Sandi Effect

Oleh: Heni Nuraini

 

Ketika netijen lain sering merundung kekurangcerdasan sosok Prabowo, terutama sejak bergandengan dengan PKS, sejak dulu hingga sekarang, saya masih yang berpendapat bahwa Prabowo tetaplah sosok mantan Jenderal yang CERDAS.

Pemilihan Sandi sebagai bakal cawapresnya, masih menjadi bukti kecerdasan Prabowo sebagai pendiri Partai Gerindra. Gerindra yang notabene partai baru, tidak akan menjadi partai 3 besar di Indonesia jika tidak dikelola dengan kecerdasan seorang Prabowo. Saya selalu percaya itu.

 

 

Menang atau kalah Prabowo di Pilpres 2019, Sandi adalah tabungan Gerindra untuk Pilpres 2024, karena jikapun Gerindra kembali gagal menghantarkan Prabowo sebagai RI1, sebagai cawapres nama Sandi sudah terangkat di tingkat nasional. Ketika di 2024 Prabowo sudah tidak memungkinkan nyapres lagi, sudah ada nama Sandi yang bisa dimajukan baik sebagai RI1 atau RI2 oleh Partai Gerindra. Karena bagi partai yang dibentuk untuk meraih kekuasaan, posisi RI1 atau minimal RI2 adalah cita-cita tertinggi sebuah partai.

Lain cerita jika yang dimajukan sebagai cawapres adalah AHY ataupun Anies Baswedan. Mengapa harus menghantarkan kader partai lain. dengan resiko jika Pilpres kali ini kalah, di Pilpres 2024 Gerindra hanya akan jadi tim hore, meskipun modal Sandi sebagai Wagub DKI juga sudah lumayan, tapi tentu akan berbeda lagi jika Sandi sudah diiklankan secara nasional untuk kepentingan perolehan suara. 
Lebih-lebih lagi dengan Anies Baswedan yang bukan seorang kader partai manapun. Jika pada Pilpres 2019 kalah, Partai Gerindra (termasuk partai koalisinya) dapat apa ? Logistik habis, tabungan untuk 2024 pun tidak ada. 
.
Ini kalau Jenderal Kardus & Jenderal Baper tidak reuni hihihi.. 
.
Jadi gimana kabarnya dengan koalisi keumatan ? (Melengos pura-pura gak denger)
.
-HN-

 

(Sumber: Facebook)

Saturday, August 11, 2018 - 05:45
Kategori Rubrik: