Salaman Bersejarah

 

Oleh: Niken Satyawati

 
Peringatan HUT Kemerdekaan ke-72 RI di Istana Negara, 17 Agustus 2017 menyisakan peristiwa bersejarah. Setelah belasan tahun, akhirnya dua mantan presiden bertemu dan bersalaman. Sudah dua periode ketika Presiden SBY berkuasa, Megawati tidak menghadiri upacara di Istana. Dan pada dua kali peringatan serupa di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi), gantian Pak Beye yang absen.
Luka politik membuat hubungan kedua pemimpin bangsa yang sekaligus merupakan pentolan dan simbol partai besar di negeri ini jadi beku. Apalagi partai mereka selama ini tak hanya saling berhadapan di kancah pemilihan presiden, melainkan juga di berbagai Pilkada baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Mereka saling menjadi lawan politik di berbagai kontestasi perebutan kursi kepemimpinan nasional maupun daerah.
 
 
 
Namun kebekuan antara Pak Beye dan Bu Mega seolah sirna, dengan adanya peristiwa tak terduga kemarin. Pak Beye yang diduga banyak orang tak akan menghadiri upacara di Istana, ternyata datang bersama mantan Ibu Negara, Ani. Keduanya yang mendatangi tempat duduk Bu Mega, untuk menyalami mantan Presiden--satu-satunya yang berjenis kelamin perempuan ini. Ratusan ribu atau mungmin jutaan pasang mata melihat peristiwa langka itu dari layar gelas, Hasil jepretan dari momentum bersejarah ini pun segera viral di media online maupun di media sosial.
Dan setelahnya, kedua mantan presiden ini berfoto dengan mantan presiden yang lain yakni Pak Habibie, dan juga Presiden Jokowi beserta Wapres Jusuf Kalla. Apresiasi positif tak hanya datang dari mereka yang melihat dan hadir di sana/ Lebih dari itu hujan pujian menghunjam dari berbagai penjuru. Rakyat Indonesia bersorak, mengekspresikan kelegaan melihat para pemimpin bangsa akhirnya bersalaman, rukun satu sama lain.
Salaman bersejarah Pak Beye dan Bu Mega dan foto bareng mereka bersama pak Jokowi-Ibu Iriana, Pak JK-Ibu Mufidah dan Pak Habibie, konon menjadi foto paling viral tepat di peringatan HUT Kemerdekaan ke-74 RI. Hingga tulisan ini saya buat, masih saja ada kontak saya di media sosial yang membagikan kedua foto ini dengan disertai kalimat-kalimat positif.
Ada yang mengomentari salamannya, ada juga yang mengomentari betapa kerennya mereka dengan busana adat berbagai daerah di Indonesia. Pada satu sisi, ironis juga mengingat di era kini kita bangsa Indonesia masih harus menyemangati diri dengan simbol demi mengangkat isu-isu persatuan dan kebangsaan. Namun harus diakui dengan sedih, ini perlu dilakukan karena memang ada gerakan sistematis yang terus menggosok sentimen, demi mendorong potensi disintegrasi sambil berharap bisa mengambil keuntungan buat diri sendiri.
Akhirnya, banyak pihak berspekulasi tentang peristiwa salaman bersejarah ini. Adakah salaman ini merupakan simbol saja, dan pemirsa akan melihat kelanjutan yang lebih berarti. Misalnya saja: Demokrat dan PDIP berkoalisi? Andai itu terjadi untuk Pilpres 2019, maka akan menjadi koalisi besar yang sulit dikalahkan. Dan akhirnya, kelompok "anu" yang sebenarnya juga diundang ke Istana namun pilih menggelar upacara sendiri di luar sana, akan kembali gigit jari, untuk kesekian kali.
Berspekulasi boleh-boleh saja to? Ahhhh... apapun yang terjadi, semoga yang terbaik untuk negeri tercinta ini.
 
 
#salamanbersejarah
#SBYMega
#DemokratPDIP
#koalisinihyeee
 
(Sumber: Facebook Niken S)
Friday, August 18, 2017 - 22:30
Kategori Rubrik: