Salah Kaprah Tes Covid

ilustrasi
SALAH KAPRAH TES COVID (APA YANG PERLU KITA TAU BIAR NGGA GAMPANG NGEJUDGE)
Oleh : dr. DwiNov
Banyak yang bertanya begini,
"Dok, rapid positif maknanya apa, saya kena covid ya dok?"
"Dok, rapid antigen itu benda macam apa lagi? Yang sekarang heboh harus rapid antigen sebelum bepergian. Bedanya dengan rapid yang kemarin2 apa?"
"Dok, rapid saya negatif tapi karena gejala mengarah ke covid, sama dokter di PCR, PCR nya positif. Kok bisa begitu dok?"
"Dok, saya sudah isolasi mandiri 14 hari, sekarang sudah tidak ada gejala, tapi PCR saya masih terus positif?"
dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya terkait bermacam jenis tes covid ini.
Supaya sahabat paham, saya jelaskan 3 jenis alat tes yang sering dipakai untuk covid di negeri +62 ini yaa. Supaya tidak ada yang mispersepsi dan menganggap alat tes ini tidak akurat atau menganggap tes tes ini hanya konspirasi belaka. Padahal kita saja yang tidak mengerti timing yang tepat dan interpretasinya dalam menggunakan alat-alat tes ini.
*CATATAN PENTING:
~Swab adalah metode pengambilan sampel dengan mengambil apusan menggunakan lidi kapas (semacam cotton bud panjang) di nasofaring (dengan colok hidung sampe mentok) dan orofaring (colok rongga mulut sampe mentok). Jadi swab BUKAN jenis tes. Menyebutkan "saya barusan tes swab" adalah tidak lengkap. Harus dilengkapi dengan Swab-PCR atau Swab-TCM atau Swab-ANTIGEN. Gambar 1.
~Hasil pemeriksaan rapid antibodi adalah REAKTIF atau NON REAKTIF bukan positif negatif. Untuk rapid antigen/swab antigen, penyebutan yang benar adalah POSITIF (ditemukan protein virusnya) dan NEGATIF (tidak ditemukan protein virusny). Jika menyebutkan tes rapid harus jelas yang dimaksud rapid antibodi atau antigen.
~Hasil pemeriksaan PCR dan TCM adalah POSITIF (ditemukan RNA/materi genetik virusnya) dan NEGATIF (tidak ditemukan RNA virusnya).
~Infeksius= bisa menularkan
~Masa inkubasi= rentang waktu sejak terinfeksi/terpapar sampai muncul gejala
Jadi, ada 3 macam tes covid yang dikenal saat ini.
1. Rapid Antibodi, yang dulu-dulu sebelum masuk rapid antigen di Indonesia dijadikan syarat perjalanan oleh Pemerintah. Harga maksimal sesuai edaran pemerintah 150 rb, hasil keluar dalam 15-30 menit. Prinsip kerjanya adalah mendeteksi antibodi yang ada dalam darah. Makanya sampel yang diambil adalah darah. Antibodi itu apa? Antibodi adalah protein spesifik yang dibentuk oleh sistem imun kita untuk melawan kuman (baik bakteri maupun virus). Antibodi itu sifatnya SPESIFIK. Artinya, dia hanya bisa berikatan dengan antigen (protein yang ada pada si kuman baik bakteri maupun virus tadi) yang kompatibel. Jadi antibodi covid hanya bisa berikatan dengan antigen covid. Tidak bisa berikatan dengan antigen virus DBD atau virus Influenza, dll seperti hoax yang beredar bahwa flu biasa pun rapidnya reaktif (clear ya ini hoax). Jika dalam darah penderita ada antibodi covid, maka antigen buatan yang ada di alat tes akan mengikat antibodi di sampel darah dan muncul garis merah di kolom IgM dan/atau IgG (lihat gambar 2). Hasilnya berarti REAKTIF (bukan positif yaa bacanya). Antibodi itu ada 2 jenis, ada IgM dan IgG. IgM adalah antibodi yang muncul di pekan ke-2 setelah terinfeksi dan cepat turun dalam beberapa hari berikutnya. Sedangkan IgG muncul belakangan setelah IgM namun kadarnya menetap sampai kurang lebih 3 bulan an setelah terinfeksi. Untuk alat tes dengan indikator IgM dan IgG, interpretasinya seperti di gambar 3.
Pertanyaannya:
1. Mengapa ada orang yang PCR nya POSITIF covid namun Rapid Antibodi nya NON REAKTIF?
Jawab: karena perlu waktu sejak terinfeksi covid sampai muncul antibodi untuk melawan infeksi tersebut. Antibodi pada orang yang baik sistem imunnya baru muncul di PEKAN KE-2. Baru setelah terbentuk antibodi, akan terdeteksi oleh rapid antibodi. Berbeda dengan PCR yang bisa mendeteksi keberadaan RNA virus sejak hari-hari awal terinfeksi (masa inkubasi, belum bergejala). Selain itu, pada yang imunnya kurang bagus, antibodi juga lebih lambat terbentuk sehingga tidak terdeteksi di alat. Untuk itu, biasanya ketika dokter menemukan pasien yang gejalanya covid banget tapi Rapid Antibodi nya NON REAKTIF biasanya akan dilanjutkan konfirmasi PCR. Jika perlu dirawat inap pun, akan dimasukkan ke ruang isolasi (walau belum keluar hasil PCR nya) karena memang rapid antibodi saja tidak memadai untuk menentukan statusnya kena covid apa tidak. Jadi jangan ngamuk2 dulu, "rapid saya/keluarga non reaktif kok dimasukkan ruang isolasi dan dianggap covid". RS nih lagi konspirasi cari duid. Wah wah, hati-hati dosa fitnah nih.
2. Apakah tepat menggunakan rapid antibodi sebagai syarat perjalanan?
Jawab: TIDAK TEPAT menggunakan rapid antibodi sebagai syarat perjalanan. Karena bisa jadi, seseorang itu sudah terinfeksi dan sudah berpotensi menularkan (masa inkubasi), namun antibodi belum terbentuk sehingga tidak terdeteksi. Kebayang ngga sih, kemarin-kemarin orang-orang berbaur dalam kendaraan umum, merasa clear karena rapid antibodinya negatif padahal belum tentu beneran bebas covid. Juga para artis yang katanya sebelum manggung pada rapid antibodi rame-rame. haha hihi tanpa masker merasa aman, padahal ...
3. Apakah rapid antibodi bisa dijadikan alat diagnostik covid?
Jawab: TIDAK BISA menjadi dasar diagnosis covid. Karena bisa jadi sudah terinfeksi tapi hasilnya masih negatif (karena belum muncul IgM IgG nya). Pun sebaliknya, IgG akan tetap reaktif walaupun sudah sembuh. Rapid antibodi itu berguna untuk follow up pada pasien-pasien covid untuk melihat apakah kekebalan tubuh sudah muncul. Dan digunakan juga sebagai alat skrining untuk melihat apakah seseorang sudah pernah terinfeksi atau belum (ini pun harus dikombinasi dengan alat tes lain seperti rapid antigen atau PCR). Selain itu, rapid antibodi yang beredar pun merknya buanyak sekali (di online ada yang murah ada yang mahal). Dan tidak semua merk tersebut cukup baik akurasinya (ada yang akurasinya cuma 30% bahkan).
2. RAPID ANTIGEN ATAU SWAB ANTIGEN
Berbeda dengan rapid antibodi, rapid antigen mendeteksi PROTEIN milik si covid. Jadi kalau diibaratkan maling dan satpam, rapid antigen mendeteksi baju yang dipakai si maling, sedangkan rapid antibodi mendeteksi respon satpam yang mengejar-ngejar maling. Sampelnya diambil dari nasofaring (belakang hidung) sama seperti swab PCR makanya disebut sebagai swab Antigen. Ingat, swab itu adalah julukan cara mengambil sampelnya ya (yang dicolok-colok itu). Namun alatnya mirip dengan test pack nya rapid antibodi (lihat gambar 4). Hasilnya pun cepat, hanya 20-30 menit kelar. Rapid antigen ini cukup akurat jika digunakan dalam waktu 7 HARI SEJAK TERINFEKSI (PEKAN KE-1). Atau maksimal hari ke-3 sejak timbul gejala (karena gejala biasanya muncul di hari 5 sejak virus masuk ke dalam tubuh). Rapid antigen yang positif menunjukkan jumlah virus dalam sampel banyak dan berarti orang itu sangat infeksius.
Pertanyaannya :
1. Tepatkah sebagai syarat perjalanan?
Jawab: cukup tepat. Karena yang positif berarti viral load banyak di orofaring dan sangat menular. Akan lebih baik jika dikombinasi dengan rapid antibodi untuk melihat apakah sudah terbentuk antibodi IgM atau IgG nya.
2. Bisakah menggantikan Swab PCR untuk konfirmasi Covid?
Jawab: Tidak bisa menggantikan sepenuhnya. Hanya dalam panduan WHO terbaru, pada daerah yang minim fasilitas PCR (fasilitas lab PCR jauh, butuh berhari-hari untuk dijangkau, butuh hasil cepat) DIMAKLUMI untuk digunakan sebagai diagnostik Covid.
2. Apa kekurangan rapid antigen?
Jawab: Timing penggunaannya terbatas. Akurat hanya di minggu pertama infeksi. Terutama saat puncak gejala dan jumlah antibodi belum banyak terbentuk. Ketika tidak bergejala atau waktu kapan terinfeksinya tidak jelas, hasilnya bisa menunjukkan negatif padahal bisa jadi PCR nya masih positif (negatif palsu).
3. SWAB PCR dan SWAB TCM
Swab PCR dan Swab TCM adalah yang menjadi acuan utama dalam konfirmasi kasus Covid karena akurasinya mencapai 95%. Prinsip kerjanya dengan mendeteksi RNA (materi genetik) virus Covid. Kalau di analogi maling dan satpam tadi, PCR/TCM Swab mendeteksi keberadaan si maling itu sendiri. Bukan cuma bajunya aja kaya rapid Antigen.
1. Apa bedanya PCR (Polymerase Chain Reaction) dan TCM (Tes Cepat Molekuler)?
TCM menggunakan mesin GenXpert yang sebelumnya dipakai untuk deteksi kuman TB. Kapasitas per running mesin terbatas (hanya sekitar 4 spesimen saja). Penggunaannya pun terbatas karena berbagi juga untuk pemeriksaan TB. Kelebihannya, hasilnya cepat hanya 1-2 jam. Sedangkan PCR menggunakan mesin PCR (kapasitas bisa sampai 500 spesimen lebih sekali running). Hasilnya relatif lebih lama. Running di mesin sekitar 6-8 jam.
2. Kalau running PCR cuma 6-8 jam tapi kok di Puskesmas atau di faskes saya hasil bisa sampai 3 hari bahkan dulu banget bisa sampai 1 minggu?
Karena faskes tersebut bisa jadi tidak punya alatnya, hanya ambil sampel aja lalu dikirim ke lab yang mampu mengerjakan pemeriksaan. Di lab, biasanya sampelnya banyak (karena menerima darimana-mana) sehingga antri itu sampel untuk masuk mesin. Makanya hasilnya bisa berbeda-beda tiap faskes tergantung apakah dikerjakan dilab sendiri, jumlah alat yang operasional, dan antrian sampel yang diperiksa.
3. Apa kelebihan dan kekurangan swab PCR?
Kelebihan: akurasi tinggi. Mampu mendeteksi sejak 1-2 hari terinfeksi (pekan ke-1) bahkan sebelum ada gejala.
Kekurangan: MAHAL (apalagi kalau biaya sendiri), hasil lama (tergantung faskes ya, di RS saya sehari keluar hasil), dan PCR TIDAK BISA membedakan RNA yang terdeteksi apakah dari virus hidup (yang artinya bisa menular) atau dari bangkai virus mati (tidak menular). Untuk memastikan virus hidup atau mati idealnya didapatkan dari kultur virus. Hanya saja kultur ini hasilnya bisa berminggu-minggu bahkan hitungan bulan (makanya dipakai hanya untuk penelitian, jarang untuk pengelolaan pasien).
4. Saya sudah isoman hampir 1 bulan, hasil PCR ulang masih positif terus padahal tidak ada gejala. Bagaimana? Apakah saya masih mungkin menularkan?
Jawab: Seperti disebut sebelumnya. PCR tidak bisa membedakan RNA yang dideteksi dari virus hidup atau bangkai virus mati. Oleh karena itu, biasanya dilihat lagi CT (Cycle Threshold) nya. CT itu jumlah putaran yang diperlukan untuk mendeteksi RNA virus. CT rendah berarti dalam jumlah putaran yang sedikit sudah ditemukan RNA virus. Berarti virusnya jumlahnya banyak dan berdasarkan penelitian (mereka mengkultur si sampel ini) ternyata nilai CT rendah itu berkorelasi dengan virus hidup yang banyak pula (infeksius berarti kalau banyak virus hidupnya, lihat gambar 5). CT rendah itu berapa? Ambang batasnya tergantung merk mesin PCR dan reagennya (beda-beda, lihat gambar 6). CT dibawah 30 jelas infeksius, sedangkan semakin mendekati 40 semakin sedikit virus dan kecil potensi menularkan. Berapa pun nilai CT nya, kalau positif, saran saya tetap ISOLASI 10 hari + 3 hari bebas gejala (untuk yang bergejala). Atau dibuledin sekalian jadi 14 hari, insya Allah udah aman.
Jadi jelas yaa. Tiap tes ada "Golden Period" nya (lihat gambar 7).
~PCR/TCM : sejak masa inkubasi (pekan ke-1) hingga masa penyembuhan.
~Rapid Antigen : Hanya di Pekan-1 (Masa Inkubasi-awal gejala)
~Rapid Antibodi : Setelah Pekan ke-2
BERAPA LAMA HASIL TES-TES INI BERLAKU?
Kesemuanya berlaku hanya PADA SAAT TES DILAKUKAN. Lho bukannya 7 hari? 3 hari? Nah, ini letak mispersepsi berikutnya. Padahal hari yang dimaksud ini adalah masa berlaku surat keterangannya (ini ngikut gimana aturan kemenhubnya aja kalau untuk syarat perjalanan). Jadi pulang swab PCR terus misal ngemall rumpi-rumpi di restoran, eh ternyata salah satunya bawa virus covid, terpapar deh. Terus 3 hari kemudian hasil swab PCR keluar hasilnya negatif (status ini adalah sebelum ngemall rumpi2), padahal bisa jadi saat orang ini terima hasil tes, udah mulai meriang2 anosmia, dan statusnya mungkin sudah ganti jadi positif, tapi karena tesnya 3 hari yang lalu sebelum rumpi di mall jadi negatif. Kebayang ya? Letak salah kaprahnya?. Idealnya setelah menjalani tes covid apa pun baik swab PCR, swab antigen, dll langsung isolasi mandiri sambil menunggu hasil. Jadi misal saat keluar hasil positif/reaktif, ngga heboh ingat-ingat siapa saja yang pernah kontak sejak dilakukan tes tersebut. Dan kalau hasil negatif/nonreaktif, murni memang negatif.
Untuk syarat perjalanan, yang lebih aman, tes sebaiknya dilakukan 2 jam sebelum keberangkatan di bandara, stasiun, pelabuhan, atau terminal angkutan umum (jika memungkinkan). Bukan 2 hari sebelumnya apalagi 7 hari sebelumnya. Jadi yang negatif/non reaktif beneran murni ngga kontaminasi lagi dari orang yang interaksi. Karena ngga ada yang menjamin, setelah tes, orang-orang ini akan ngider kemana aja (kecuali masyarakat pada manut patuh setelah tes ngga kemana-kemana, tapi kayaknya susah ya).
JADI JADI? Sahabat udah nyobain tes yang mana aja? Kalau saya sudah PCR Swab 4 kali dan rapid antibodi 1x. Stay safe yaa.. Jangan merasa "pasti" bersih. Bisa jadi kita salah satu silent spreader (karena ngga semua orang dites, dites pun, hasilnya itu hanya menggambarkan detik menit saat kita dites saja). Jadi balik lagi, MASKER dipake bener-bener. Juga 3M lainnya. Semoga wabah segera berakhir, dan bebas silaturahim tanpa khawatir berujung musibah ke diri sendiri/orang lain. Aamiin yaa robb.
 
Sumber : Status Facebook Dwinov
Friday, January 8, 2021 - 10:15
Kategori Rubrik: