Sandiaga Uni dan Prabowo yang "Memukau"

Oleh: Dimas Supriyanto

 

Seperti biasanya, setelah kampanye dan tampil di panggung debat, kubu masing masing memuji jagoannya setinggi langit. Semua angkat telor. Sah itu. Saya jadi kehabisan bahan buat membahas dan mengomentarinya.

Apalagi dua tiga hari ini kepala saya lagi memikirkan yang lain - yang saya tuangkan di tulisan berikutnya. Jadinya urusan debat cawapres agak abai. Memang saya agak telmi juga.

 

 

Tapi - begini saja: Anggaplah semua program yang ditawarkan oleh penantang kubu 02 memukau, banyak terobosan, ‘something new’ dan ‘visioner’. Seperti yang dijanjikan para pendukungnya itu. Nggak usah bahas program Jokowi-Amin lagi ; karena “cuma” melanjutkan yang dicapai sebelumnya dan menyempurnakannya .

Pertanyaannya adalah bagaimana sang penantang 02 mewujudkan ide ide cemerlangnya itu. Siapa yang mengeksekusinya? Sebab, program bagus kalau eksekusinya buruk ya tetap buruk jadinya. Contoh Balaikota di bawah Gakbener yang sekarang. Memble. Padahal dulu ide idenya setinggi langit.

Sebagai wartawan peliput film, ada contoh paling dekat, skenario film yang bagus di tangan sutradara abal abal dan pemain busuk, jadinya film abal abal dan busuk juga. Cuman bisa main dua hari di bioskop.

Orang orang kreatif punya analogi agak jorok - tapi mendekati benar. “Ide itu seperti semburan sperma,” katanya. “Sekali keluar bisa ribuan - tapi benih yang jadi cuman satu”. Bahkan bisa saja tidak sama sekali. Ada pasangan nikah bertahun tahun dan memadu cinta dengan berbagai gaya tak kunjung punya anak.

SAYA menulis ini karena terpukau oleh paparan salahseorang pendukung 02 yang akan mengubah ujian nasional, mensejahterakan dokter, menyelesaikan masalah BPJS, menghapus pengangguran dan semuanya diselesaikan dalam waktu singkat dengan begitu mudahnya. 
Asalkan Prabowo Sandi terpilih.

Yang ngomong tak main main - anak muda bergelar doktor lulusan luar negeri dalam wawancara di teve semalam.

Tapi rakyat awam seperti saya 'kan sudah kenyang dikibuli oleh tukang obat di pasar ayam model begitu. Apalagi tukang obat di pasar politik. Lebih gombal lagi. Penipu tebal muka.

Persoalannya saya tidak bisa membalas ide ide dan programnya yang "teramat - sangat cemerlang - itu (wuiiih...hiperbola banget..) .

Lha, ijazah saya cuma S-3 = SD - SMP dan SMA.

Al hasil, saya memilih membaca jejak rekamnya saja: memangnya sudah bikin apa mereka? Adakah sejarah dan perjalanan karir mereka pernah mensejahterakan orang banyak dan betul betul peduli rakyat kecil ?

Lha, wong bikin OK-OC di Jakarta saja gagal total !!

Saya heran juga, bagaimana Sandi menawarkan program OK-OC secara nasional yang terbukti gagal di DKI Jakarta. Lalu menawarkan suplemen susu kepada warga yang kurang gizi – yang notabene produk sayap bisnis dari Prabowo Subianto, sehingga mudah ditebak kemana arahnya program persusuan itu.

Adalah perusahaan PT Susu Nusantara dimana Fadli Zon menjadi Komisarisnya dan Prabowo Subianto sebagai pemiliknya, yang akan jadi muara dari program itu. Jelas ‘kan kemana arahnya. Rencananya, rakyat yang dianggap kurang gizi akan dapat jatah susu, dan negara akan membayari dan membeli dari PT Susu Nusantara. Cemerlang.

Ada sekurangnya 15 juta siswa yang akan dibagi susu, dan negara yang akan membayarinya kepada PT Susu Nusantara, dimana Fadli Zon menjadi Komisarisnya. Sudah pernah disinggung juga oleh Anies Baswedan di DKI Jakarta.

Politik dan bisnis adalah dua mata uang bagi pedagang.

Orang kerja itu dilihat dari portovolio - pengalaman kerja - track record - rekam jejak - bukan bahasa proposal - bukan janji janji dan kampanye.

Saya ada pengalaman terlibat perundingan di antara produser dengan penulis yang juga sutradara film.

"Skripnya bagus, saya mau ambil. Tapi bukan Anda yang menyutradarai, " kata produser tembak langsung. Sang Sutradara kaget.

"Saya yang paling tahu dan paling merasakan nafas skenario ini. Kan saya juga yang menciptakan tokoh tokohnya. Jadi saya yang harus mengeksekusinya, " kata sutradara ngotot.

"Nggak, Mas. Silakan tawarkan ke orang lain, kecuali kalau skripnya saja, dikasi ke saya, " kata prosuder itu, tak mau kalah. Sutradara ngotot lagi. Produser keukeuh. Tak ada titik temu.

Enam bulan kemudian dia datang lagi dan menyerahkan buku skenarionya.

Setelah sutradara pergi, produser curhat kepada saya: "Dia itu penulis skrip yang bagus. Tapi kalau nyutradarai semua temannya diajak. Kayak dinas tenaga kerja saja, " komentar produser itu.

"Belum lagi, selalu pilih pemain yang bisa dipacari. Dan sering molor produksinya. Ada aja alasannya, " keluhnya.

Program bagus indah itu baru tahap awal. Sama seperti gambar rumah - masih cetak biru. Yang menentukan adalah tim eksekutor di lapangan; mandor, tukang tukang yang mengerjakan dan mengeksekusinya dan mereka yang mengelola duit untuk membeli bahan bahannya.

Bagaimana kalau mandornya tukang nyabu, suka main cewek di hotel dan kebal hukum pula, padahal sudah kena gerebeg aparat ?

Ketika Uno menyederhanakan program aneka kartu dengan satu kartu KTP, dia lupa betapa belum siapnya rakyat untuk itu. Bahkan pembuatannya – proyek e-KTP - dikorupsi. Skandal.

KH Maruf Amin menjanjikan yang lebih progresif, kelak akan disampaikan lewat aplikasi di smartphone, lebih transparan dan terbaca. Semenara e-KTP terus dibereskan.

OKE-OCE yang dibanggakan itu menurunkan pengangguran sebanyak 20 ribu yakni dari 280 ribu menjadi 314 ribu. Dari sisi prosentase nyaris tak ada artinya, meski angka 20 ribu kelihatan sensasional. Dan angka itu di luar ekpose media bahwa sebagian besar minimar OK OCE bangkrut. Gulung tikar dan tutup.

Eko Kuntadi, seorang aktifis media sosial di dunia maya menulis, “Sandi hapal siapa rakyat yang mengeluh; Bu Lia, Bi Narti, Pak Nadjib, terakhir Bu Lis dari Sragem. Semua hapal di luar kepala. Tapi dia tak mampu menyebut satu nama pun, yang sukses dari karena program OK-OCE, “ katanya. “Sebab emang OK-OCE gagal total! “ tegasnya.

Meski gagal, Uno akan melaju, karena terbiasa dengan kegiatan asyik sendiri. Khas “anak Mama”. Peduli apa, tokh nantinya negara yang membiayai.

SELAMA kampanye ini kita melihat bagaimana perilaku Sandiaga Uno banyak berjanji dan menggampangkan masalah, banyak blaving, dan diam diam menawarkan yang mengarah pada bisnis ke negara, dan mengeruk kekayaan negeri ini, kembali zaman Orba dengan dukungan anak anak Cendana, keluarga mantan

Sedangkan Prabowo kembali ke watak aslinya : temperamental, kasar pada ibu ibu, galak pada bawahan. Watak yang tidak akan sembuh. Dulu tidak, kemaren tidak, sekarang pun masih.
Percayalah - jika mereka terpilih sebagai presiden dan wakilnya - Anda tidak akan berdaya melawan keduanya, karena posisinya dilindungi undang undang.
Paspampres, BIN, TNI dan Polri, polisi akan melindungi mereka sesuai undang undang, sesuai netralitas dan profesionalitas mereka - siapa pun presiden dan wakil presiden terpilih.
Tapi kini Anda masih punya waktu dan punya daya dan kesaktian, dan efektif, sekarang ini yakni dengan tidak memilihnya. Dengan memilih lawannya, yaitu Jokowi - Amin.
Jokowi lah yang salaman dengan rakyat dengan tangan telanjang, nyaman naik KRL sendiri, bersama rakyat tanpa canggung karena dia biasa di sana, giat membangun MRT, LRT, tol laut, tol langit, bendungan, jalan raya di seantero negeri.
Jokowi - Amin sudah terbukti bukan presiden yang memperkaya diri, anak anaknya santun dan tidak memanfaatkan kedudukan serta fasilitas bapaknya, sebagaimana anak anak dan mantu Soeharto, yang naik pangkat tiga kali dalam setahun – sampai menjadi letnan jendral dan memimpin 32 batalion. Meski akhirnya dipecat.
Dan yang paling aktual, Jokowi dan Amin tidak punya keponakan yang membobol ATM. ***
 
 
(Sumber: Facebook Dimas Supriyanto)
 
 
Tuesday, March 19, 2019 - 18:00
Kategori Rubrik: