Salah Ketik dan Salah Kutip

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Untunglah hanya salah ketik. Bukan salah ketuk, salah milih pacar, atau salah milih gubernur. Bayangkan, kalau kita salah ketuk. Yang mestinya diketuk, mungkin akan tersinggung; Kok malahngetuk gundul liyan?

Bayangkan kalau salah milih pacar, atau milih gubernur. Puyeng kan yang jadi bawahan? Apalagi daleman. Pasti pesing banget. Mau stafnya kek, Sekdanya, Kepala Sudin, Amir, Tuti, juga Togop! Togop dan Mbilung.

 

Kalau rakyat salah milih, mah, gpp. Sudah biasa. Namanya juga rakyat. Rakyat salah mbaca saja juga gpp. Baru kalau mereka diancam penjara, gara-gara UU-ITE atau ngelawan petugas, ngamuklah sebisanya. Salah milih gubernur, toh besok bisa diganti? Yang susah kan milih wakil gubernur?

Kata Ali bin Abi Thalib, barulah dalam soal mentalitas, paling sulit memperbaiki. Kalau salah ketik, mah, jangankan minta dikoreksi, minta dihapus dari meta-data computer pun, bisa dilakukan mahasiswa diploma semester awal.

So? Janganlah menganggap salah ketik sebagai hal yang serius. Jangan pula dianggap sesuatu yang berat. Lha wong Ridwan Saidi saja, yang entah kapan matinya, masih bisa bilang sejarah kita banyak bo’ongnya. Itu jauh lebih berbahaya dibanding salah ketik, kan? Kan atau enggak kan?

Saking banyak bo’ongnya, kita juga nggak percaya sejarah Ridwan Saidi dulunya gimana. Bodoh atau dungu? Padal ngaku puluhan tahun berlajar 30 bahasa. Sayangnya, saya nggak ketemu guru-gurunya, apakah bahasa sebanyak dan selama itu dipejari, ia kuasai atau tidak? Kalau liat cara ngomongnya, yang khas aliran ILC-an, sulit dipercaya orang itu seorang pembelajar. Apalagi jujur. Tapi nggak bagus kan ngomongin orangtua dongok? Karena ternyata lebih dari dongok!

Persis para tukang goreng hari-hari ini, yang menyerang Prof Yudian, Kepala BPIP yang kemarin dilantik Presiden. Beliau ini santri lulusan Tremas dan Krapyak. Kita tahu ilmu apa yang dikuasai. Lagian, ia juga santri yang nembus Harvard University. Itu artinya bukan orang bodoh. Apalagi dibanding tukang adu-domba cem Fadli Zon cs. Prof Yudian bukan tandingan yang di MUI, palagi wasekjennya yang suka ngetuit nggak mutu. 

Yang bukan tukang goreng akan tahu, apa yang disampaikan Prof Yudian, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia berani mengultimatum mahasiswinya untuk tak bercadar selama menjadi mahasiswi UIN Suka, sebuah kampus beragama namun moderat dan sekaligus sekuler. Bukan kampus yang mengeksploitasi agama, melainkan mengeksplorasi adab manusia beragama. 

Selamat bertugas Prof! Tapi jangan terlalu banyak gorengan. High cholesterol, apalagi dengan minyak jelantah, yang 4-7 kali dipakai menggoreng. Juga jangan terlalu sering melayani doorstopan. Jika ketemu yang daya literasinya rendah, tak mampu membaca teks, apalagi mengaitkan jadi konteks, bisa runyam. Karena salah kutip bisa lebih berbahaya dari salah ketik. Kalau salah ketik, kan cuma karena kehabisan alasan? Jadi makin cek-ecek ‘kan? Nggak mutu ‘kan? Kan!

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Tuesday, February 18, 2020 - 17:15
Kategori Rubrik: