Saatnya Indonesia Menang Lawan Covid 19

ilustrasi
Oleh : Ayyas
Sudah hampir satu tahun pandemi covid-19 menghantui Indonesia. Hampir seluruh wilayah di Indonesia sudah terdapat kasus positif covid-19. Hingga Kamis, 14 Januari 2021, ada 869.600 orang positif covid-19, 711.205 orang sembuh, dan 25.246 orang meninggal. Sekedar tambahan, mayoritas pasien yang meninggal adalah mereka yang sudah berusia lanjut (secara imunitas sudah lemah), serta mereka yang memiliki penyakit berat bawaan atau penyerta (kormobid).
Selain itu, tanpa meninggalkan rasa duka dan bela sungkawa terhadap orang yang meninggal karena covid-19, ternyata menurut data yang saya peroleh, sekitar dua ratus ribu lebih penduduk Indonesia meninggal setiap tahun karena rokok. Angka ini tentu sangat jauh lebih tinggi dibanding kasus kematian di Indonesia yang disebabkan covid-19. Artinya covid-19 bukan satu-satunya ancaman. Masih banyak hal lain yang ikut menyumbang kasus kematian yang jauh lebih besar.
Sudah cukup lama kita mengenal dan hidup berdampingan dengan covid-19. Setidaknya kita sudah punya pengalaman cukup untuk menghadapinya dibanding di awal pandemi. Jangan sampai kita kembali mundur ke belakang seperti di awal pandemi. Seharusnya sudah ada perubahan yang signifikan, baik dalam hal kebijakan, maupun respon masyarakat, seperti:
Rasa takut dan khawatir masyarakat seharusnya sudah menurun drastis. Asalkan mematuhi protokol kesehatan dan tetap jaga imunitas, covid-19 kemungkinan tidak akan masuk. Kalaupun masuk, kemungkinan untuk sembuh sangat besar.
Aturan rapid tes dan swab tes seharusnya sudah tidak perlu diberlakukan ketika naik kendaraan umum seperti pesawat, kereta api, bus, atau ketika memasuki daerah tertentu. Alasannya, nyaris di seluruh wilayah di Indonesia sudah ada covid-19. Buat apa takut tertular covid-19 dari luar padahal di daerahnya sendiri juga sudah banyak kasus positif? Selain itu, rapid dan swab hanya semakin menyusahkan masyarakat di tengah keterpurukan ekonomi. Rapid dan swab juga bisa menjadi ladang bisnis segelintir orang.
Seharusnya tidak ada lagi PSBB apalagi lockdown. Kalaupun ada PSBB, aturan dan mekanismenya seharusnya dibuat lebih longgar dibanding awal pandemi. Indonesia sudah terpuruk ekonominya. Jangan sampai PSBB semakin memperuruk ekonomi Indonesia.
Saya berani menulis hal tersebut karena saya sangat optimis tidak lama lagi Indonesia akan berhasil memenangkan perang melawan covid-19. Ibarat perang, amunisi kita makin lengkap didukung dengan pengalaman dan jam terbang yang tinggi. Alasan saya begitu optimis secara rinci sebagai berikut:
Budaya. Masyarakat sudah mulai membudayakan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari seperti memakai masker, jaga jarak, serta rajin cuci tangan. Mungkin belum semua membudayakan protokol kesehatan seperti ini, namun saya yakin jumlah yang sudah membudayakan jauh lebih banyak dibanding yang belum.
Pengalaman. Sudah ada 711.205 orang sembuh dari covid-19. Artinya, kita punya 711.205 kisah sukses dan pengalaman orang berperang melawan covid-19 hingga akhirnya sembuh. Sangat banyak. Pengalaman ini bisa ditiru dan diikuti oleh orang-orang yang baru terkena covid-19 atau yang belum sembuh. Selain itu, para dokter tentu makin berpengalaman dalam menyembuhkan pasien covid-19.
Vaksin covid-19. Meskipun sempat terlambat, program TPK (terapi plasma kovalesen) sudah diterapkan secara nasional. Mungkin banyak yang belum tahu apa itu TPK sehingga bisa disebut vaksin pasif. Secara sederhana, TPK adalah pemberian donor plasma darah dari pasien yang sudah sembuh dari covid-19 kepada pasien covid-19. Plasma darah orang yang sudah sembuh dari covid-19 memiliki antibodi yang kuat dan berhasil memenangkan pertempuran dengan covid-19. Analogi sederhana, pasien covid-19 diberi bantuan bala tentara (anti bodi) yang sudah menang melawan covid-19 di tubuh orang lain, untuk melawan covid-19 yang ada di tubuh pasien covid-19.
Sudah ada 711.205 pasien sembuh, dan ada 133.146 pasien belum sembuh (total kasus - total positif- total meninggal). Seharusnya Indonesia bisa surplus plasma darah. Jika semua pasien sembuh bersedia dan memenuhi syarat mendonorkan plasma darahnya, ada 711.205 plasma darah yang siap didonorkan kepada 113.146. Bahwa kemudian realita di lapangan tidak seperti itu, mungkin pelaksanannya saja yang belum sempurna. Namun seharusnya kita tetap wajib optimis.
-Vaksin aktif. Pada hari Rabu, 13 Januari 2021, Presiden Jokowi menjadi orang pertama yang menjalani vaksinasi jenis sinovac. Setelah Jokowi, beberapa artis, influencer, nakes, serta pejabat daerah juga menjalani vaksinasi. Terbukti, vaksin sinovac tidak memberikan efek samping seperti yang dikhawatirkan masyarakat. Efek yang ditimbulkan sebagaimana orang yang sudah divaksin hanya sebatas pegal-pegal sebentar serta ngantuk.
Menurut data Kementerian Kesehatan, Indonesia akan kedatangan 122 juta dosis vaksin pada Desember 2020 hingga Januari 2021. Indonesia juga memiliki opsi tambahan pemesanan 100 juta dosis vaksin yang akan tiba di Indonesia pada September 2021 hingga Maret 2022. Jumlah ini memang belum bisa mencukupi kebutuhan vaksin untuk seluruh rakyat Indonesia. Namun sudah cukup signifikan membantu melawan penyebaran covid-19.
Dari beberapa alasan di atas, saya kira sekarang saatnya Indonesia bangkit dari keterpurukan. Sekarang saatnya rakyat optimis bahwa kita bisa menang melawan covid-19. Amunisi kita sudah semakin kuat!
Sumber : Status Facebook Ayyas
Tuesday, January 19, 2021 - 09:00
Kategori Rubrik: