Sakralisasi simbolisasi Agama Mereduksi Nilai Sakralnya

ilustrasi
Sebagai umat beragama, kita tentu mengenal simbol-simbol agama. Simbol yang sangat identik dengan agama yang kita yakini. Simbol ini biasanya dikaitkan dengan hal yang disucikan dan dianggap memiliki nilai sangat tinggi. Terutama nilai dalam hal spiritualitas.
Tentu hal ini tidak salah, sebab, bisa menjadi perantara bagi pemeluknya untuk semakin mendekat dan merasakan getaran spiritual yang syahdu dan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang mempercayai dengan sepenuh hati.
Namun, terlampau mensakralkan hingga berharap pada perantara yang terkadang diperlakukan secara tidak sewajarnya maka justru akan dipandang kurang etis. Jika dipaksakan dan tidak sesuai dengan harapan atau kenyataannya maka akan semakin mempertegas hal itu.
Sebagai contoh. Sebagai Muslim, kita tentu sangat menghormati sakralitas Ka'bah dan Masjidil Haram. Kita percaya segala mustajabnya dengan ijin Gusti Allah.
Di sisi lain, ada perintah untuk menikah. Pernikahan bisa dilaksanakan di mana saja yang penting memenuhi persyaratannya. Dan Islam sangat mempermidah syarat maupun pelaksanaan pernikahan.
Ketika keduanya digabungkan. Berkah menikah dan sakralisasi Ka'bah, maka tentu tidak ada salahnya. Berbagai cita dan doa terhatur atas wasilah suci ini.
Namun, simbolisasi ini tidak bisa menghadang perceraian ketika tidak dibarengi dengan komitmen kuat antara suami-istri. Sekalipun menikah di depan Ka'bah.
Demikian pula simbol-simbol relijius saat ini, tetaplah wajib kita junjung tinggi. Namun, jangan sampai dijadikan tameng bagi kemunduran berfikir dan kejumudan bernalar.
Yang paling mutakhir ialah kriminalisasi tim forensik yang memulasara jenazah bukan mahromnya dengan pasal penodaan agama. Tentu tidak pernah terpikir sebelumnya akan ada kejadian yang mendadak menjadi rumit ini.
Padahal, sebenarnya, jika mengikuti panduan, jenazah karena dikhawatirkan menularkan sakit cukup ditayamumkan saja. Namun, karena merasa tidak mantap atau kurang puas bahkan cenderung meragukan kapasitas tenaga medis yang dikaitkan dengan believe system. Sehingga terjadilah berbagai perlawanan atas nama sakralisasi cara memulasara jenazah.
Padahal semua itu tidak perlu terjadi jika masing-masing kita mau mengalah dan berhati luas, mengingat kondisi darurat yang ada saat ini.
Lagi-lagi, ada saja yang memicu dengan beberapa perkara yang dianggap bagian dari kekurangan tenaga medis yang disebarkan sangat masif. Seperti, ada jenazah yang dilemparkan begitu saja ke liang lahat oleh petugas. Ada juga jenazah yang ternyata hanya dibungkus kafan selapis dengan pakaian masih utuh tanpa prosedur covid yang standar. Ada juga yang beberapa peristiwa memilukan yang sangat tidak menghormati jenazah.
Sehingga menimbulkan syak wasangka bagi setiap keluarga yang anggotanya wafat teridentifikasi covid atau suspek covid. Bedanya saja tidak pernah disosialisasikan dengan baik dan benar. Sehingga tambah membebani mayoritas para punggawa terdepan dalam penanggulangan pandemi ini.
Sudah saatnya kita berbenah pada esensi beragama itu sendiri. Bagaimana mengabdi pada Tuhan Yang Maha Esa, bukan mempertahankan ego dengan membawa simbol-simbol sakral yang justru pada saat yang sama menempatkan kesakralan di titik nadirnya.
Juga senantiasa mengupdate informasi terkini sehingga tidak mudah terprovokasi dan tidak mudah memprovokasi. Serta bisa menjadi lebih bijaksana dalam bertindak dan bersikap untuk kepentingan bangsa Indonesia tercinta ini.
Salam cinta Indonesia...
Sumber : Status Facebook Shuniyya Ruhama
Friday, February 26, 2021 - 08:30
Kategori Rubrik: