Sandiaga Uno dan Baperisme

Oleh: Budi Setiawan

Geliat pemanasan Pilkada DKI nampaknya segera berakhir. Suasana emosional perlahan menggelinding kearah rasional. Yang baper-baper tersingkir, dengan Ahmad Dhani yang pertama pasang bendera putih tanda menyerah. Mengikuti jejak duta besar kopi Malaysia itu, Adhyaksa Dault yang terlempar dari nominasi partai Demokrat dan nampaknya sudah kehilangan selera bertarung dengan Ahok. 

Peta pertarungan merebut Jakarta satu nampaknya akan mengerucut menjadi tiga pasangan yakni Ahok-Heru, Sandiaga Uno – Sjafrie Syamsudin dan Yusril dengan titik-titik. Jika titik-titik itu tidak diisi maka Yusril akan tersingkir atau disingkirkan oleh Gerindra. Untuk diketahui, Yusril melamar sebacai cagub di partainya Prabowo Subianto itu.

Dari gelagat, sulit Gerindra memasukkan Yusril karena dua alasan. Pertama, Yusril adalah ketua partai Bulan Bintang yang kemungkinan besar akan menggunakan kendaraan Gerindra untuk kembali mengangkat derajat partainya yang sudra. Yang kedua, kemungkinan Pak Prabowo akan meminang Jendera Purnawirawan Sjafrie Syamsudin untuk mendampungi Sandiaga Uno. 

Untuk diketahui, ketika kerusuhan Mei 1998,Sjafrie Syamsudin menjadi Pangdam Jaya sementara Prabowo adalah Pangkostrad. Keduanya dicopot dari jabatannya.Sjafrie menyerahkan jabatan ke Djaja Suparman. Sementara Prabowo dipecat oleh Jenderal Wiranto.

Jika skenario ini jalan, pertarungan menuju DKI 1 nampaknya mengerucut antara Sandiaga Uno dan Ahok. Dan figur Sandiaga Uno bisa meredam gerombolan baper yang mengusung isu agama dan ras dalam Pilkada DKI. 

Sejauh ini, isu-isu tersebut bisa dikendalikan menjadi hanya isu pinggiran yang sifatnya sporadic situasional. Artinya mereka yang rasis dan menggunakan isu agama kini menjadi penonton pinggir lapangan yang teriakannya makin lama makin lemah karena kehilangan suara. Mereka hanya memutar kaset lama hingga membosankan. Jika mereka anarkis, nampak jelas mereka akan segera digebuk.

Namun sebelum gebukan itu terjadi, Sandiaga Uno bersama Sjafrie Syamsudin akan turun tangan menenangkan dan merangkul mereka untuk bersama-sama melawan Ahok. Bukan lewat makian atau kekerasan melainkan dengan program. Cara-cara demikian bisa meredakan tensi politik Jakarta menjelang Pilkada tahun depan. 

Pengusaha kaya raya itu sekarang ini sudah mulai tampil di iklan-iklan televisi dengan wajah yang ramah serta program yang jelas. Dia menawarkan sosok pemimpin muda serta program alternatif yakni Jakarta Setara yang jauh dari arus emosional sebagaimana yang diperlihatkan oleh calon-calon lain. 

Dia sangat sadar mengkritik atau menjatuhkan Ahok lewat isu reklamasi, Sumber Waras, Pasar Ikan atau Luar Batang apalagi isu agama dan rasial hanya akan berakhir dengan kekonyolan. Fakta menunjukkan siapapun yang memainkan isu-isu tadi keluar sebagai pihak yang kalah telak menahan malu dengan lumpur berlepotan dimana-mana, sementara Ahok tertawa-tawa. 

Sandiaga Uno tidak ingin itu terjadi. Dia ingin menampikan intelektualitas, kesantunan dan ketulusan dalam membangun Jakarta. Dia ingin warga Jakarta yakin bahwa dialah petarung tangguh yang gentleman melawan Ahok dan karena itu sangat layak menjadi Jakarta 1.

Jualannya Sandiaga Uno ini sangat bisa jadi penarik swing vote atau massa mengambang yang tiba-tiba tidak senang dengan kelakuan Ahok yang bocor itu di menit-menit terakhir menjelang Pilkada. Majunya Sandiaga Uno juga bisa menjadikan Pilkada Jakarta adalah pertarungan program dengan visi yang jelas dan jauh dari jargon-jargon agama dan rasial. Jadi jikapun Sandiaga Uno nanti bisa mengalahkan Ahok, dialah pemimpin terbaik karena program-program alternatifnya.

Persoalan mungkin jadi runyam bagi Sandiaga Uno jika Ketua PDIP Megawati yang gagal membujuk Risma maju mengarahkan telunjuk dukungannya ke Ahok disaat terakhir.

Wah , Ini blunder..Nah lo.. jangan baper...

 
(Sumber: Facebook Budi Setiawan)
Thursday, April 28, 2016 - 14:15
Kategori Rubrik: