Sama-Sama Pemberontak, DI/TII, Permesta/PRRI/PKI tapi Beda Perlakuan

Oleh: Dody Haryanto

 

Menulis sejarah haruslah jujur, menceritakan sejarah haruslah jujur, tetapi ada sejarah dinegara kita yg sengaja dibengkokan demi kepentingan politik/kekuasaan. 
DI/TII, PRRI/PERMESTA dan PKI adalah sama2 pemberontak tetapi kenapa beda perlakuan ?

 

- Melalui Ketetapan MPRS nomor XXV/1966 menjadi dasar hukum bagi pemerintah dlm menangkapi para pengguna bendera PKI Palu Arit, menyita buku2 yg berhaluan kiri dan membubarkan berbagai diskusi terkait peristiwa 1965.
: Saya rasa sebagian besar rakyat Indonesia tahu seperti apa bendera PKI itu , tetapi saya meyakini bahwa sebagian besar rakyat Indonesia tidak tahu seperti apa bendera DI/TII itu. Bendera PKI resmi dilarang, apakah bendera DI/TII resmi dilarang ? Apakah bendera HTI resmi dilarang ? Buku2 yg berhaluan kiri/PKI resmi di larang , tetapi sejak awal reformasi buku2 ttg salah arti Jihad, negara agama, negara khilafah/HTI, radikalisme/terorisme bebas diproduksi dan dijual tdk ada pelarangan.

- Pemberontakan PKI th 1927, 1948 dan 1965 dan pemberontakan DI/TII 1949-1962.
Pemberontakan PKI th 1948 ada banyak ulama yg dibunuh, apakah pemberontakan DI/TII tidak ada ulama yg dibunuh ?
Ketum PBNU 1956-1984 KH. Idham Chalid berulang kali menceritakan pengalamannya diberondong peluru milisi DI/TII, kolega2nya sampai banyak yg terbunuh DI/TII di Jabar.
Banyak ulama di Jabar yg menentang DI/TII dibunuh. 

- DI/TII dideklarasikan pd 7 Agustus 1949 , Permesta ( Perjuanganan Rakyat Semesta ) dideklarasikan di SulSel pd 2 Maret 1957 , 
PRRI ( Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia ) dideklarasikan di SumBar pd 15 Feb 1958 , mereka semua adalah pemberontak untuk menjatuhkan pemerintahan Indonesia , meskipun terang2an mereka semua adalah pemberontak tetapi setelah selesai pemberontakan perlakuan yg mereka terima sangatlah berbeda jika dibandingkan dgn PKI.
Mantan DI/TII dan PRRI/Permesta banyak yg hidup enak, banyak yg menjadi pengusaha, Jenderal, seniman, Pejabat, dll.
* Danu MH ( DI/TII ) direkrut Ali Moertopo untuk bekerja di Bakin diberi rumah/mobil dinas dan gajih. Sedangkan anaknya Danu MH yaitu Hilmi A menjadi ketua Dewan Syuro Pekaes.
* Kahar M ( DI/TII ), didaerahnya keluarga mereka malah dihormati, anak2nya sendiri hidup enak mewah ada yg menjadi Bupati, DPRD dan DPD.
* Adah D ( DI/TII ) diangkat menjadi ketua Gaper ( Gabungan Perusahaan Minyak dan Gas ) kota Bandung.
* Sumitro D ( PRRI ) sempat menjadi Menteri Perhubungan di PRRI, dimasa Orba kembali diangkat menjadi Menteri, anaknya sendiri PS menjadi Jenderal menjadi menantunya Soeharto dan malah PS bebas menjadi Capres.
* Saladin Sarumpaet ( PRRI ) dan anaknya bernama Ratna Sarumpaet.
* Tokoh Permesta Ventje S dan Sjarifuddin P, pd 2011 malah diusulkan jadi pahlawan, luar biasa.
* Dan masih banyak lagi kisah sukses keluarga pemberontak DI/TII dan PRRI/Permesta, beberapa diantaranya ada yg menjadi Jenderal.
: Sekarang coba kita bandingkan dgn PKI :
* Anak2 keturunan PKI, dimulai dari istrinya, anak2nya, cucu2nya yg sama sekali tdk terlibat, tdk berdosa dan tdk tahu menahu dgn PKI, anak2 ini dilarang menjadi TNI dan PNS, diawasi dgn ketat, sulit utk berusaha, untuk mencari sepiring nasi saja sulit.
* KTP milik mantan tahanan politik PKI diberi tanda ET ( eks tapol ) utk membedakan dgn warga negara lain.

- DI/TII, PRRI/Permesta dan PKI adalah pemberontak dan seharusnya diberlakukan sama. Berdasarkan fakta sejarah pemberontakan PRRI/Permesta didukung Amerika. Kita tdk mendukung DI/TII yg ingin negara agama, PKI yg ingin negara komunis, yg kita dukung dasar negara kita/ideologi negara kita adalah Pancasila. 
Kita tdk mentolerir pemberontakan dan pembunuhan dan jika berdasarkan fakta sejarah yg sejujur2nya bahwa pembunuhan yg dilakukan DI/TII dan PRRI/Permesta jauh lebih banyak melebihi PKI, tetapi yg paling terkenal sampai sekarang adalah PKI.
Menurut Jenderal Nasution jumlah korban PRRI dari pihak pemerintah berjumlah 10.159 jiwa, sedangkan dipihak lawan sejumlah 22.174 jiwa dan demikian juga dgn Permesta sgt banyak korban jiwa dari masyarakat biasa yg tdk berdosa. Sedangkan korban pembantaian DI/TI lebih dari 20 ribu korban jiwa. Mengapa kekejaman DI/TII dan PRRI/Permesta tdk di buat Film ? Sedangkan PKI dibuat film.
Dan yg lebih sgt kejam kejam dan sgt mengerikan adalah pembunuhan yg diperintahkan Harto pasca PKI, yg hampir tdk ada didlm buku sejarah, tragedi mengerikan di abad 20, Genosida abad 20, yg mana masyarakat semena2 dituduh PKI tanpa ada pembuktian lalu dibunuh, menurut Komnas HAM dan Sarwo Edhi pembunuhan tsb mencapai 3 juta jiwa.

Kejujuran sejarah yg dibungkam, kebenaran yg dibungkam, pembodohan sejarah dan sampai sekarang ada kelompok yg tetap mempertahankan bahwa sejarah tertentu harus tetap bengkok, sebagai komoditas politik busuk, seperti isu PKI yg menyerang Presiden Jokowi. Yang membakar bendera PKI, yg bilang Neo PKI itulah yg PKI sebenarnya.

Kita jaga Pancasila.
Kita rawat Bhinneka Tunggal Ika.
Kita lawan para bedebah ini, yg mau merusak negeri ini.

SALAM DAMAI.
ROF SIN.

 

(Sumber: Facebook Dody Haryanto)

Saturday, June 20, 2020 - 22:30
Kategori Rubrik: