Saatnya Beranjak ke Eksplorasi

Oleh: Sunardian Wirodono

 
 
Apakah Jokowi bego? Kayaknya, makin kelihatan, Prabowolah yang amburadul. Segala macem ujaran kebencian, hoax, bahkan fitnah, sudah diluncaskan. Namun Jokowi makin menunjukkan kelasnya. Sementara dengan wajah pucat-pasi, jagoan toko sebelah malah plonga-plonga, ‘yang onlen-onlen itu ya’? Mangkanya, para pemujanya kemudian melaporkan ke KPU dan Bawaslu, menuding Jokowi melakukan serangan personal dalam debat capres yang memalukan itu.
 
Kalau nggak siap debat, nggak usah debat. Selama ini apa yang dilakukan terhadap Jokowi? Memangnya aturan negeri ini hanya untuk satu pihak? Pihak lain boleh menginjak-injak seenak perut gembulnya?

 

 
Bukan soal mereka orang pintar atau dungu, tetapi seperti halnya RG, mereka hanya merasa lebih pintar, namun tak siap kalah. Kalau mereka kalah, apa saja dipersoalkan. Sampai ke ballpoint atau garuk-garuk kuping. Tapi, apa sih sebenarnya di balik ini semua? Mengapa bisa buta mata dan buta hati, untuk melihat dan membandingkan yang bukan niskala? Sesuatu yang cetha wela-wela, terang-benderang? Sampai yang mengaku deket banget dengan Tuhan, bisa bermulut cablak, membolak-balik fakta. Yang kemplu dibilang tak kemplu, yang tak kemplu dibilang kemplu. Dan kemplunya, ada yang mempercayai. Dan perdebatan makin nggak mutu; Siapa yang China sebenarnya, Jokowi atau Prabowo? Siapa yang tak islami, Jokowi atau Prabowo? 

Siapa yang nasionalis dan tidak, siapa yang tegas dan tidak, akan makin ketahuan. Prabowo bukan seorang yang updating. Ia gambaran elite masa lalu, sementara dunia berubah cepat. Bukan hanya karena belum pernah, melainkan Prabowo juga punya track-record bermasalah. Tapi kenapa bisa mendapat pembelaan begitu rupa, sampai ngadain ij’tima ulama, di masjid-masjid, dengan doa ngancam tuhan? Menurut Imam Al Ghazali, di dunia ini ada pula ulama palsu. Dan menurut Gus Mus, ada yang beragama tapi kehilangan Tuhan. Mereka itulah yang biasanya punya udang di balik batu. Mendukung Prabowo, karena lawan Jokowi.

 
Kemenangan Jokowi di 2014 menjadi petaka mereka. Banyak orang kebakaran jenggot, termasuk yang tak punya jenggot. Sampai ada yang terbirit-birit ke tanah suci. Sementara Jokowi adalah gambaran dan spirit rakyat, yang sejak Demokrasi Terpimpin, Orde Baru hingga Orde Reformasi, dipinggirkan. Kini saatnya mengembalikan pada tempatnya. Tumbuh bersama, saling mengingatkan, sehingga bisa beranjak ke tingkatan eksplorasi, bukan dalam eksploitasi mulu. Progress is impossible without change, and those who cannot change their minds cannot change anything, ujar George Bernard Shaw. Apalagi cuman nggolput. Padahal mereka tahu, cara memenangkan sangatlah mudah, bagaimana membuat perolehan suara Jokowi lebih banyak. Itu saja.
 
(Sumber: Facebook Sunardian W)
Sunday, March 3, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: