Sains dan Agama Tidak Kontra Produktif

ilustrasi
Oleh : Ismail Amin Pasannai
"Sains dan agama jelas bertentangan dalam soal memandang alam dan bagaimana alam itu bekerja. Tidak perlu dipertentangkan, tapi memang bertentangan. Tentu saja ada orang, banyak orang, mengatakan sains dan agama tidak bertentangan. Mereka sedang menipu diri. Kalau orang-orang itu mau jujur soal apa yang diajarkan oleh agama mereka, tentu mereka akan melihat pertentangan itu.
Hujan menurut mereka dikendalikan oleh Tuhan, sedangkan menurut sains hujan dipengaruhi oleh suhu, tekanan, dan sebagainya. Oh iya, betul, kata mereka, tapi semua itu diatur oleh Tuhan. Tapi cobalah tanya mereka, di bagian mana dalam kitab suci Tuhan bicara soal suhu, tekanan, volume, dan hukum-hukum termodinamika? Tidak ada. Tapi kenapa mereka bisa mengatakan bahwa semua itu diatur Tuhan? Apa dasarnya?.
Dasarnya sederhana. Mereka enggan meninggalkan kepercayaan yang diajarkan oleh orang tua mereka, meski di sisi lain pelajaran-pelajaran di sekolah menyangkal apa yang mereka percayai itu. Maka muncullah klaim tanpa dasar tadi, yaitu apapun yang ditemukan sains, itu semua adalah keteraturan alam yang bekerja atas kehendak Tuhan. Tuhan yang dalam kitab suci digambarkan bekerja dengan segenap kuasa, dimodifikasi menjadi Tuhan yang harus melalui serangkain proses. Ini satu pola kompromi pikiran."

Tulisan di atas ini adalah penggalan dari esai singkat berjudul, "Bisakah Orang Beragama Memisahkan Agama dan Sains?" oleh seorang penulis di akun FB Kang H Idea. Yang ternyata sangat banyak follower dan mengikuti pemikirannya. Ini tanggapan saya:
Kalau saya, dasarnya sederhana. Adalah apa logis sesuatu yang berjalan dengan begitu teratur, tidak ada yang atur? Ketika dikatakan hujan tidak akan turun kecuali dalam suhu, tekanan, dan temperatur tertentu, siapa yang mengatur ketentuan itu? apa ada dengan sendirinya? kalau mereka mengatakan, tidak ada yang mengatur, terus apa yang menyebabkan semua itu bisa bekerja melalui rangkaian mekanisme yang teratur? sehingga sains kemudian bisa mempelajari dan menetapkan hukum-hukum kausalitas atasnya, bahwa kalau tidak begini tidak akan begitu.
Ketika misalnya sains mengatakan hujan turun karena dipengaruhi temperatur dan tekanan tertentu, sementara agama mengatakan hujan turun karena Tuhan yang atur, apa itu bertentangan? dimana letak salahnya keyakinan yang menyebutkan, Tuhan menciptakan mekanisme yang memastikan alam bekerja secara teratur? apa salahnya Tuhan yang Maha Kuasa menghendaki sesuatu harus bekerja terlebih dulu melalui serangkaian proses? Tuhan Maha Kuasa menciptakan manusia sekali jadi, seperti saat menciptakan Adam, lantas ketika menciptakan manusia lainnya melalui rangkaian proses mulai dari pembentukan sperma, pembuahan sampai seterusnya, akan disebut Tuhan jadi hilang segenap kuasanya, karena harus mencipta melalui kumpulan metode saintifik?
Manusia bisa saja langsung makan buah pisang. Tapi jika ada yang memilih mengolahnya lebih dulu menjadi pisang ijo, kolak pisang sampai kripik pisang, apa lantas kemanusiaannya dipertanyakan? atau sebaliknya, apa ketika tidak mau mengolah lebih dulu dan lantas memakannya mentah-mentah, lantas disebut manusia yang belum selesai berevolusi? Untuk manusia saja, tidak turun derajat kemanusiaannya jika harus melakukan sesuatu melalui rangkaian proses, kenapa Tuhan yang Maha Kuasa malah diragukan segenap kekuasaannya ketika lagi 'ogah saja' menjadikan sesuatu sekali jadi?.
Maha Suci dan Maha Besar Tuhan yang telah menciptakan hukum kausalitas, bahwa tidak terjadi suatu peristiwa kecuali karena adanya faktor penyebab. Yang dari prinsip itu akhirnya manusia melahirkan sains. Yang harusnya dengan prinsip sains itu, Tuhan ditemukan dan terakui, bukan malah menolak Tuhan dengan alasan tidak sesuai dengan mekanisme kerja sains. Sama halnya, kelompok manusia yang melarang penggunaan akal karena takut akal akan menemukan kenyataan bahwa Tuhan sebenarnya tidak ada. Tidak masuk akal. Apakah mungkin Tuhan yang menciptakan akal, akan melarang akal mempertanyakan dan meragukan keberadaan-Nya sementara itu adalah etape terbangunnya landasan keyakinan yang kokoh? Tentu tidak. Tuhan berkali-kali mengingatkan, sekiranya akal digunakan dengan benar, kemahakuasaan Tuhan akan terakui dengan telak. Kalau akal malah menemukan hal yang lain, tentu ada yang salah dalam proses kerja berpikirnya.
Dikatakan, yang bisa dijangkau oleh sains hanyalah yang empiris, tersentuh oleh indera dan lain-lain yang bersifat materi sehingga bisa dilakukan observasi atasnya. Sehingga sains menolak jin misalnya, karena tidak bisa diobservasi. Padahal kumpulan metode santifik dirumuskan melalui rangkaian kerja akal dan penelitian. Dicetuskannya teori gravitasi oleh Isaac Newton, bukan hanya melalui pengamatan, tapi juga melalui proses berpikir. Otak memang bisa dibedah dan diteliti, tapi akal?. Anda percaya anda berakal, tapi bisa anda menjelaskan bagaimana bentuk tekstur akal anda, dimana letaknya, bagaimana rasanya dan apa warnanya? Bisakah anda melakukan observasi atas akal anda?.
Anda menolak banyak hal karena tidak empiris, tapi justru menolak yang tidak empiris tersebut dengan menggunakan akal yang tidak empiris. Dengan kata lain, anda menolak yang tidak bisa dilihat, diraba dan diobservasi dengan meyakininya tidak ada, padahal akal yang anda gunakan untuk menyebut yang anda tolak dan sebut tidak ada itu justru tidak bisa anda raba, cukup dirasa saja. Itu juga kalau anda masih merasa memiliki akal.
Karenanya, saya diantara yang tidak melihat pertentangan antara sains dan agama. Bahkan keduanya saling menguatkan. Agama dikuatkan kebenarannya oleh sains, dan sains dikuatkan bahkan perkembangannya tidak sedikit yang terinspirasi dari teks-teks agama. Bagi agamis fanatik, sains malah bagian dari agama. Kalau Kang H Idea melihat adanya pertentangan yang melalui contoh hujan dalam sains disebabkan oleh tekanan dan suhu, sementara hujan dalam agama disebabkan oleh kendali Tuhan, saya melihatnya, Hujan disebabkan oleh pengaruh suhu dan tekanan yang itu berada dalam kendali Tuhan yang telah menetapkan mekanismenya. Kitab suci menyebutnya sunnatullah. Masa menolak hujan di bawah kendali Tuhan hanya karena kitab suci tidak menjelaskan bahwa Tuhan tahu hukum termodinamika? apa tidak ada penolakan yang lebih berkelas dan lebih ilmiah?.
Manusia itu diciptakan dari tanah, kalau ada yang doyan sekali mempertentangkan sesuatu yang bisa dikompromikan, itu karena mungkin diciptakan dari tanah sengketa.
Ini saja. Bisa diterima bisa ditolak. Juga bisa saya revisi
Sumber : Status Facebook Ismail Amin Pasannai
Saturday, March 6, 2021 - 12:45
Kategori Rubrik: