Sadarlah, Bahaya Kelompok Jihadis itu Nyata!

Oleh S.H. Dewantoro

Teror bom dan penembakan  di Jakarta baru-baru ini oleh kelompok jihadis, menyadarkan kita betapa ada bahaya yang mengancam negeri ini.  Kita perlu segera terbangun dan mempertahankan negeri bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika ini dari seluruh ancaman yang masih potensial maupun telah aktual.

Penetapan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan bernegara oleh para foundhing fathers bangsa ini, tentunya bukan tanpa alasan.  Tentu perlu sebuah cara hidup berbangsa bernegara yang selaras dengan realitas Indonesia sebagai negara plural yang memiliki 250 juta penduduk, 13.466 pulau, 1500 suku dan 1027 bahasa, serta beragam agama dan kepercayaan yang dipeluk penduduknya.

Cara hidup yang menghargai keberadaan seluruh etnis, kebudayaan dan agama, adalah jaminan integrasi sebagai sebuah bangsa.  Itu pula landasan bagi tergatranya negara makmur sejahtera. 

Sebaliknya, kegagalan dalam menerapkan spirit kebhinekaan, dan keterjebakan dalam penonjolan kepentingan etnis atau kelompok, niscaya menghancurkan negeri ini.  Dalam konteks ini, penting untuk mengerti, betapa berbahayanya keberadaan kelompok-kelompok yang memperjuangkan pola bernegara yang didasarkan pada aturan sebuah agama. 

Realitanya saat ini, ada banyak kelompok yang dengan terbuka atau malu-malu, dengan kasar ataupun halus, memperjuangkan negara Islam, negara Islam, atau khilafah Islam.  Kelompok yang paling tua adalah Negara Islam Indonesia yang mengalami metamorfosa ke dalam berbagai wajah dan struktur baru, termasuk dalam bentuk pesantren seperti Pesantren Al Zaytun di Indramayu Jawa Barat.  Tetapi ide mereka tidak berubah.  Kelompok lain yang terafiliasi dengan para jihadis internasional, antara lain adalah Majelis Mujahidin Indonesia dan Jamaah Anshar wat Tauhid.  Ada juga yang berafiliasi pada gerakan Islam internasional, seperti Hizbut Tahrir.  Jangan lupakan Partai Keadilan Sejahtera.  Kelompok yang dulu bernama Gerakan Tarbiyah ini adalah kepanjangan tangan dari Ikhwanul Muslimin yang berbasis di Mesir, tapi dalam gerakannya juga banyak dipengaruhi disiplin militeristik ala Negara Islam Indonesia.

Manuver perjuangan dari kelompok-kelompok di atas berbeda-beda, tetapi tujuan utamanya sama, bagaimana menjadikan negara ini sesuai dengan visi mereka tentang kekuasaan yang mengikuti perintah Tuhan.  Dan mereka adalah tentara-tentara Tuhan, yang membantu Tuhan untuk membuat bumi ini sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sisi problematisnya adalah, pola nalar mereka kemudian menjadi demikian hitam putih.  Jika setuju dengan ide mereka dikategorikan teman, jika berbeda atau menolak, dikatakan sebagai musuh.  Dan mereka secara instinktif kemudian terdorong untuk menghabisi semua yang dianggap musuh, baik secara kasar seperti lewat pembunuhan, maupun secara halus lewat penjatuhan politik.

Manuver mereka menjadi semakin berbahaya karena tak ada ruang untuk berinstropeksi, untuk meneliti dan menguji jangan-jangan sebetulnya apa yang mereka perjuangkan bukanlah kehendak Tuhan yang sebenarnya.  Indoktrinasi yang massif dan intensif, membuat kepercayaan bahwa jalan mereka adalah jalan kebenaran yang mutlak dan pasti mendatangkan kemuliaan, benar-benar kuat.

Sudah jelas ini merupakan ancaman nyata untuk integrasi sebuah negara.  Konflik berkepanjangan niscaya muncul antara kelompok-kelompok ini dengan siapapun yang punya ide lain, termasuk ide bhinneka tunggal ika.  Ketika kelompok-kelompok ini semakin besar, maka bukan mustahil terjadi perang saudara seperti yang terjadi di negara-negara Timur Tengah (Suriah, Yaman, Irak, dan lainnya) dan Asia Selatan (Afganistan, Pakistan).

Kelompok-kelompok pengusung negara Islam, perlu dicermati sebagai sebuah ancaman potensial bagi negeri ini.  Tindakan yang paling logis dan realistis adalah memotong laju bertumbuhan mereka, jangan pernah biarkan mereka menjadi besar.  Karena karakter mereka seperti kanker, begitu membesar, niscaya menjadi penyebab kematian.  Dalam hal ini tentunya kematian sebagai sebagai sebuah bangsa.

Tindakan yang relatif ramah, damai dan bahkan cenderung toleran, hanya muncul dari kelompok-kelompok ini manakala mereka masih sedikit.  Tetapi begitu mereka membesar, apalagi punya akses pada senjata dan uang seperti ISIS, maka mereka bisa berubah menjadi mesin teror.  Ini bukan prasangka, tapi hasil pencermatan terhadap fenomena kelompok jihadis di berbagai negara yang harus mengalami tragedi gara-gara ada yang memperjuangkan negara Islam.

Sudah saatnya kita semua tegas...pemerintah tegas..rakyatpun tegas..demi keberlangsungan dan keselamatan negeri tercinta ini.

Tuesday, January 19, 2016 - 11:15
Kategori Rubrik: