya kentut, menuding-nuding orang lainlah yang kentut. Dan lantaran tak mau dikentuti balik, ia pun kentut sembarang, karena tak setiap hari Jumat komposisi angkanya cocok untuk togel.

 

Banyak orang kentut dengan ayat-ayat kentut. Tetapi mereka yang tukang, dan suka kentut, kadang kelupaan satu huruf akhir. Akibatnya, kentut jadi kentu bukan? Bukan kentut. Apa yang terjadi kemudian? Rasakan maknanya; Ayo Kentut vs Ayo Kentu. Nikmat mana yang mesti kau dustakan?

Maka muncullah ormas bernama Front Pembela Kentut, Alumni Kentut Wiro Sableng, Indokentut Harga Mati, Majelis Kentut Rindu Order. Dan seterusnya. Ciri masyarakat kentut, memang kayak enthung. Endi elor endi kidul, ger-ger mencok sing mbayar. Nggak peduli, yang penting dibayar, dan bisa kentut sembarang tempat.

Kemudian kentutlah mereka beramai-ramai. Makin banyak yang kentut, makin baik dan makin benarlah kentut itu. Sementara orang yang sama sekali tak kentut, dibully rame-rame. Dipaksa supaya sama keyakinan dalam perkentutan. Jika beda, anjing menggonggong kafirlah sudah!

Sampai di sini, kita jadi tidak ngeh lagi. Siapa yang menista kentut sebenarnya? Yang menuding dan dituding, bisa punya pembenaran masing-masing. Emangnya kentut perlu dibela? Kentut itu mau wangi mau busuk, tergantung campuran material yang dimakan. Tidak tergantung centhelan. Lagian centhelan nggak enak dimakan. Biasanya keras, apalagi yang terbuat dari besi. Sedang kentut yang sudah terlalu lama disimpan, atau dalam posisi dekat lubang dubur, bisa jadi kentut subversif.

Jika sudah demikian, apakah seseorang pantas disebut telah menista kentut? Melecehkan kentut? Dengan bukti yang kabur, tudingan dipaksakan sebagai fakta. Padahal kentut meski kita kenali dengan bunyi dan bau. Tapi bagaimana ujudnya? Warnanya? Bagaimana kentut bisa dinistakan? Sementara kenyataan memang si kentut sangat tergantung tafsir hidung orang-perorang? Ada yang hidungnya mancung, sempit, lebar, pilek, boros. Satu sama lain beda-beda kepekaan.

Anda pilih mana, duren atau kentut? Mengapa kita tidak menista duren? Karena duren lebih memuliakan hidup kita? Tapi kalau banyak makan duren, benarkah kentut kita akan bau duren? Dan Anda akan juga suka menikmati kentut bau duren? Terus kita mau menista durennya atau kentutnya? Masalahnya, kalau sampeyan sama sekali tidak doyan duren, bijimana coba? Lha, tapi, jika sampeyan tidak doyan duren, doyannya apa? Brondong, hanya karena sudah tuwir?

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Sunday, November 5, 2017 - 16:45
Kategori Rubrik: