Sakit Jiwa Banyak Pengikutnya

ilustrasi
Oleh : Alim
Awalnya saya lihat beberapa orang yang kampanye ngawur terkait covid itu mengalami megalomania, sebuah gangguan kepribadian berupa merasa diri sangat penting, hebat, dan narsistik. Kadang megalomania menunjukkan gejala antikritik karena merasa dirinya benar, padahal sudah banyak orang mengingatkan kesalahannya. Antikritik tersebut bisa manifes sebagai perasaan diserang, didzalimi... kalau ada yang membicarakan pemikirannya yang keliru, mengoreksi bahkan dengan bahasa yang ilmiah dan datar, ia akan merasa diserang, dighibahi. Pada tahap lanjutnya gejala ini bisa mengarah ke paranoia.
Yang saya lihat kemarin-kemarin itu baru tahap ringan, kayaknya belum mengalami delusi yang parah.
Ternyata belakangan ada fenomena yang lebih aneh lagi. Ada yang mengaku dokter yang ngomong jauh lebih ngawur. Saya tahu saat dr.

, yang keilmuannya kredibel dan sangat penyabar itu, diserang oleh orang tersebut.

Dia pakai akun Lois lois, yang setelah dicek rupanya dokter yang STRnya sudah wassalam.
Omongannya pakai istilah-istilah biokimia: siklus kreb, asidosis laktat, interaksi obat dll, sehingga yang tidak paham jadi terpesona, bahkan jadi pengikutnya. Bukan follower dalam makna medsos saja, tapi follower dalam pemikiran juga. Para penganut plandemic, PAZ trooper, dan conspiracy theorist yang selama ini menghujat rumah sakit, menuduh rumah sakit mengobati pasien dengan biokimia berbahaya, banyak yang memujanya.
Omongannya besar, yang dengannya justru tampak gilanya: ia mengaku bahwa hanya dia satu satunya di dunia yang mampu menjelaskan covid secara ilmiah! Trump jadi pintar karena mendapat informasi darinya, dll. Omongan yang terlalu besar ini ciri2 megalomania yang nyata, bahkan sudah mengalami delusi tahap lanjut. Dulu waktu praktek koas di rumah sakit jiwa, saya punya pasien yang merasa dirinya Presiden Dunia, ada yang merasa dirinya punya kekayaan yang tidak habis untuk memberi makan seluruh dunia, padahal jelas tidak.
Akhirnya terkonfirmasi dari sebuah akun yang mengaku sebagai kakaknya. Dia mohon maaf karena adiknya memang mengalami gangguan jiwa. Apakah benar itu kakaknya, saya akan ikuti fenomena menarik ini ke episode berikutnya.
Tentu ini bukan membahas orang perorang, saya membahas fenomena medsos, sebagaimana saya bahas sebelum²nya seperti mengenai logical fallacies yang menjadi fenomena jamak di medsos dan fenomena lain.
Awalnya saya gemes, sekarang malah jadi kasian.
Sumber : Status Facebook Alim
Thursday, January 28, 2021 - 10:00
Kategori Rubrik: