Salahnya Gibran Dimana?

Oleh: Wahyu Sutono

 

Ketika Gibran Rakabuming, putra sulung Presiden Jokowi berencana 'akan' maju berkontestasi pada Pilkada Solo tahun 2020 mendatang, sontak banyak netizen yang menanggapinya, baik yang mendukung, maupun yang menentang.

Bahkan ada yang hingga marah-marah kepada penulis saat bertanya tentang rencana Gibran maju menjadi Cawalkot Solo, karena penulis tak sepakat dengannya, dan menjawab bahwa hal itu sesuai hak kontitusionalnya. 

 

Penulis tentu sangat memahami kekhawatiran rekan-rekan yang tak setuju. Itu pasti karena menilai Gibran dianggap terlalu muda dan belum memiliki pengalaman di dunia politik. Selain dianggap politik dinasti, dan ada pula yang menyarankan agar lebih fokus pada dunia usaha yang sudah semakin maju, agar saat Jokowi pensiun, Gibran sudah lebih siap.

Disinilah yang penulis kurang sependapat dengan sahabatku yang pemarah itu. Perlu penulis jelaskan dulu agar lebih enak melihat persoalan ini, dan jelasnya bagi yang menentang biar nyaman, karena sejatinya Gibran 'Tidak Akan Maju Menjadi Cawalkot Solo', karena PDIP sangat mungkin mengusung pasangan Achmad Purnomo-Teguh Prakosa.

Lalu andai pun Gibran bisa maju berpasangan dengan Paundrakarna (cucu Bung Karno), ada beberapa alasan mengapa penulis justru mendukungnya :

1. FAKTOR USIA
Bila ada yang katakan terlalu muda, rasanya justru sekaranglah saatnya yang muda yang berkarya. Sebab yang senior pun tak lantas jadi jaminan pasti lebih baik dari yang muda. 

Di luar Indonesia banyak sosok muda yang berhasil menjadi pejabat publik. Bahkan Sebastian Kurz bisa menjadi Kanselir Austria pada usia 33 tahun, atau selisih 2 tahun dari Gibran, tapi sudah memimpin sebuah negara. Sedangkan Gibran hanya akan memimpin kota.

2. DUNIA USAHA
Banyak pejabat publik yang berlatar belakang pengusaha, dan itu baik-baik saja. Presiden pengusaha. Ketua DPR RI pengusaha. Para menteri sebagian diantaranya pun pengusaha. 

3. HAK KONSTITUSI
Siapa pun berhak maju memimpin kotanya, termasuk anak presiden sekali pun, selama semua persyaratan dapat dipenuhi.

4. DIINGINKAN WARGA
Nyaris mirip dengan ayahnya yang juga pengusaha, dulu Jokowi diminta beberapa kali untuk maju menjadi Walikota Solo. Semula ditolaknya, namun pada akhirnya bersedia dengan catatan tidak ada yang cawe-cawe.

Kini dialami juga oleh Gibran yang sebelumnya tak pernah berfikir menjadi Walikota, namun karena terus disarankan oleh warga, utamanya oleh beberapa kader partai, maka akhirnya Gibran pun bersedia, walau tidak sekarang.

5. POLITIK DINASTI
Jangan samakan seperti halnya keluarga Atut mantan Gubernur Provinsi Banten, yang keluarga besarnya memang menguasai Banten. Sedangkan Gibran maju yang kebetulan saja ia anak seorang presiden, dan itu bukan berarti aji mumpung. Justru sebagai putra seorang presidenlah ia memiliki mentor politik yang sudah mumpuni.

Karakter Gibran itu bukan tipe yang suka memanfaatkan fasilitas orang tuanya. Ia sangat mandiri. Itu terbukti ketika Pemkot Solo menawarkan kemitraan untuk usaha cateringnya ia tolak. Bahkan untuk sekedar melanjutkan usaha ayahnya pun ditolak juga, dan lebih memilih merintis dari bawah.

Mungkinkah Gibran akan memanfaatkan nama besar ayahnya? Rasanya orang secuex Gibran akan biasa-biasa saja, walau jelas itu sebuah modal dan keuntungan tersendiri. Megawati pun baik-baik saja membawa nama besar sang Presiden RI pertama Soekarno.

6. PENGALAMAN POLITIK
Bila ingat Jokowi saat maju menuju Walikota Solo, beliau sama sekali tak memiliki pengalaman politik, dan saat itu terhitung masih muda. Itu artinya sama dengan Gibran saat ini. Sama halnya dengan Nadiem Makarim dan Wishnutama yang tak memiliki pengalaman politik untuk menjadi menteri.

7. PEMIMPIN MASA DEPAN
Siapa tau saat Jokowi pensiun, Indonesia bisa berharap ada penggantinya dengan versi yang berbeda. Jangan menunggu 5 tahun dulu, karena waktu terus berjalan. Artinya bila Gibran sukses, butuh waktu 10 tahun untuk memimpin Solo, sebelum menjadi Gubernur atau Wakil Gubernur. Jadi bisa dibayangkan tahun berapa Gibran bisa menuju RI-1.

"Sebenarnya untuk menjadi pejabat publik, tolok ukurnya bukan hal yang remeh temeh, termasuk misalnya karena Gibran anak seorang presiden. Tapi pada integritas, rekam jejak, kemampuan manajerial, amanah, dan warga calon pemilih memang menghendaki. Yang pasti juga daripada lepas ke tangan orang lain yang masih meragukan, lebih baik ke tangan yang sudah terdidik dari seorang ayah yang kualitasnya sudah diketahui."

Jadi kenapa tidak bila Gibran maju?

 

(Sumber: Facebook Wahyu Sutono)

Thursday, October 31, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: