Sang Laskar Sedih dan Loyo

ilustrasi

Oleh : Yusuf Ahmad

Beberapa laskar sedang berkumpul
disebuah tepi jalan tol, suasana begitu
hening, hanya suara merdu beberapa ekor jangkrik bersahut sahutan seolah menggoda kegalauan beberapa laskar Wiro Sableng 212 itu.

"Sekarang kita bingung,
dulu kenapa kita begitu mudah
digerakkan berjilid jilid, ternyata semua
itu palsu......" gumam seorang laskar pelan.
Beberapa laskar masih juga diam dalam keheningan tepi jalan itu.

"Semua itu ternyata berujung politik,
dulu kita dengan garang musuhi jenazah, dengan bangga musuhi patung gatot kaca... (diam sambil menghela nafas panjang)..

Aku malu
Jika mengingat masa itu,
bagaimana tidak malu, kita melarang
teman muslim lain ke masjid hanya karena
beda pilihan (sambil menundukkan kepala).. ....
Belum lagi kita dipaksa memusuhi benda benda mati,
roti kita musuhi,
uang rupiah kita musuhi,
arit kita laknat,
palu kita kafir kafirkan,
belum lagi kita begitu mudahnya
memusuhi tiang listrik hanya karena bentuknya menyerupai salib......
Bahkan masjid raya pun kita tuduh menyerupai salib...
Oh Tuhan.. aku malu Tuhan...." guman seorang laskar sambil sesekali menengada ke atas.

Beberapa laskar masih saja diam,
membisu dalam suasana duka yang mendalam.
Terlihat beberapa mata mulai lembab,
ada genangan air mulai menetes di pipi mereka

"Oh Tuhan..
Aku ingin seperti dulu sebelum pikiranku dibolak balik kaum kaum propagandis itu,
aku begitu jijik ketika kami disuruh teriak takbir

Namun saat itu juga
kami disuruh mengkafir kafirkan teman sendiri, kami begitu jijik saat ingat ketika
kami disuruh berteriak takbir namun saat itu juga
kami disuruh berteriak bunuh bunuh ke yang lain
oh Tuhan... (wajahnya merunduk..)
kami ingin seperti dulu, beragama tanpa cacian, beragama tanpa hina menghina, beragama tanpa laknat melaknat, bersenda gurau dengan yang lain,
bahkan
kami rindu dengan teman teman
non muslimku saat kuliah dulu, pertemukan kami dalam senda gurau yang menyejukkan, Tuhan...
Maafkan kami, mereka pasti sakit hati ketika kami teriak teriak kopar kafir kepada mereka, mereka pasti menangis ketika
kami menghina agama mereka..

Betapa sedihnya mereka melihat kelakuan kami selama ini...." sang laskar terus merintih menyesali apa yang pernah ia lakukan saat pilgub di ibukota kemarin.

Gerimis mulai turun,
rintik rintik air mulai menari nari
disela sela dedauan, membasahi wajah wajah yang terlihat sedih. dipinggiran tol itu ada gundahan hati yang teramat dalam,
Mereka
tetap diam seolah membiarkan
air hujan mendinginkan pikiran mereka.
Suara jangkrik nampak semakin terdengar indah, bersahutan menyanyikan lagu duka, merintihkan hati yang sedang bergejolak lara. Ada kesedihan mendalam menyeruak dalam sanubarinya.

"Kami malu Tuhan bagaimana
saat kami begitu angkuhnya mengatakan "ndasmu" ke kyai sepuh, betapa angkuhnya ketika
kami menuduh sesat kepada
ulama ahli tafsir, betapa angkuhnya kami menuduh liberal kepada kyai kyai sepuh hanya karena kami ingin dilabeli si pembela agama..
(semua menunduk bisu, beberapa orang mulai sesenggukan)..
Betapa sombongnya kami saat itu,
Betapa takabburnya kami saat itu hanya karena beda pilihan kami dengan mudah memasukkan mereka ke neraka...
Padahal neraka dan surga itu
semua adalah hak Mu yaaaa Tuhan..."
rintih sang laskar sambil terus merunduk malu.

Sumber : Status Facebook Yusuf Ahmad

Sunday, March 22, 2020 - 11:45
Kategori Rubrik: