Sains VS Penerawangan

ilustrasi

Oleh : Mila Anasanti

Zaman sudah maju, tapi mulai dari Lia Eden, kerajaan ubur-ubur hingga keraton agung sejagad, tetap saja ada pengikutnya. Kalau kita tanya mereka, tentulah mereka percaya karena melihat bukti langsung, entah ‘dokumen’ kerajaan, klaim mukjizat, dll.

Pengikut kayak gini bisa bertahun-tahun baru sadar kalau ditipu. Bahkan ada yang rela membayar sampai 110 juta untuk jadi anggotanya.

Apa parameter kebenaran karena banyak yang daftar? Ada 400 lebih orang yang mendaftar Keraton Agung Sejagat sejak dideklarasikan 12 Januari 2020, belum ada 10 hari.

Kita yang rasional bisa melihat semua itu penipuan dalam waktu singkat tanpa harus memeriksa, tabayyun, mendatangi sendiri, dll dst.

Kenapa?

Karena skeptik itu perlu. Semua klaim bombastis sudah terang benderang hanya satu di antara 2: muslihat (tipuan) atau bantuin jin.

Kalau ada orang yang mengklaim bisa mengobati AIDS dalam hitungan menit, seharusnya kita melihatnya seperti fenomena di atas. Tidak jauh beda dengan pesulap jalanan atau dukun. Tidak ada diagnosis, tidak ada pengobatan.

Tidak mungkin ilmu berdasarkan sains bisa dipelajari dalam sekejab. Apalagi diklaim semua penyakit bisa sembuh dalam terapi hitungan menit.

Parameter sembuhnya apa? Merasa enakan di tempat? Ini bukan bukti namanya.

Banyak yang tidak paham apa itu EBM sekalipun sudah dijelaskan cukup gamblang di banyak postingan sebelumnya.
Jika diminta bukti, lagi-lagi bersandar pada testimoni dan ajakan untuk ikut workshop (sekalian dagang karena workshopnya bayar jutaan).

Apakah testimoni atau kesaksian bisa dijadikan dasar pijakan ilmiah? Tidak bisa, jika tidak dibuktikan lebih dahulu.

Apa anda percaya seluruh klaim cancer, diabetes, polio, bahkan AIDS semua karena syaraf terpelintir? Lantas dikemanakan itu virus HIV?

Apa bedanya dengan ramalan tarot?

Di era X-ray dan MRI bisa dimanfaatkan untuk melihat kondisi tulang dan syaraf dari penyakit di atas, tidak ada bukti semuanya karena saraf terpelintir akibat dislokasi tulang.

Ketidak-pahaman terhadap penelitian menjadikan tidak mampu membedakan mana bukti ilmiah yang dapat dipegang dan mana yang hanya sebatas 'penerawangan' tanpa bisa ditelusuri kebenarannya.

Bandingkan dengan investasi negara untuk riset HIV yang sampai lebih dari $28 miliar per tahun (383 TRILYUN RUPIAH) [1]. Tolong dibold pengeluarannya setahun!

Dan riset ini sudah dikerjakan selama 30 tahun! Tapi belum berhasil!

Sampai sekarang belum ada vaksin HIV yang layak dipasarkan, karena efektifitasnya ga bisa lebih dari 31%.

Penelitian itu jujur. Kalau gagal ya harus dilaporkan gagal, bukan memberi harapan palsu bahkan sebelum diteliti (demi keuntungan jualan workshop).

Sejak 1987, lebih dari 30 kandidat HIV vaksin diuji melibatkan lebih dari 10.000 partisipan yang dibayar. Bukan dana yang sedikit untuk membuktikan!

Sebagian besar percobaan dilakukan di AS dan Eropa, tapi juga di Brasil, Cina, Kuba, Haiti, Kenya, Peru, Thailand, Trinidad, dan Uganda. Hasilnya berhasil mengkonfirmasi keamanan vaksin HIV, tapi tidak efektivitasnya.

Saat ini, hanya ada dua kandidat vaksin yang sedang dievaluasi dalam uji coba efikasi Fase III (tahap terakhir sebelum bisa dilepas di pasaran).

Uji coba pertama dimulai tahun 1998 di AS, melibatkan 5.400 partisipan, kebanyakan laki-laki penyuka sesama jenis karena mereka rentan rerinfeksi HIV. Percobaan Tahap III dimulai tahun 1999 di Thailand, tempat yang terkenal dengan seks bebas, mendaftarkan total 2.500 partisipan [2].

Uji pada gabungan kedua vaksin ini di Thailand melibatkan 16.000 orang, sample yang lebih besar lagi.

Namun tetap saja tidak membuktikan vaksin HIV mempengaruhi jumlah virus yang beredar dalam darah partisipan yang tertular HIV (karena prilaku hidup bebas) setelah pemberian vaksin HIV. Jadi tidak bisa mencegah infeksi berkurang.

Tapi paling tidak, vaksin HIV ini menunjukkan efek pencegahan. Individu yang divaksinasi 31% lebih kecil kemungkinannya untuk terinfeksi. Infeksi terjadi pada 74 dari 8.198 orang yang menerima suntikan plasebo, tetapi hanya 51 dari 8.197 dalam kelompok yang divaksin HIV. 31% lebih sedikit.

Peneliti terpaksa mengakui bahwa vaksin ini belum layak untuk dipasarkan. "Tidak ada yang akan mempertimbangkan lisensi vaksin yang hanya 30% efektif."

"Kami ingin setidaknya 70-80%." Para peneliti harus kerja keras lagi untuk mengoptimalkan vaksin HIV untuk meningkatkan peluang perlindungan.

***

Beginilah sains bekerja. Jujur, tidak terfokus untung rugi, melaporkan dengan sangat detil, tidak bermudah-mudahan mengklaim sebelum diujikan. Dan tidak selesai hanya dengan hitungan singkat seperti tukang sulap!

1. https://www.hiv.gov/federal-response/funding/budget
2. https://www.who.int/hiv/topics/vaccines/Vaccines/en/
3. https://www.avac.org/…/resourc…/HIV_resourceTracking2017.pdf
4. https://www.nature.com/…/2009/090924/full/news.2009.947.html

Sumber : Status Facebook Mila Anasanti

Friday, January 24, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: