Salah Kaprah Bertuhan dan Beragama

Oleh: Saiful Huda EMS

 

Tuhan itu milik semua orang, semua umat manusia, bahkan makhluk lainnya. Demikian pula dengan agama, juga milik semua orang, milik semua umat manusia, yang di Timur maupun yang di Barat, yang berkulit hitam maupun berkulit putih, yang rambutnya lurus maupun yang kriting, yang matanya biasa ataupun yang sipit.

Oleh karena Tuhan dan agama itu milik semua orang, milik semua umat manusia, tiada boleh seorangpun mengklaim sebagai pemilik tunggalnya, atau milik gerombolannya, hingga membatasi orang lain untuk membicarakan agamanya. Emang sejak kapan kita diberi hak untuk melarang orang lain membicarakan agama kita?.

 

 

 

Yang tau tentang kebenaran sejati dari Tuhan dan agama itu ya Tuhan itu sendiri, juga Rasulullah dan bukan kita. Kita hanyalah pengikut dari para mufassir yang berusaha menafsirkan kebenaran hakikat Tuhan dan agama itu. Dan karena tafsir manusia terhadap hakikat Tuhan dan agama itu tidak ada jaminan 100 % benar, maka Tuhanpun berseru pada kita untuk membuka dialog satu sama lain.

Dalam sebuah dialog diperlukan seseorang yang ahli pada bidangnya, agar kita mendapatkan pengetahuan yang lebih mendekati kebenaran. Dialog tentang Islam dan Demokrasi misalnya, akan kita dapati pengetahuan yang lebih mendekati kebenaran jika masing-masing pihak memahami apa itu Islam dan apa itu Demokrasi. Jika masing-masing pihak tidak memahami keduanya, maka bisa dipastikan kita akan mendapatkan pengetahuan yang salah tentang Islam dan Demokrasi.

Persoalan bangsa kita selama ini saya pikir ya tidak adanya pengetahuan yang berimbang antara peserta diskusi atau dialog tentang hal-hal yang dipersoalkan itu, akibatnya menjadi rancu dan tidak lagi pikiran melainkan cemoohan yang beradu. Untuk mengerti tentang Agama dan Negara, yang satu belajar pada Prof. Mahfud MD atau Prof. Jimly Asshiddiqie yang sudah dikenal kepakarannya tentang hukum negara, namun yang satunya lagi belajar pada Ustadz Felix Siauw atau Jonru, ya jelas tidak nyambung.

Untuk mengerti tentang Fiqh Islam, yang satu belajar pada Prof. Quraish Shihab, tapi yang satunya lagi belajar pada Aa Gym ya jelas bukan tandingannya. Untuk mengerti tentang Kebudayaan Islam yang satu belajar pada Gus Muwafiq, pada Kang Muhamad Sobary yang dikenal ahli tentang kebudayaan Islam, tapi yang satunya lagi belajarnya pada Ustadz Arifin Ilham, pada Gus Nur yang sebenarnya juga bukan seorang Gus, ya jelas salah tempat.

Akhirul kalam, untuk mendapatkan kebenaran yang ideal tentang Tuhan dan Agama kita tidak bisa serta merta membatasi dialog dengan siapa yang berhak atasnya dengan menggunakan kategori kelompok agama dan jenis kelaminnya juga suku bangsanya. Dan jikapun perlu ada batasan untuk mendapatkan kebenaran yang lebih ideal, saya pikir yang diperlukan adalah kemampuan orang tsb. dalam bidang yang dipelajarinya, serta sejauh mana ia memahami hal yang sedang didiskusikan.

Saatnya memposisikan orang pada tempatnya hingga tidak lagi terjadi salah kaprah dalam penafsiran berTuhan dan beragama...(SHE).

Bandung, 11 Maret 2018.

(Sumber: Facebook Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan penulis.)

Monday, March 12, 2018 - 00:00
Kategori Rubrik: