Salah Kaprah, Mendewakan (MenTuhankan) Manusia

ilustrasi

Oleh : Jessie

Ahmad Syafii Maarif: yang mendewa-dewakan keturunan Nabi adalah perbudakan spiritual.
.
Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si.: kultus tokoh tidak perlu dikembangkan, simbolisasi bisa terjebak syirik/menduakan Allah.
.
Ketua Umum Rabithah Alawiyah Sayyid Zen Umar bin Smith:
saat ini banyak orang yang mengaku sebagai seorang habib, padahal bukan. ‘Gelar’ habib, tidak bisa disematkan kepada setiap sayyid. Setiap habib harus sayyid, tetapi sayyid belum tentu habib. Seorang sayyid, lanjutnya, tidak bisa mengatakan bahwa dirinya sendiri adalah habib.
Pengakuan habib harus melalui komunitas dengan berbagai persyaratan yang sudah disepakati. Di antaranya cukup matang dalam hal umur, harus memiliki ilmu yang luas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, ikhlas terhadap apapun, wara atau berhati-hati serta bertakwa kepada Allah.

Dan yang paling penting, lanjutnya, adalah akhlak yang baik. Sebab, bagaimanapun keteladanan akan dilihat orang lain. Seseorang akan menjadi habib atau dicintai orang kalau mempunyai keteladanan yang baik dalam tingkah lakunya. Maka, kata dia, menjadi aneh jika seseorang mengaku-ngaku dirinya adalah seorang habib.

Budayawan/Ulama Emha Ainun Nadjib berpendapat, tidak tepat jika RS disebut sebagai seorang habib. Cak Nun mengungkapkan, yang pantas adalah Syarif. Bagi mereka yang memiliki keturunan dari Sayyidina Hasan bin Ali, gelar yang disandang adalah Sayyid (keturunan dari Sayyidina Husein)
"Nah saya kalau manggil 'Rif, Syarif gitu'. memang dia seorang Syarif," ujar Cak Nun.
Atas dasar itu Cak Nun beranggapan RS bukanlah seorang habib, melainkan seorang Syarif.
Pasalnya gelar habib tidak ada hubungannya sama sekali dengan dzurriyatul Rasul atau keturunan nabi.

Cak Nun kemudian menjelaskan, sebutan habib ditujukan pada mereka yang sangat kagum dan sangat mencintai Rasulullah SAW.
Asal muasal penyebutan habib berawal dari Jazirah, Arab.

Saat itu ada orang-orang dari Yaman dan negara-negara pinggiran yang datang ke Makkah atau Madinah untuk mencari Rasullullah atas dasar kecintaan dan kekaguman.
"Mereka mencari Rasullullah karena sangat kagum dan sangat mencintai rasulullah, maka mereka disebut Habib. Karena mereka seorang yang cinta kepada Rasulullah, nah itu habib yang dari sana," kata Cak Nun.

Sumber : Jessie''s Blog

Thursday, November 26, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: