Sandiaga Disebut Ulama, Anti Klimaks Gerakan 212

Oleh: Amin Mudzakir

 

Penyebutan Sandiaga Uno sebagai ulama oleh Hidayat Nur Wahid dari PKS adalah anti-klimaks gerakan 212. Setelah diharapkan sebagai momen kebangkitan umat Islam Indonesia, gerakan ini sekarang benar-benar mangkrak. Yang tersisa hanyalah sisa-sisa semangat utopia yang kebingungan mau pulang kemana.

 

 

Sejak awal gerakan 212 adalah rekayasa politik yang memanfaatkan sentimen fanatisme umat. Perancangnya sangat cerdas. Dia pasti membaca laporan sejarah yang menyebutkan bahwa sejak tahun 1930-an isu penodaan agama yang melibatkan orang Tionghoa telah berhasil berkali-kali memobilisasi umat.

Akan tetapi, tanpa uang yang memadai, rekayasa politik secerdas apapun akan ejakulasi dini. Hal ini saya kira terjadi dengan PKS. Meski terus mencoba menyelematkan sisa-sisa gerakan 212 lewat tagar 2019 ganti presiden, akses kekuasaan mereka yang terhambat sejak era Jokowi membuat partai ini kebingungan. Keinginan besar, tetapi kemampuan ngos-ngosan. Satu-satunya pilihan yang tersisa saat ini hanya mendukung pasangan capres-cawapres yang keduanya dari Gerindra di mana mereka kebagian tugas menyiapkan stempel ulama.

Sementara itu, Jokowi bukan petruk dadi ratu yang mudah terpancing oleh ontran-ontran. Dia paham bahwa gerakan 212 adalah gerakan politik, maka cara mengalahkannya pun harus dengan cara politik. Dalam sejarah, fanatisme keagamaan tidak bisa dihadapi dengan kekerasan. Mereka akan luluh oleh tawaran. Itulah yang terjadi sekarang.

 

(Sumber: Facebook Amin Mudzakir)

Friday, September 21, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: