Saatnya Seperti Italy?

ilustrasi
Oleh : Alim
Di Jogja dan ditempat lain sudah sulit dapat ruang isolasi. Kemarin saja ada 3 teman yang kontak menanyakan RS yang tidak penuh. IGD saya sudah membuka selasar/lorong yang tadinya untuk keluar masuk orang, dipakai untuk pasien suspect covid dengan tanda klinis khas. Artinya untuk pasien pengawasan dan support oksigen.
Sudah sejak Desember atau bahkan November kami sulit menerima rujukan, apalagi merujuk pasien. Seperti pernah saya ceritakan sebelumnya, ada pasien yang terpaksa kita kembalikan ke Puskesmas perujuk, dan meninggal di sana.
Kondisi inj seperti Italy saat itu seperti cerita teman baik saya di sana seorang dokter anestesi dan intensivist. Konsekuensi kondisi ini apa?
Pertama, tempat yang tidak layak untuk pasien infeksius terkait keamanan dan fasilitas akan digunakan. Puskesmas yang memang tidak mampu menangani akan dipaksa menangani sebisanya, ruangan non-isolasi jadi ruang isolasi dst.
Barusan saya nonton video yang dibagikan dr.

di link ini https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10219009383201464&id=1111150043 ,

di situ dokter dengan kelelahan dan stress yang tampak dari cara bicaranya menjelaskan pada keluarga pasien bahwa RS penuh, kalau mau antri pasien akan dirawat sambil duduk di IGD, entah sampai kapan. Pasien lain yang datang duluan juga banyak yang antri di IGD.
Kedua, akan diberlakukan Triage Bencana. Maksudnya, dokter akan memilih dan memilah dalam skala prioritas, pasien-pasien yang secara medis berpotensi membaik dan kondisi yang sangat tipis harapan selamatnya. Setelah dipilah, fasilitas diberikan kepada pasien dengan berpotensi membaik, sementara yang tipis harapan.. dirawat paliatif/akhir hayat atau dipulangkan.
Ini berbeda dengan layanan rumah sakit dalam kondisi normal, pasien yang paling berat kondisinya diutamakan. Sebaliknya, dalam bencana, yang paling berat dan tipis harapannya justru prioritas belakangan karena akan menghabiskan resource, padahal resource bisa digunakan untuk pasien yang berpotensi selamat lebih besar.
Ini belum diberlakukan di RS saya. Semalam jam setengah 3an dokter jaga lapor pasien sudah 18 hari di rumah, kondisi paru2 sudah rusak berat (foto terlampir). Ya tentu ruang isolasi untuk pasien ini. Padahal ada 9 pasien lagi di selasar IGD. Jadi masih pakai sistem pilah (triage) biasa). Kalau Triage Bencana, pasien tsb justru bukan prioritas. Nyatanya, pagi jam 6 saya dilapori pasien meninggal. Berat sekali kondisinya, dan berat di perasaan kan?
Ini pilihan berat bagi dokter dan rumah sakit. Baik secara manajemen maupun secara moral. Yakin, berat sekali. Sementara di luar rumah sakit, tampaknya ada masyarakat yang menganggap ini kondisi yang baik-baik saja.
Kalau bencana alam jelas. Gempa misalnya.. semua merasakan kejadian yang sama, rusak bareng hancur bareng, repot bareng. Masalahnya Infeksi ini tidak sama dalam benak orang.
Kemungkinan kondisi seperti ini pernah saya ceritakan awal-awal dulu, potensi overloading di RS, jumlah pasien melebihi kapasitas. Gap antara fasilitas (kapasitas dan kapabilitas) dengan jumlah pasien yang njomplang ini sudah masuk dalam kriteria 'Bencana'. Bisa dilihat di link ini https://youtu.be/a6ynZEMVjqk, waktu itu saya bahas ketidak layakan konsep New Normal.
So, semoga Pemda dan Menkes segera mengambil langkah taktis dan solutif.
Sumber : Status facebook Alim
Monday, January 11, 2021 - 18:45
Kategori Rubrik: