Sandiaga Buat Sensasi Lagi

Oleh : Winston Zippi Johannes

Bakal calon wakil presiden Sandiagay Salahudin Uno kembali membuat Sensasi, kali ini pria kemayu yang kerap disapa Sandi itu menuturkan keluhan yang menurutnya dia dapat dari seorang ibu yang berjualan pasar Lima Marelan, Medan, Sumatera Utara.

Salah satunya keluhan dari seorang pedagang Pakaian Dalam bernama ibu Epi.

Bu Epi, kata Sandi, mengeluhkan penjualan pakaian dalamnya yang menurun. Bahkan, katanya, dalam satu minggu terakhir belum ada satupun yang terjual.

“Kenaikan harga kebutuhan pokok naik, daya beli masyarakat untuk bra (pakaian dalam) menurun,” kata Sandiaga, Minggu, 16 September 2018.

“Ini menjadi salah satu bukti ekonomi kita makin dirasa sulit oleh masyarakat yang terdampak langsung seperti ibu Epi. Dan saya yakin banyak ibu-ibu Epi lainnya yang merasakan juga hal yang sama di pasar tradisional,” ujar Sandi semakin bersemangat.

Tak hanya Bu Epi, Sandiaga juga menceritakan keluhan Ibu Isni yang berharap harga-harga kebutuhan sandang dan papan dapat turun drastis.

“Kata ibu Isni, kalau bisa bisa tagihan biaya hidup lainnya bisa diturunin, khususnya listrik dan air bersih,” tambah Sandi semakin menjadi-jadi.

Sebelumnya, dalam kunjungannya ke Pekanbaru, Riau dua pekan lalu, Sandiaga mengaku menerima keluh kesah dari seorang ibu lainnya. Dia mengatakan mendapatkan cerita dari seorang ibu yang uang belanjanya Rp 100 ribu hanya dapat dipakai untuk membeli bawang dan cabai.

Menurut Sandi, cerita itu didengarnya langsung dari seorang ibu bernama Ibu Lia.

Belakangan cerita Ibu Lia yang disampaikan Sandiaga itu berkembang viral diperbincangkan di banyak media sosial karena ternyata bertolak belakang dengan kenyataan yang ada.

Akibat cerita ini, kemudian belakangan muncul gerakan tagar #100ribuDapatApa yang dibuat untuk menepis kebohongan cerita Sandi.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudistira Adhinegara, menilai penyataan Sandiaga soal kenaikan harga Penjualan bahan pokok mengakibatkan daya beli pakaian dalam yang menurun itu Salah Kaprah.

Pasalnya, harga pakaian dalam saat ini relatif terjangkau jika dibandingkan dengan 10 tahun lalu.

“Kritik itu harus berdasarkan data yang kredibel,” kata Bhima.

(TEMPO)

anunya:
 
Sumber : facebook Winston Zippo Johannes
Monday, September 17, 2018 - 13:45
Kategori Rubrik: