Salah Pilih Gubernur

ilustrasi
Oleh : Supriyanto Martosuwito
Anies Baswedan bukan hanya layak dikenangkan sebagai gubernur sektarian - menang pilkada akibat jualan ayat dan mayat. Melainkan juga gubernur yang membawa bencana.
Hujan dan banjir yang turun tiap tahun tidak pernah diantisipasi dan ditangani dengan lebih baik, melainkan dibicarakan, dibahas, didiskusikan di ruang pertemuan. Di luar jalanan tergenang dan makin banyak saja mobil yang kelelep air.
Sudah 3 tahun 4 bulan, dia jadi orang pertama di Balaikota tapi belum ada kemajuan yang bisa dirasakan secara nyata untuk mencegah banjir : problem utama ibu kota dari dahulu kala. Kalau ditanya solusi banjir, jawabannya cuma retorika atau malah menyalahkan cuaca dan pihak-pihak lain.
Sekali lagi - bencana fatal yang menimpa warga ibukota dengan kerugian triliunan adalah akibat salah pilih gubernur. Akibat pemimpin yang banyak omong - minim kerja. Tak ada terobosan sama sekali, cuma genit genitan. Kenes. Segala ngecat trotoar, ngecat jembatan. Bikin jaring sungai. Tidak relevan dengan problem nyata warga ibukota yang harus dituntaskan.
Dan dia tak punya rasa malu. Tetap percaya diri dan merasa benar.
Pendukung Anies membanggakan macet yang berkurang. Dia mengabaikan peresmian dan beroperasinya toll atas Cikampek dan wabah pandemi Covid 19 dimana sebagian kantor kegiatan bisnis tutup.
Para wakil rakyat dan politisi Kebon Sirih pun menghalalkan segala cara untuk mendukung junjungannya. Oposan tak berdaya karena ikut kebagian APBD-nya. Yang waras dan idealis jadi minoritas.
Kali ini klas menengah yang jadi korbannya. Pemukiman orang kaya terdampak banjir.
Pelajaran untuk orang orang kaya. Jangan cuek sama politik. Sekarang Jakarta dikuasai Taliban Baswedan.
Kalau Anda gak perduli pada siapa gubernur di ibukota, maka rasakan saja ketika pemukiman Anda, asset Anda, puluhan mobil Anda semua mengapung. Anda tak peduli dan membiarkan Anies menang. Anda selama ini tak terganggu oleh ulahnya.
Jokowi Ahok dan pemerintah pusat sudah membuat proyek sodetan Ciliwung di Jatinegara, tapi tak ada eksekusi lanjutannya, membuat saluran mandeg. Anies takut menggusur 600 keluarga di sana karena merugikan secara politik. Tapi dia mengorbankan warga ibukota secara keseluruhan.
Para politisi terus membelanya. Menimpakan kepada pemerintah pusat dan daerah penyangga. Anggaran penanggulangan banjir Rp 4 triliun tak jelas peruntukannya. cuma buat beli speaker Toa sama perahu karet.
Pengungsian para korban banjir jadi obyekan oknum. Makin banyak pengungsi, makan pesta oknumnya. Bukan rahasia lagi. Karenanya banjir di ibukota dilestarikan.
Anies Baswedan mengatakan salah satu penyebab banjir di sejumlah wilayah Ibu Kota adalah hujan dengan intensitas ekstrem yang terjadi pada Jumat malam-Sabtu pagi, 19-20 Februari 2021.
Dia itu apa? Pak RT ? Hansip? Mosok gubernur ibukota nggak antisipatif?!
Sebelumnya dia menyebut banjir Jakarta disumbang kiriman air dari hulu.
Pokoknya alasannya ada aja.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 2 Januari 2020, terdapat 63 titik banjir di wilayah DKI Jakarta dan secara keseluruhan terdapat 169 titik banjir untuk Jabodetabek dan Banten.
Pernyataan Anies tersebut bertolak belakang dengan fakta yang ada di lapangan. Anies sebagai gubernur tidak bisa menyalahkan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.
Sekali lagi kepada siapa saja - jangan cuek sama politik. Jangan pilih gubernur karena iman, kerena tampang dan tongkrongannya. Karena latar belakang pendidikan dan kepandaiannya bermain kata kata. Atau keturunan. Catat rekam jejaknya.
Mahal sekali ongkos yang harus ditanggung rakyat akibat salah pilih pemimpin wilayah yang asbun ini. ***
Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito
Saturday, February 27, 2021 - 14:45
Kategori Rubrik: