Sak Karepmu Wae, Mati Urip Yo Urusanmu

ilustrasi

Oleh : Asrul Hanafi

Coba bayangin, gmana rasanya kita membenci keluarga tapi kita hidup serumah dengan mereka... Gak ada rasa hormat sama ayah, sering bertengkar atau ngelawan dengan ibu, dan gak ada rasa kasih sayang sama saudara sendiri.
Kira2 sperti itulah ketika Anda hidup di Indonesia, mencari makan dan bergantung pada tanahnya, tapi Anda membenci pemerintahan yang berkuasa.

Saat membenci pemerintah, yang Anda benci mungkin baik-baik saja, tapi siapa yang menanggung 'ketidaknyamanan' sebagai konsekuensi dari rasa benci itu sendiri?
Bagaimana bisa Anda meminum racun tapi berharap orang lain yang mati?
Apakah dengan membenci, serta merta pemerintah akan berganti sendiri..... "Hehehe tidak semudah itu Ferguso"
.
Ketidakpuasan terhadap pemerintah selalu ada, gak peduli sapa yang sedang berkuasa.
skarang ini ada yg bilang jaman Pak Soeharto adalah jaman yang paling enak, tapi kenapa dulu orang-orang kompak melengserkan?

Apakah benar jika kebaikan orang lebih kelihatan saat sudah jadi mantan?
Dulu dicerca, sekarang dipuja.
Sekarang dihina, kalau sudah jatuh baru kelihatan baiknya.

koq bisa...??
ya bisa saja karna pemerintah juga berasal dari kita-kita. Percuma mengganti total semua pejabat negara, karna masalah moral ini telah merata ke seluruh rakyat Indonesia, karakter buruk pemerintah sudah mencapai lapisan rakyat paling kecil. Ya, itu adalah KITA sebagai masyarakatnya.
Wakil rakyat yang ada sekarang ini berasal darimana? Dari KITA kan? Berarti KITA yang sebenarnya bobrok sehingga menghasilkan wakil rakyat yang bobrok juga.
Kalau melihat ada anggota dewan yang berantem dalam sidang, itu karena dia berasal dari kultur masyarakat yang anarkis.
Kalau melihat ada pejabat kita yang korup, ya karena dia berasal dari masyarakat yang feodal dan konsumtif.
Yang dulu lantang berteriak di jalan menentang korupsi, justru saat diangkat mereka melakukan hal yang dulu ditentangnya. Karena apa? Karena ia pun berasal dari masyarakat yang tidak "TERDIDIK".
.
Dulu negara kita pernah dipimpin oleh ilmuwan, tapi gak bikin rakyatnya serta merta intelek semua.
Negara kita pernah dipimpin seorang ulama, tapi gak jg membuat rakyatnya religius dan berkarakter mulia.
Negara kita juga pernah dipimpin seseorang yang bijak, tapi tetap saja rakyatnya banyak yang anarkis.
Karena masyarakat terlalu berharap bahwa pemerintah yang akan mengubah mereka, tapi mereka tetap saja mempertahankan karakter-karakter lama.
.
Cobalah tengok realita. Dengan memupuk kesadaran "semua salah pemerintah", kapan kita sendiri akan mulai berbenah?
.
Kualitas suatu negara juga bisa dilihat dari toiletnya. Jika di toilet-toilet yang mayoritas penggunanya orang dewasa pun masih ada peringatan
- "Siram kloset setelah dipakai",
- “Buanglah sampah pada tempat nya”
- “Dilarang parkir disini”

Jika hal sederhana itu saja masih diingatkan, diatur, dan ditegur,

Apalagi mau ngurus negara?

Sumber : Status Facebook Asrul Hanafi

Friday, May 29, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: