Sabili

Oleh: Iqbal Aji Daryono
 

Membaca renungan sejarah hidup Mahfud Ikhwan pagi ini, saya juga jadi ingat Sabili. Satu liputan di tahun 2000 (atau 1999?) yang waktu itu luar biasa dan paling mendongkrak tiras majalah itu adalah yang berjudul "Tentara Allah Turun di Ambon".

Itu ulasan mengenai konflik--atau dalam perspektif Sabili adalah holy war--di Ambon dan Maluku Utara. Segala kisah pertempuran Muslim vs Kristen diceritakan dengan begitu bombastisnya, termasuk--ini yang paling lherr--cerita dari mulut ke mulut tentang pasukan bayangan putih yang beberapa kali membantu milisi Muslim.

Mereka diyakini sebagai para malaikat, jelas saja.

Berangkat dari Sabili, saya menghadiri deklarasi Laskar Jihad di Stadion Kridosono. Ustadz Ja'far Umar Tholib amat menggelegar siang itu. Ada satu kalimatnya yang saya ingat pasti, yaitu: "Demokrasi itu tidak ada dalam Islam!!!"

Saya sungguh terpesona.

Ujungnya, pendaftaran para "tentara Allah" dibuka oleh Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah. Mereka akan berangkat naik kapal pinisi, langsung menuju Maluku.

Berhari-hari saya gelisah. Apalagi ketika asupan dari Sabili itu dilengkapi dengan video-video dari lapangan (versi Muslim, tentu saja). Seingat saya, video itu saya dapatkan dari seorang tokoh muda Masjid Jogokaryan. Sebelumnya dia memang sempat investigasi langsung ke Ambon.

Sampai bermalam-malam berikutnya, cuma lirik nasyid satu itu yang terasa mendenging-denging di telinga: "Berkobar tinggi panaskan bumi, membakar ladang dan rumah kami, darah syuhada mengalir suburkan negeri, tiada kata lagi kami harus kembali..."

Puncaknya, saya memantapkan hati untuk mendaftar sebagai anggota batalyon pembela Tuhan. Tapi bukan lewat Ustadz Ja'far, melainkan via posko di kantor DPD Partai Bulan Bintang. Partainya Prof Yusril itu tuh. (Ini nggak ada hubungannya sama Pilkada DKI lho dul!).

Malang, kemudian ada yang mencegah saya berangkat. Lucunya, orang yang berhasil meyakinkan saya untuk membatalkan niat suci itu belakangan ketahuan sebagai anggota jaringan NII. Entah NII yang mana, yang jelas dia terbongkar mencuri uang dan barang-barang milik teman-teman, bahkan pacarnya. Untuk "biaya hijrah", sepertinya.

***
Awal tahun ini, saya membaca buku Melawat ke Timur, liputan Mas Kardono Setyorakhmadi tentang masyarakat Maluku Utara dan Ambon. Mereka--baik Muslim maupun Kristen--ternyata sudah kapok berperang. Berkali-kali provokasi datang lagi, namun mereka bertahan mencueki.

Jauh di atas itu, mereka sungguh tak habis pikir, bagaimana rentetan peristiwa mengerikan di tahun 1999-2000 itu bisa terjadi. Sebab sebelum itu, selama ratusan tahun kaum Muslim dan Kristen di sana selalu rukun-rukun saja. Bahkan dalam perlawanan menghadapi Belanda pun, bahu-membahu berlangsung antara rakyat dari kedua kelompok agama.

Awal Februari lalu, di puncak bukit Bluff Knoll, saya berkenalan dengan seorang pemuda Ambon. Dia sedang sekolah di sini. Sebagai penganut Kristen, tentu ada banyak famili dan teman atau tetangganya yang jadi korban pedang milisi Muslim. Wajarnya dia dendam kepada orang Islam. (Sama juga normalnya anak muda Muslim menyimpan bara kesumat kepada orang Kristen, karena banyaknya nyawa umat Islam yang tumpas di ujung anak panah milisi Salib.)

Namun bukan kata-kata beraroma dendam yang saya dengarkan di puncak tertinggi kedua Western Australia itu. Anak muda itu justru memberikan pandangan jernih (sekaligus sinis)nya, tentang apa yang terjadi di tanah kelahirannya 16 tahun silam. "Itu sederhana sekali Mas," katanya. "Semua terjadi karena satu skema, terkait triliunan anggaran yang dikucurkan gila-gilaan dari APBN. Anggaran apa? Ya anggaran pemulihan keamanan dong ya. Hehehe."

Saya cuma tercenung. Takut berkata apa-apa. Andai waktu itu saya jadi berangkat ke Ambon, lantas siapa yang sebenarnya paling diuntungkan oleh tebasan pedang panjang di tangan saya?

(Sumber: Facebook Iqbal Aji Daryono)

 

Saturday, April 2, 2016 - 14:15
Kategori Rubrik: