Saatnya Mengembalikan Fungsi Masjid dan Musala

Oleh: Saefudin Achmad

 

Beberapa bulan yang lalu, ketika pandemi covid-19 menyerang Indonesia, saya termasuk orang yang mendukung himbauan pemerintah untuk beribadah di rumah saja. Shalat jama'ah dan jum'atan ditiadakan. Himbauan pemerintah ini kemudian direpson oleh pemerintah daerah dari tingkat provinsi hingga desa dengan bermacam-macam. 

Ada yang benar-benar melarang shalat berjamaah dan jum'atan di masjid. Ada yang tetap memperbolehkan dengan protokol kesehatan. Ada juga yang cuek tak peduli, biasanya di desa-desa pelosok yang jauh dari perkataan.

 

Saat itu saya mendukung himbauan ini. Memilih beribadah di rumah untuk sementara waktu tidak sampai membuat ummat Islam menjadi fasik. Saya juga berharap himbauan ini bisa benar-benar menekan penyebaran covid-19. Namun saat ini, saya ingin agar masjid dan mushola difungsikan kembali seperti biasa, tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat. Berikut alasan kenapa sekarang saatnya masjid dan mushola difungsikan kembali:

Pertama, pemerintah hendak memberlakukan new normal. New Normal adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial, dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar kesehatan yang sebelumnya tidak ada sebelum pandemi.

Jika kebijakan new normal diberlakukan, tentunya masjid dan mushola bisa difungsikan kembali seperti semula asalkan menggunakan protokol kesehatan yang ketat misalnya setiap jama'ah harus memakai masker, masjid dan mushola selalu menyediakan tempat cuci tangan, rajin disemprot disinfektan, shaf jama'ah yang berjarak, serta tidak perlu salaman antar jama'ah.

Kedua, di lapangan, kerumunan massa nyatanya tetap terjadi, bahkan jauh lebih padat dibanding di masjid atau mushola. Misalnya kerumunan masih nampak terlihat di pasar, pertokoan, mall, bahkan pinggir jalan. Mungkin karena kurang seriusnya pemerintah dalam membuat kebijakan agar selalu memakai masker dan menjaga jarak sehingga masyarakat terlihat tak peduli.

Jika kerumunan massa yang cukup padat masih sering terlihat, dan tidak ada tindakan tegas dari aparat, nampaknya kerumunan shalat berjama'ah di masjid tidak lebih berhak untuk ditindak apalagi dibubarkan. Memang selama ini saya belum pernah mendengar aparat membubarkan jama'ah di masjid. Namun banyak masjid yang terlihat sangat lengang, bahkan sampai digembok karena ta'mirnya ketakutan akan didatangi aparat.

Ketiga, memang tak bisa dipungkiri jika beberapa kasus penularan covid-19 terjadi di masjid. Itupun mungkin hanya bahasa media saja. Hanya karena ada seorang positif covid-19 baru saja shalat jama'ah di masjid, secara gampangan dibuat kesimpulan bahwa orang itu tertular di masjid. Padahal tidak ada yang bisa membuktikan secara persis tertular dimana. Selain itu, masih lebih banyak kasus penularan covid-19 terjadi di ruang publik selain masjid atau mushola. 

Mungkin ada yang membantah jika tidak ada himbauan meniadakan shalat jama'ah dan jum'atan di masjid, kasus penularan covid-19 di masjid akan semakin besar. Tidak masalah. Namun ini masih sebatas hipotesa, yang mungkin saja benar, mungkin saja keliru. Banyak sekali hipotesa yang secara logika harusnya terjadi demikian, namun di lapangan tidak mesti sesuai. 

Shalat berjama'ah di masjid memang punya potensi untuk menjadi media penyebaran covid-19, namun tidak selalu setiap shalat jama'ah di masjid pasti menjadi media penyebaran covid-19. Jumlah orang yang katanya tertular covid-19 setelah shalat jama'ah di masjid jumlahnya sangat kecil, dibanding orang-orang yang masih konsisten berjama'ah di masjid dan menggelar shalat jum'at.

Saya berkesimpulan kunci utama adalah pemberlakuan protokol kesehatan. Saya berkeyakinan, orang-orang yang katanya tertular covid-19 setelah shalat jama'ah di masjid adalah mereka yang tidak memberlakukan protokol kesehatan. Mungkin tidak pakai masker, tidak jaga jarak, bersalaman dengan jama'ah lain, serta tidak cuci tangan. 

Asalkan protokol kesehatan diberlakukan secara ketat, mengembalikan fungsi masjid dan mushola saya kira bukan sebuah masalah. Entah kenapa, setelah melihat dengan mata kepala sendiri pelaksanaan shalat id di lapangan dengan jumlah massa yang cukup besar dan disertai protokol kesehatan yang ketat, saya ingin agar masjid dan mushola difungsikan kembali.

Namun saya meminta kepada seluruh ummat Islam yang menghendaki masjid dan mushola difungsikan kembali untuk memberlakukan protokol kesehatan ketika shalat berjama'ah atau menggelar kegiatan lain di masjid. Ummat Islam harus membuktikan bahwa masjid bukanlah tempat penyebaran covid-19.

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Saturday, May 30, 2020 - 05:15
Kategori Rubrik: