Salahkan Saja Presidenmu

ilustrasi

RedaksiIndonesia-Gambar ini lagi-lagi digunakan dengan premis untuk menyalahkan Presiden Jokowi yang sedang giat membangun infrastruktur di seluruh pelosok negeri.

"Mana infrastruktur yang kau bangga-banggakan, nyatanya masih ada jalan yang bergelimang lumpur ?"

Mungkin demikian kalimat yang ingin disindirkan kepada Presiden Jokowi, dengan mengabaikan tabayyun pada fakta-fakta yang ada, sebelum membuat sindiran yang salah alamat.

Saya sering menyatakan pada media ini, bahwa ujung pangkal ontran-ontran copras capres ini sebetulnya hanya para #RUWAIBIDHAH yang buta HUKUM TATA NEGARA tapi berbicara urusan-urusan publik.

Mereka ini tidak mengenal dan memahami SISTEM OTONOMI DAERAH, bahwa dalam pengelolaan negara ini ada pendistribusian wewenang antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, tapi menyalahkan segala hal di wilayahnya masing-masing kepada Presiden.

Tapi kan Pemda juga bawahan Presiden ?

Jika demikian logika yang kalian pakai, bukankah seharusnya ketika Zumi Zola melakukan korupsi dan penyalahgunaan wewenang, semestinya Presiden yang dibui, karena kesalahan bawahan yang harus bertanggung jawab atasan kan ? Tapi kenapa tidak demikian ? 
Hayo jawaben dengan mulut julidmu itu...!

Faktanya, jalan berlumpur yang fotonya sengaja diviralkan ini adalah jalan kabupaten di wilayah Sumatera Selatan yang menjadi tanggung jawab Gubernur wilayah tsb. Yang harus menganggarkan dananya adalah Gubernur pada APBD nya.

Mengapa demikian ? 
Karena Pemerintah Pusat sudah mentransfer dana APBN kepada para Kepala Daerah untuk membangun wilayahnya masing-masing.

Jadi sobat julid, sebelum kalian ingin menyalahkan Presiden Jokowi, telisik dulu apakah Kepala Daerah kalian sudah menjalankan tugasnya dengan baik..sebelum potong kompas memotong jalur birokrasi langsung kepada Presiden.

Yang menjadi kemirisan adalah warga setempat saja tahu kemana harus memprotes. Mereka sengaja memviralkan jalan berlumpur tersebut sebagai protes kepada Kepala Daerahnya yang tak kunjung memperbaiki jalan dimaksud. 
Tapi sobat julid yang tidak mengenal kata "tabayyun", meski bakul buku sekalipun, menggunakan gambar ini sebagai bahan gorengan untuk menyalahkan Presiden Jokowi, hanya karena pengaruh dari copras capres 2019 ini.

Saya ingin mengajak sobat julid, untuk #merenung sejenak dan berpikir logis!
Terlepas dari bacaan-bacaan WAG yang rutin kalian baca..

Sebenarnya di manakah salah Presiden Jokowi dalam arah pembangunannya ?
Mengapa pembangunan infrastruktur dinyinyiri saat di waktu yang sama banyak rakyat membutuhkannya ?

Tunjukkan di mana kesalahan kebijakan Presiden Jokowi, dengan benar-benar bisa menunjukkan, bukan hanya sekedar #mencopas dari pernyataan-pernyataan politisi yang sepandangan politik, padahal mereka sendiri sering melakukan #paradoks.

Misalnya, Fadli Zon yang menyatakan "rakyat tidak makan infrastruktur", di sisi lain Cawapres Sandiaga Uno mengkritisi pembangunan infrastruktur yang belum merata dengan menyitir kisah warga di Sulawesi yang harus berjalan puluhan kilometer untuk mengantarkan jenazah kerabatnya ke pekuburan karena belum ketersediaan jalan yang bisa dilewati kendaraan, termasuk menjanjikan pembangunan infrastruktur jalan tol yang lebih massive. Terdengar paradoks ?

Saya tidak bermaksud mengkampanyekan Capres Petahana, sama sekali postingan ini bukan tentang kampanye copras capres, 
hanya ingin mengajak sobat julid menjadi rakyat yang #cerdas lagi #kritis.
Agar tidak mudah disetir oleh kepentingan para politisi manapun.

Karena yang menentukan kemajuan bangsa ini ada di tangan rakyat-rakyat yang cerdas itu sendiri. 
Rakyatlah yang menentukan politisi siapa yang akan duduk menjadi pemimpin kita. Dan hanya rakyat yang sudah cerdas akan mendudukkan seorang politisi yang kompeten, salah satunya yang bicaranya tidak paradoks!

Keluhan seperti jalan berlumpur hanyalah satu kasus dari sekian banyak contoh, penyesalan rakyat yang sebelumnya tidak cerdas dalam memilih Kepala Daerah yang tidak kompeten, sehingga meninggalkan lubang-lubang pembangunan dan pelayanan publik yang buruk bagi rakyat.

Lubang-lubang yang buruk itulah yang sedang coba ditutupi & diperbaiki oleh Presiden Jokowi. 
Presiden mendorong percepatan dan pemerataan pembangunan di daerah dan apa yang sedang berusaha beliau lakukan ini banyak diapresiasi oleh rakyat di daerah.
Karena apa yang dilakukan Presiden Jokowi menutupi inkompetensi kinerja para Kepala Daerah mereka sendiri.

Seperti pengalaman yang saya alami sendiri di Jawa Barat.

Tahun 2013 Mantan Gubernur Ahmad Heryawan berkampanye untuk periode ke-2 nya bahwa air sungai Citarum akan dapat diminum (note: sungai Citarum dicatat sebagai sungai paling tercemar sedunia! ). Namun janji tinggal janji, dengan kinerja yang minim pembangunan, hingga jelang akhir masa jabatannya di tahun 2018, sungai Citarum tidak diapa-apakan. 
Baru dengan arahan Presiden Jokowi proyek Citarum Harum dikerjakan dan hanya dalam waktu 1 tahun sungai Citarum berhasil dibersihkan, catat: 1 tahun!

Ini hanya salah satu contoh bagaimana Presiden Jokowi menutupi inkompetensi kinerja para Kepala Daerah yang dipilih oleh rakyat daerah yang belum cerdas!

Maka, jadilah RAKYAT YANG CERDAS! 
Agar kita semua hanya akan menempatkan politisi-politisi kompeten menjadi para pemimpin kita, bai Pemimpin Daerah maupun Pemimpin Nasional.

Bukan sebaliknya, kita yang disetir oleh kicauan para politisi bermulut paradoks agar mendudukkan mereka menjadi pemimpin kita.

Stop sampai di sini, jalan-jalan berlumpur!
Mungkin salah satu jalannya dengan mensucikan hati kita dari #lumpur #kebencian --tanpa alasan-- yang akan menumpuk dosa..

Sumber : Fanspage Opinipedia

Sunday, March 10, 2019 - 17:00
Kategori Rubrik: