Salib di Kota Makkah

ilustrasi

Oleh : Makinuddin Samin

Aku sebenarnya enggan menceritahkan kisah ini, khawatir ketahuan ustadz itu, nanti dikiranya telah terjadi kristenisasi di kota suci Umat Islam  Kisah yang aku ceritakan ini sebagian besar berasal dari buku Tarikh al-Khulafa karya Imam as-Suyuthi dan dikonfirmasi buku Tarikh at-Thabari karya Imam at-Thabari. Tiang pancang yang aku ceritakan ini dulu digunakan untuk menyalib tubuh tanpa kepala seorang sahabat Nabi SAW, cucu Abu Bakar As-Shidiq, bernama Abdullah bin Zubair.
.
Kisah ini berawal dari Yazid bin Mu’awiyah, seorang laki-laki yang dikenal suka mabuk-mabukan, tidak menjalankan shalat, menikahi anak-anak perempuannya, saudari-saudarinya, dan para ummu al-walad (budak perempuan yang melahirkan anak bapaknya) yang ditahbiskan sebagai khalifah menggantikan bapaknya. Warga Madinah menentang pengangkatan Yazid sebagai khalifah, yang dianggap tak pantas. peristiwa itu terjadi pada 63 H.
.
Atas penentangan warga Madinah itu, Yazid mengirim pasukan perang ke Madinah dengan perintah menghabisi warganya dan membunuh Abdullah bin Zubair, yang dianggap sebagai provokator. Dalam tragedi tersebut banyak sahabat Nabi yang dibunuh, perempuan-perempuan diperkosa, dan Madinah dijarah raya. Pasuka bengis itu dujuluki oleh orang-orang Madinah sebagai al-Harrah, yang sangat mengerikan.
.
Abdullah bin Zubair berhasil meloloskan diri ke Makkah, pasukan Yazid mengejar anak laki-laki Asma’ binti Abu Bakar itu hingga di kota tersebut. Pada tahun 64 H, Kota Makkah dikepung pasukan Yazid. Mereka menembakinya dengan Manjanik berpeluruh batu dan bola api; kota suci itu terbakar, ka’bah juga terbakar. Namun Abdullah bin Zubair lolos dari kematian, justru Yazid yang mendahuluinya bertemu Tuhan. Apakah perkara selesai dengan kematian khalifah yang kejam itu? Tidak!
.
Kematian Yazid, menjadikan Abdullah bin Zubair sebagai khalifah. Dia ditahbiskan sebagai khilafah oleh penduduk Hijaz, Yaman, Khufah, Basrah, dan Khurasan.
.

Kekhalifahan Banu Umayyah melemah, anak laki-laki Yazid yang bernama Mu’awiyah bin Yazid bin Mu’awiyah meninggal dunia setelah 40 hari berkuasa. Kekuasaan mereka hanya tersisa di Mesir dan Syam yang dipimpin oleh Marwan bin Hakam. Marwan menolak mengakui kekuasaan Abbdullah bin Zubair yang berpusat di Makkah. Tak lama, Marwan menyerahkan kekuasaan kepada anaknya, Abdul Malik bin Marwan. Laki-laki yang dulunya dikenal sebagai salah satu orang alim di Madinah ini segera memberangkatkan 40 ribu pasukan yang dipimpin oleh al-Hajjaj bin Yusuf menuju Makkah untuk menghabisi kekuasaan Abdullah bin Zubair.
.
Kota Makkah dikepung, ditembaki dengan batu dan api. Abbdullah bin Zubair berhasil dibunuh, kepalanya dipenggal dan tubuhnya disalib di kota itu. Soal pemenggalan kepala ini, Imam Suyuthi meriwayatkan dari az-Zuhri dalam al-Mushannaf, “sama sekali tidak ada kepala yang dibawa di hadapan Nabi di Madinah, bahkan pada saat perang Badar. Orang pertama yang dibawa kepalanya di Madinah adalah Abdullah bin Zubair.” Semoga Allah menerima amal baiknya dan mengampuni segala dosanya, al-Fatiha.
.
Sampai di sini kalian mengerti kan, bahwa bentuk tegak dan melintang tak selalu identik dengan simbol atau proses penyebaran keyakinan/agama lain. Selain berfungsi untuk mengekspresikan kebrutalan kekuasaan, bentuk tegak melintang kadang hanya berfungsi sebagai tiang listrik, warangka keris, bahkan kadang hanya berfungsi sebagai jemuran celana. Tak usah baperan dech, Tadz!

Sumber : Status Facebook Makinuddin Samin

Monday, June 29, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: