Sandera

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Aku disini hendak ikut bicara atasnama lima
: ada, manusia, realitas bangsa, hikmat hukum dan hubungan persaudaraan selama ini.

Dalam Tuhan kita bersaudara. Sesama ada yang tinggal dalam satu realita. Semua makhluk harus menyapa setara. Merayakan anugerah keberadaan yang sungguh luar biasa ini. Kita dilibatkan dalam keberadaan adalah hal paling keren dari semua hal yang keren. Tiada itu hanya hal respektifal dalam benak yang tak pernah mampu mengadakan apapun, bahkan satu makhluk pun. Seluruh entitas tanpa batas dalam hamparan samudera wujud. Luas wilayah keilahian yang menampung dan mengandung aneka hakikat maujudaat.

Kedua, kesamaan sebagai manusia adalah kesamaan sebagai sesama mahluk pembawa akal. Dalam kategori ini mahluk jin termasuk.
Tak ada perbedaan ras dan warna kulit. Tak ada perbedaan agama dan suku. Tak ada perbedaan antarbangsa. Disatukan dalam bingkai peradaban bumi berkeadilan.

Sebuah bangsa lahir dalam sebuah celupan (sibghah) kesamaan pandangan dunia (kalimatun sawa) yang disepakati. Celupan Pancasila termanifestasi dalam suatu bangsa bernama Bangsa Indonesia. Pancasila (P)sebagai pandangan dunia filosofis. Bhineka Tinggal Ika (B) sebagai keterhubungan dengan pandangan historis. NKRI  sebagai manifestasi tegaknya Daulah atau kekuatan politik. UUD 45 (U) sebagai pondasi yurispridensi negara hukum. PBNU. Setiap warga negara bersaudara dalam
kesatuan ini.

Hikmat hukum yang mengatur kita harus ditegakkan sampai bahkan jika langit akan runtuh sekalipun. Tolak segala upaya memperjual-belikan hukum. Baik penjualnya dan pembelinya harus ditangkap. Semua kita disini berhak mendapat keadilan yang dijamin konstitusi.

Lima, dalam kebersamaan yang lama ada yang terikat secara baik diantara kita. Ada yang datang dari jauh memang hanya mencari untung saja, tak peduli hal lainnya. Namun ada juga Labepa yang sama-sama berfikir bagaimana kita keluar dari masalah ini.

Atas nama tanah ini saya makrifat diri, tak bisa ikut bicara.

Santri Kalong : Kang mau bicara apa ?

Kang Mat : Kita disini disandera.
Disandera oleh sesuatu kekuatan. Entah CIA atau jenderal K (kata Gus Dur). Atau anak hasil hubungan gelap keduanya. Mereka licin dan licik mengadu domba antara kita. Antara rakyat dan negara.

Santri Kalong : Untuk apa menyandera ?

Kang Mat : Untuk eksploitasi kekayaan SDA. Juga untuk harga tawar kekuasaan di istana.
Jangan sampai ada yang bilang Kopit itu rekayasa. Jangan juga ada yang bilang sebenarnya Papua aman-aman saja.

Pace Yaklep : Kang, sebenarnya bagaimana hakikatnya masalah kita ini. Bisa kah diselesaikan. Bagaimana caranya. Kapan itu akan terjadi. Seperti masalah kita ini tak pernah dimakrifati oleh para petinggi. Sepertinya kita ini dibiarkan saja tumbuh seperti rumput teki. Sewaktu-waktu terbakar atau dibakar untuk melegitimasi jastifikasi ketidak-amanan ini.

Kang Mat : Adukan semua ini pada Tuhan. Sesuai janjiNya Dia pasti akan menjawab setiap permohonan. Syaratnya jangan zalim. Karena setiap perjuangan itu harus suci.

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Tuesday, June 30, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: