Salah Kaprah Soal Adab

ilustrasi
Oleh : Mamang Haerudin
Jadi tidak boleh mengatasnamakan adab untuk kepentingan ego diri dan apalagi sampai memelintir makna adab itu sendiri. Kalau sekadar hormat, kepada siapapun kita harus menghormati. Tak pandang apakah ia perempuan atau laki-laki, tua atau muda, miskin atau kaya. Kita ini semuanya setara di hadapan Allah. Jadi kalau ada orang yang merasa ia harus dihormati, inginnya dihormati, hanya karena ia punya jabatan tinggi, usianya lebih tua, punya harta banyak dan seterusnya, dalam hal ini sudah tidak lagi berlaku adab, akhlak, atau pun etika. Lebih baik kita mengalah, tak perlu membuang-buang waktu.
Saya sendiri misalnya mencium tangan salah seorang Kiai. Dasarnya bukan lagi karena ikut-ikutan kebanyakan orang, bukan basa-basi dan anggah-ungguh yang tidak jelas. Keputusan untuk mencium tangan orang lain ini atas dasar logika dan hati nurani. Namun memang harus saya akui, bahwa dalam kehidupan nyata, ada kalanya saya tidak bisa mengelak oleh sistem sosial yang menunjukkan adanya relasi "senior dan junior", "atasan dan bawahan", untuk mendobrak salah satu kebiasaan buruk dalam sistem sosial ini tidak mudah. Oleh karena itu, kerap kali saya terpaksa atau dipaksa harus pura-pura hormat atau basa-basi yang tidak perlu.
Salah kaprah soal adab juga ada kaitannya dengan orang yang dekat dengan karakter pemarah atau emosional. Bahkan dalam level tertentu, akan timbul hasrat untuk menjatuhkan seseorang. Kenapa ia berani marah? Karena ia merasa paling berkuasa. Selain juga merasa tinggi status sosialnya, merasa punya jabatan dan harta banyak. Oleh karena itu, saya mengajak agar kita menghentikan kebiasaan buruk memelintir adab, menyalahgunakan urgensi akhlak, keliru dalam menempatkan etika. Bagaimana caranya? Pahami dan sadarilah bahwa semua makhluk, terutama manusia diciptakan dengan kedudukan yang setara. Allah tidak melihat wajah, pakaian dan harta manusia, yang Allah lihat itu kualitas perilaku kita.
Saya harus bisa menghormati anak kecil sekalipun. Berat, tetapi harus dibiasakan. Sebab yang biasanya mengemuka kan begini: kepada yang lebih muda menyayangi, kepada yang lebih tua menghormati. Saya tidak begitu. Kepada siapapun, kepada yang muda atau tua, miskin atau kaya, perempuan atau laki-laki, semuanya harus dihormati. Masya Allah, rasa-rasanya kalau adab dipakai dengan bijak dan dewasa, realitas sosial kita pasti setara dan tidak ada yang merasa paling berkuasa.
Wallaahu a'lam
Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)
Monday, January 18, 2021 - 08:45
Kategori Rubrik: