Salah Tafsir Pasal Kumpul Kebo

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal kumpul kebo dan LGBT ditanggapi raungan tangis keras-keras dari banyak pihak yang kemakan isu kulit yang dangkal tanpa memahami isi putusan dan duduk perkaranya. Mereka adalah orang pemalas yang kepalanya terus panas hingga selalu terjebak dan dimainkan emosinya oleh banyak pihak yang mengambil untung dari gorengan isu ini.

Mereka berkoar koar bahwa MK melegalkan kumpul kebo dan LGBT. Dan kebodohan ini diviralkan kemana-mana. Bahkan dikaitkan dengan kejadian gempa semalam. Katanya Tuhan marah sama putusan MK. Gimana nalarnya coba..

Padahal sejatinya, putusan MK hanya berbunyi menolak kriminalisasi kumpul kebo, perzinahan dan LGBT sebagaimana yang diajukan oleh pemohon. Ini diluar wewenang MK karena kriminalisasi membutuhkan Undang-Undang baru yang ranahnya adalah DPR.

Menolak kriminalisasi bukan berarti membolehkan kumpul kebo atau LGBT. Lagipula, mari kita berfikir jernih. Sejak kapan negeri ini melegalisasi perzinahan, LGBT dan kumpul kebo? Tidak pernah ada Undang-Undangnya !! Jadi kalau mau menjadikan kelakuan seperti itu sebagai kejahatan, silahkan ke DPR jangan ke MK.

Negara tidak boleh masuk ke ranah privat warganya melalui hukum yang memberi sanksi pidana. Biarkan ranah masyarakat dan sosial yang mengaturnya. Adalah tanggung jawab keluarga dan masyarakat serta pemuka agama untuk menghindarkan masyarakat dari perbuatan asosial menurut budaya dan nilai moral kita.

Jadi meminta negara mengkriminalisasi perbuatan demikian, sesungguhnya adalah penghinaan terhadap pemuka agama dan tokoh masyarakat. Mereka dianggap tidak mampu dan tidak becus menjalankan tugas mengurus umat dan masyarakatnya.

Sementara bagi mereka yang LGBT dan yang mendukungnya, hendaklah diingat bahwa putusan MK bukanlah kemenangan. Saya anti LGBT tapi menghormati hak hidup dan sosial mereka sebagai manusia tapi tidak pada perilakunya. Anda tidak pernah akan mendapatkan kesetaraan negeri ini sampai pernikahan beda agama dilegalkan.

Yang terbaik adalah don't ask and don't tell. Jadi jangan macam-macam. Atau hijrah ke negara yang melindungi kalian.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Saturday, December 16, 2017 - 21:15
Kategori Rubrik: