Sampai Kapan Kita Akan Terus Membahas Agama dan Perbedaan?

Oleh : El Mikha Naibaho

Negeri ini tak pernah lepas dari pemberitaan tentang agama setiap harinya. Agama apa pun, dan tentang apa pun. Mulai dari selebritis yang pindah agama, kecocokan agama dengan ilmu pengetahuan teranyar, sampai yang lagi hangat belakangan ini – penistaan agama.

Selain melalui pemberitaan, pun pembahasan tentang agama teramat sering terjadi di berbagai tempat. Baik di dunia nyata maupun dunia maya. Dilakukan baik itu oleh seorang profesional, mahasiswa atau apa pun pekerjaannya. Selalu tentang agama.

Kadang saya bertanya, tidak cukupkah membahas agama dengan seorang ahli agama di tempat yang telah tersedia – di rumah ibadah, misalnya? Karena di sekolah formal dan pendidikan tinggi, mata pelajaran Pendidikan Agama masih memiliki porsi tersendiri.

Saya tidak mengatakan bahwa membahas agama tidak penting. Tetapi menurut saya, membahas agama di tempat dan dengan orang yang salah, sangat berbahaya. Sebab agama bukan semacam ilmu pasti, seperti matematika atau fisika yang menggunakan rumus tetap untuk memecahkan soal pertanyaan. Rumus itu tak akan disalahartikan meskipun yang menemukan dulu dan yang menggunakan sekarang berbeda agama.

Karena itulah, menurut saya, ilmu agama sangat kompleks. Kalimat-kalimat yang tertulis di dalam kitab suci, bisa multi-tafsir. Butuh orang-orang yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari agama, agar pembahasan soal yang satu ini bisa lebih mendalam.

Butuh orang yang sungguh-sungguh mendalami agama untuk menuju Dia, agar pembahasan tak melebar ke mana-mana. Bila dilakukan oleh seseorang –yang dalam hidupnya masih berpikir bagaimana untuk mendapatkan uang, saya rasa agama pun bisa ia jadikan alat untuk mencapai tujuannya.

Bukan rahasia lagi bila makna ajaran agama kerap ‘dihembuskan’ untuk suatu tujuan yang malah berseberangan jauh dengan ajaran agama tersebut. Kalau kita mau sedikit saja objektif menilai, ternyata perang yang selama ini terjadi tak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kebaikan umat manusia –sebagaimana yang diajarkan agama.

Tetapi, berapa banyak perang yang terjadi dilandasi isu agama dan orang-orang yang terlibat, bertempur penuh semangat karena mereka berpikir sedang membela agama?

Perang selalu melahirkan kedukaan. Ada anak yang menjadi yatim, ada istri yang kemudian menjadi janda, atau akan ada anak yang mungkin menanggung derita seumur hidup karena tubuhnya menjadi cacat akibat perang. Apakah semua itu kehendak Sang Pencipta? Jika demikian, untuk apa Dia menciptakan manusia sempurna hanya untuk membuat ia cacat kemudian?

Saya sangat percaya bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Itu sebabnya ketika ada orang yang berdoa agar ‘Tuhan’ membalas ulah musuh atau ‘mengucap syukur’ ketika musibah terjadi pada musuh, saya tak percaya Tuhan akan mendengar doa itu. Sebab saya sudah lama bertanya, apakah Tuhan tersenyum saat ciptaanNya saling menghancurkan? Bukankah lebih logis bila Ia cenderung bersedih?

Memang akan menjadi tak logis bila ternyata kita meyakini bahwa kita tak berasal dari tempat yang sama dan sedang berdiri di atas bumi yang sama. Akan menjadi rumit. Dan semakin rumit, karena dengan jelas kita tahu, bahwa banyak orang yang tak ingin beragama. Lalu kita dengar banyak orang berkata: “yang tak beragama, lebih banyak sukses di era teknologi ini.”

Bila demikian, masih adakah manfaat kita membahas agama, sementara orang yang tak beragama terus mengembangkan diri hidup di dunia ini?

Menurut saya, memang tak masalah seberapa lama membahas agama. Asal kebahagiaan kita diukur dari seberapa agamisnya kita. Kebahagiaan kita diukur dari seberapa banyak kita berhasil menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya.

Yang menjadi masalah, kita kerap membandingkan kebahagiaan kita dengan kebahagiaan orang lain – yang celakanya tak ada hubungannya dengan agama. Yang menjadi masalah, kita kerap membandingkan negeri ini dengan negara lain yang lebih maju, bersih, tertib, menjunjung tinggi kemanusiaan, tanpa pernah mau tahu bagaimana mereka membangun negeri mereka – dan bertanya pada mereka, seberapa besar pengaruh agama dalam membangun kota mereka yang begitu mengagumkan.**

Sumber : qureta.com

Tuesday, December 20, 2016 - 09:30
Kategori Rubrik: